Tindakan Anarkis, Dapatkah Menjadi Solusi?
Puluhan mahasiswa Rabu (20/10) menggelar aksi di berbagai wilayah di Indonesia. Aksi tersebut, dianggap sebagai bentuk kepedulian mahasiswa atas satu tahun pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono pada Kabinet Indonesia Bersatu II. Tentunya, perlu persiapan yang rumit dalam menggelar aksi besar-besaran tersebut.
Berbagai upaya, tenaga serta energi mereka kuras untuk melangsungkan kegiatan akbar tersebut. Namun, realita yang terjadi di lapangan, aksi yang telah dipersiapkan dengan matang tersebut, menimbulkan berbagai kerusuhan, yang merugikan banyak pihak dan dari berbagai elemen. Baik dari kalangan mahasiswa sendiri, lingkungan sekitarnya, maupun aparat pemerintah.
Tindakan yang banyak meresahkan masyarakat tersebut, tidak selayaknya dilakukan oleh mahasiswa yang notabene adalah pemuda yang dianggap berdedikasi tinggi oleh sebagian masyarakat, berpikiran dewasa dan juga sebagai agens of change. Sebagai penerus perjuangan negara sekaligus sebagai pengisi kemerdekaan suatu negara, tentunya banyak hal yang harus dipikirkan sebelum memulai suatu tindakan. Tindakan yang menuai banyak kerugian tentunya harus dikurangi dan bahkan dihentikan.
Kerusuhan yang terjadi di berbagai tempat di Indonesia, tentu dapat dilihat sebagai contoh kegiatan anarkis yang seharusnya dikendalikan. Banyak berbagai pihak yang telah dirugikan. Dari kalangan mahasiswa sendiri misalnya, akibat tindakan anarkis tersebut, beberapa mahasiswa menjadi korban aparat keamanan dalam mengamankan demonstrasi tersebut. Siapakah yang akan menanggung kerugian tersebut, kalau bukan dari pihak mahasiswanya sendiri. Kemudian, dilihat dari kalangan pemerintah, khususnya dari aparat keamanan dan lingkungan sekitar. Banyak petugas keamanan, dalam hal ini polisi, harus berurusan dengan hukum, terkait tindakannya yang dianggap sebagai bentuk penganiayaan terhadap mahasiswa.
Selain dilihat dari pelaku yang ada di dalamnya, ditinjau dari lingkungan sekitarpun, kerugian juga banyak ditimbulkan. Dari faktor masyarakat contohnya. Masyarakat dalam hal ini memiliki banyak peran. Selain sebagai obyek pemerintahan, masyarakat juga sebagai komentator atas segala peristiwa yang terjadi terkait pemerintahan. Mereka tidak hanya sebagai penonton dari semua kegiatan yang telah meresahkan tersebut. Masyarakat menjadi tidak dapat berpikir secara murni, terkait tindakan seperti apa yang seharusnya dilakukan, sebagai bentuk dukungan kepada pemerintah. Selain itu, dari kerusuhan yang terjadi, masyarakat tidak dapat berpikir secara matang apakah pemerintahan sekarang ini sudah tepat dalam memperlakukan masyarakat, yang pada dasarnya adalah obyek dari pemerintahan. Dan memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan.
Kekurang-matangan tersebut salah satunya dipicu oleh tindakan anarkis yang dilakukan, salah satunya adalah dari elemen mahasiswa. Kerusuhan yang terjadi, banyak melahirkan provokator yang mengurastak masyarakat, sehingga kurang mampu berpikir secara matang, apa arti di balik keadaan yang telah ditimbulkan ini.
Anarkis, dapatkah menjadi solusi?
Akan dibawa kemanakah bangsa Indonesia ini? Akan menjadi seperti apakah Indonesia ke depannya? Hal tersebut tentunya menjadi pikiran dan tantangan seluruh elemen masyarakat dan pemerintah saat ini. Kebijakan-kebijakan pemerintah, dianggap tidak berpihak kepada rakyat dan menjadikan sebagian masyarakat ’mengamuk’ dan saling unjuk rasa atas apa yang telah dirasakan selama satu tahun pemerintahan SBY-Boediono.
Kebijakan yang sering melenakan aparat pemerintah dan banyak mengundang berbagai kontroversi dalam masyarakat. Terkadang jalan pintas melalui demonstrasi menjadi pilihan mahasiswa (yang menjadi penyeru aspirasi masyarakat Indonesia). Bahkan, demonstrasi yang anarkis dianggap sebagai solusi dalam pemecahan masalah tersebut. Namun, pada kenyataannya, tindakan anarkis tersebut tidak dapat menjadi pedoman untuk dijadikan sebuah solusi akhir dalam menindaklanjuti berbagai kontroversi yang mencuat antara masyarakat dan pemerintahan.
Kerusuhan yang terjadi tidaklah menjadikan sebuah pemecahan yang benar. Kerugian yang ditimbulkan dari kerusuhan tersebut tidaklah sedikit. Serta tidak hanya berdampak dari kondisi fisik, melainkan dari kondisi psikis. Baik orang-orang yang menjadi subyek, maupun masyarakat sekitarnya. Indonesia akan semakin ‘menderita’. Akan timbul jurang pemisah antara elemen masyarakat khususnya mahasiswa dengan aparat pemerintahan khususnya dalam hal ini adalah aparat keamanan. Keadaanpun bukan menjadi kondusif, namun menjadi kacau balau. Korban terjadi di sana-sini.
Hal ini terjadi tidak hanya kesalahan dari satu pihak. Namun, dari kedua belah pihak, antara mahasiswa sebagai pelaku dan aparat sendiri. Mahasiswa yang dengan nekad melakukan tindakan anarkismenya. Hal tersebut memacu aparat keamanan atau polisi mengeluarkan senjata tajam.
Perlunya Sinergi Antara Masyarakat dan Pemerintah
Sinergi antara masyarakat dan pemerintah, mutlak dianjurkan. Mahasiswa, dalam hal ini sebagai penyeru aspirasi masyarakat, tentunya perlu berpikir ke depan. Tidaklah mudah menjadi seorang pemimpin yang membawahi beribu bahkan beratus ribu masyarakat Indonesia, yang datang dari latar belakang, budaya dan agama yang berbeda-beda pula. Dari situlah karakter masyarakat yang beragam terbentuk.
Merancang sebuah kebijakan dan menuangkannya ke dalam realita kehidupan masyarakat pun tidak dapat dilihat sebagai suatu hal yang mudah. Pertentangan terjadi di sana- sini. Perdebatan pun tentunya mewarnai setiap pengambilan keputusan. Karena itu, masyarakatpun perlu menghargai akan jerih payah seorang pemimpin dalam menjaga keutuhan dan meningkatkan kemakmuran bangsa.
Sebaliknya kepada Pemerintah Indonesia. Seorang pemimpin adalah pilihan masyarakat. Dipercaya oleh masyarakat dalam membangun keberlangsungan Negara Indonesia. Bertanggungjawab kepada masyarakat dan mengabdikan diri untuk masyarakat. Pemimpin yang adil sangat diharapkan oleh masyarakat. Mampu mengubah gaya hidup masyarakat, dari yang kekurangan, menjadi masyarakat yang tercukupi akan kebutuhannya. Serta makmur di segala bidang kehidupan.
Pemerintah yang dindalkan masyarakat sebagai perancang keutuhan Negara, yang handal, diharapkan berlaku seadil-adilnya kepada masyarakat. Memberikan hak-hak masyarakat yang seharusnya mereka terima. Serta mementingkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi dan golongan. Hal tersebutlah, yang akan memulihkan image pemerintah Indonesia saat ini, yang telah tercoreng dari adanya kerusuhan yang terjadi.
Perlunya kerjasama yang baik antara pemerintah dan seluruh elemen masyarakat, diharapkan menjadi fondasi yang kuat dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kerjasama yang baik diawali dari rasa saling percaya dan saling mendukung antara masyarakat dan pemerintah.
Impian adalah Awal menuju keberhasilan Ikhtiar adalah awal menuju gerbang kesuksesan bersama-sama pasti BISA!!! never late to try, try make me confident
Mengenai Saya
Pengikut
Assalamu'alaykum wr wb
ni die blog aku Punya...
Semoga Isi di dalamnya bermanfaat untuk teman-teman, kakak-kakak, adik-adik, embah-embah, semuanya aja....
kalau aja ada statement yg gak banget tuk dibaca, saya selaku pemilik sekaligus penulis sekaligus pengelola blog ini minta maaPh yang segeDhe gedHenya....OK!!!
Keep Smile anD Keep fIgHT...
ALWAys do the besT, ALthougH we areN't The besT...
Semoga Isi di dalamnya bermanfaat untuk teman-teman, kakak-kakak, adik-adik, embah-embah, semuanya aja....
kalau aja ada statement yg gak banget tuk dibaca, saya selaku pemilik sekaligus penulis sekaligus pengelola blog ini minta maaPh yang segeDhe gedHenya....OK!!!
Keep Smile anD Keep fIgHT...
ALWAys do the besT, ALthougH we areN't The besT...
Minggu, Oktober 24, 2010
cerita pendek "ketika sedekah dipertanyakan"
KETIKA SEDEKAH DIPERTANYAKAN
Terkadang aku merasa ikhlas, terkadang aku merasa aku nggak butuh tetapi kenapa aku sering mengeluh…
Lantukan kata-kata itu cukup mewakilkan bagaimana perasaanku. Perasaan dengan keilkhlasan yang masih menggantung. Keikhlasan yang perlu dipertanyakan. Terkadang ikhlas, tetapi kenapa sering mengeluh, sering mengungkit, sering tidak rela dan banyak lagi tentang apa yang kurasakan.
Hemmm…. Kulepaskan semua beban di hati. Akhirnya aku bisa bernafas lega. Semua itu kurasakan beberapa minggu yang lalu. Entah, sekarang apakah aku masih merasakan kegamangan akan keikhlasan. Aku sudah melupakan itu, sekarang kan kubuka lembaran baru di hidupku. Masa lalu kan kubingkai menjadi cerminan hidupku. Melihat mana yang hitam dan mana yang putih, karena itu adalah warna-warna kehidupan yang butuh perubahan.
Allahuakbar AllahuakbarLaailaa haillallah wallahuakbar Allahuakbar walillaa ilham
Merdunya lantunan takbir membawaku ke alam yang penuh dengan kemenangan. Balutan jilbab putih dan gamis hijau bergaris-garis putih mengantarkanku pada sebuah gerbang kesucian. Kulupakan semua goresan hitam di hatiku. Kulupakan bercak-bercak hitam yang sempat tertoreh di jiwaku. Kutumpahkan tetesan air mata taubat di atas sajadah yang membentang luas, seluas pintu maafku yang terdalam untuk saudara-saudara dan orang-orang terkasih.
Idul fitri benar-benar moment yang mengantarkanku untuk menggapai ridha-Nya. Meminta rahmad dan hidayah-Nya. Serta mengimpikan indah surga-Nya. Tak pernah kuimpikan sebelumnya, aku menjadi seperti ini. Kudekatkan wajahku di cermin. Kupandangi kembaranku di dalamnya. Kulihat dia tersenyum ke arahku. Memakai balutan jilbab, yang dihiasi dengan pancaran senyum, ditempeli dengan bunga-bunga takbir serta ditambah dengan accesoris tahmid.
Tak kuasa aku menahan air mata yang sedari tadi mengintipku di balik jernihnya mataku. Kutumpahkan air mata kesedihan, ketika aku teringat beberapa minggu yang lalu.
“Mbak sedekahnya…”, rintihan suara pengemis yang sering mondar mandir di depan rumahku. Ah…betapa jengkelnya diriku. Adikku tergopoh-gopoh lari ke dalam kamar.
Dubrakkk…
“Apaan sih Min” Bentakku.
Amin adikku menabrak kursi yang tepat di samping komputer.
Dengan tergesa-gesa dia membuka dompetku, criiing, beberapa koin yang bernilai seratus dan dua ratus rupiah jatuh ke lantai.
“Tak henti-hentinya pengemis itu datang ke sini, mau cari apa sih”, kataku kesal.
“Cari uang kak, kan dia pengemis” jawabnya polos. Sedetik kemudian Amin berlari meninggalkanku sambil membawa beberapa koin dari dompetku.
“ah…lama-lama uangku habis ni, gara-gara pengemis itu. Mana sih keluarganya, nggak peduli banget”, gumamku.
“Mbak, tadi pengemisnya bilang, makasih mas semoga lancar sekolahnya hehehehe, pengemisnya baik ya mbak, doain aku terus”, kata Amin yang mendekat ke arahku.
“Iya…kalau ada maunya pasti kaya gitu Min”, Jawabku masih dengan nada kesal.
“Ikhlas nggak mbak”, kata Amin sambil meninggalkanku yang memelototi buku karangan Habiburahman El Shirazi.
***
“Puasa-puasa enaknya ngapain ya, ehm…ngrumpi dosa, makan batal, tidur, sudah banyak tidur, kuliah, masih ntar siang…ah jadi bingung”, gumamku pelan.
“Amiiiin…”, Panggilku.
“Aku mau sekolah mbak”, Jawabnya.
Yah…Amin sekolah. Bapak ibu kerja. Nggak ada teman di rumah.
“berangkat…assalamualaikum”, teriak Amin.
“Wa’alaikumsalam” jawabku.
Beberapa detik kemudian terdengar langkah yang semakin lama semakin cepat. Kupastikan itu langkah Amin. Kenapa tu anak, lari-lari kembali ke rumah.
“mbak…huhh huhh….” Nafasnya tak beraturan. Kenapa ini anak.
“mbak…” katanya lagi masih dengan nafas yang kembang kempis.
“Apa…” jawabku dengan nada yang meninggi.
“Uang….” Katanya sambil berusaha membuka dompetku.
Segera kurebut dompet yang ada digenggamannya. Dan kuambilkan uang seribu rupiah untuknya.
“Ni…bukannya tadi sudah dapat uang dari ibu”,
“Bukan untuk itu”
“Pengemis lagi? Nanti pengemisnya keseringan datang ke rumah Min, sudahlah biarin saja, kemarin sudah kukasih bukan” kataku sambil mencari pengemis dari jendela kamarku.
“Buat di jalan mbak, kasihan, kata guru ngaji Amin, buat ladang amal di surga, uang Mbak Febri nggak akan habis deh gara-gara sedekah”, nasehatnya.
Aku hanya terdiam melanjutkan membaca barisan-barisan huruf yang tertata rapi ini.
“Mbak, dengerin Amin”, Rengeknya.
“Iyaaaa Amin, Mbak ngerti, ta-pi, nan-ti, pengemis-nya ja-di ke-se-ri-ngan, enakan di dia dong, biar dia kerja Min”, jawabku dengan nada lambat. Wajahku sudah menunjukkan wajah kesal. Tapi, Amin tetap saja merengek.
Segera saja kuambilkan, beberapa koin uang seratusan.
“Ini, dikasihkan yang bener”
“Makasih mbak, Mbak Febri cantiiik deh, semoga uangnya bertambah”, katanya sedikit merayu. Kemudian dia berlari keluar kamar dan kembali melanjutkan perjalanannya ke sekolah.
***
“Feb, tau nggak sih, di rumahku banyak pengemis datang. Pinter banget ya memanfaatkan moment puasa”, kata Vira kepadaku.
“Iya..bener-bener menjengkelkan, uangku lama-lama menipis Vir, mana Amin tiap hari ngambilin uang di dompetku, hemmm dasar tu anak” Jawabku sambil geleng-geleng kepala.
“Wah adikmu baik banget Feb, perlu dicontoh tu”
“Mana dia suka ngrayu dengan bawa kata-kata dari guru ngajinya lagi, apa nggak luluh aku”
“hahahahahaha, ikhlas nggak Feb?”
“idiih malah ketawa, kadang nggak, kadang ikhlas Vir”, Jawabku tanpa rasa berdosa.
***
“Mbaaak, sedekahnya…”
Kulihat ibu pengemis itu di depan rumah. Duh, dompetku semakin menipis. Kulihat tinggal uang lima ribuan tiga, untuk naik angkot besok. Gimana ini….
“Mana, lagi Amin, uang tadi pagi sisa nggak ya” Kataku dalam hati.
Terkadang terbesit rasa kasihan di dalam hatiku. Tetapi terkadang aku nggak rela uangku dimakan sama orang yang tidak mau bekerja dan hanya menggantungkan nasibnya pada telapak tangannya saja. Seharusnya aku memberikan peluang pengemis itu untuk bekerja, jadi nggak usah keluar saja ah.
Lima menit kemudian, suara pengemis itupun hilang. Seakan ditelan angin begitu saja. Kulihat Amin baru keluar dari kamarnya. Baru bangun tidur rupanya.
“Min, tadi pengemis langgananmu datang”, kataku datar.
“Mbak kasih apa?”
“Mbak nggak punya apa-apa Min, mbak biarkan saja” jawabku sambil menyalakan TV.
“Mbak Febri kok jahat, nanti uang mbak malah cepet hilang lo” Katanya sambil masuk lagi ke kamar.
“Ah…dibilangin seperti apa juga Amin belum ngerti”, kataku dalam hati.
Tiba-tiba pengemis kedua datang. Kali ini bapak bapak dengan baju robek di punggungnya.
“Min, langgananmu lagi tu” Teriakku.
Amin membawa sebungkus roti dan dibawanya keluar. Kudengarkan suaranya dari dalam. Bilang apa ya, sama pengemis itu.
“Pak, Amin nggak punya uang, ini roti Amin buat bapak saja”, Katanya.
Beberapa menit kemudian Amin masuk dan berjalan ke arahku. Sebenarnya aku bangga dengan adikku. Tetapi, kasihan dia, roti dari ibu untuk buka puasa nanti harus dia relakan untuk pengemis. Sedangkan aku, uang tertata rapi di dompet, hanya karena tidak punya uang dengan nominal yang lebih kecil saja, kuabaikan pengemis yang datang.
“ah…biarlah”, kataku dalam hati.
***
Hik…hik….hik
Suara tangisku ternyata mampu memekakkan telinga Amin.
“Mbak, sudah gede nangis” Bentaknya. Sepertinya dia meniru lagakku. Anak kecil memang peniru yang baik.
“Kenapa?”, tanya ibu.
“Uang Febri untuk bayar sekolah tadi pagi ilang bu”, kataku sambil mengusap air mata.
“hahaha, itu akibatnya mbak nggak pernah sedekah” kata Amin.
“Heh diam kamu, anak kecil nggak tahu apa-apa”, Bentakku.
“Malah marah lagi, betul kata Amin” ibuku ikut membentakku.
Dengan wajah manyun aku masuk ke kamar. Kutelan kata-kata Amin dan ibu tadi.
“Apa benar ya, uangku hilang gara-gara tidak pernah sedekah. Bukannya aku kemaren yang ngasih uang buat Amin untuk pengemis itu”, gumamku dalam hati.
***
Allahuakbar Allahuakbar….
Adzan sholat isya berkumandang. Saatnya aku, ibu, bapak dan Amin ke masjid, yang berjarak 300 meter dari rumahku. Tidak seperti biasanya, hari ini aku memakai jilbab. Biasanya jilbab hanya kukenakan kalau aku sekolah saja. Kulihat wajah ibuku yang berseri dan kelihatan cantik dengan balutan jilbab hitamnya.
“Apakah aku juga seperti itu ya, kalau memakai jilbab setiap hari”, kataku dalam hati. Tanpa sadar ternyata aku tersenyum sendiri. Dan Amin melihatku sedari tadi.
“Kenapa mbak, stress gara-gara uangnya hilang ya mbak?” tanyanya.
Aku kaget dibuatnya. Tanpa sadar ternyata si kecil Amin melihat tingkahku tadi. Aku jadi salah tingkah.
“Ah nggak” Jawabku singkat sambil berjalan di belakang bapak.
Masjid ini selalu ramai, tidak hanya di Bulan Ramadhan, di bulan lain pun tetap makmur dan jaya. Kenapa ini ibu-ibu, ramainya mereka di masjid hari ini berbeda dari biasanya. Kulihat Vira ikut nimbrung bersama ibu-ibu yang ngrumpi itu.
“Ada-ada saja ni ibu-ibu, nggak di masjid nggak di rumah nggak di warung, ngrumpi melulu”, kataku cuek.
Vira langsung menempatkan diri di sampingku.
“Ngrumpi mulu”, kataku pelan ke arahnya.
“Eh hot news”, katanya
“Mau denger nggak?” tawar Vira.
“Nanti kali, ini dimana coba, masjid Vir” kataku. Dia hanya mengangguk dengan wajah kesal.
Kultum malam ini sesuai dengan tema hidupku hari ini. Sedekah. Apakah pidato bapak khatib kali ini menjawab pertanyaanku. Dengan sedikit mengantuk aku dengarkan kata demi kata yang terlontar dari khatib itu. Sungguh luar biasa makna sedekah dan manfaat sedekah. Seketika itu terlintas di dalam benakku. Bukannya kalau kita memberikan uang kepada pengemis, itu berarti kita tidak memberikan kesempatan kepada pengemis itu untuk bekerja. Apakah kita harus melatih pengemis untuk terus membawa tangannya untuk selalu di bawah. Memang sih sedekah tidak harus untuk pengemis. Untuk yang lainnya juga. Tetapi, kupikir-pikir selama hidupku mana pernah aku bersedekah. Malahan aku berfikir, untuk jajan saja kurang apalagi sedekah.
Terbesit lagi di benakku. Apakah hilangnya uang bayaranku juga karena aku jarang sedekah ‘mungkin’, kataku dalam hati. Seperti disiram air pegunungan yang menyegarkan. Pikiranku mulai melayang. Jiwaku mulai terguncang dan hatiku bergetar kencang.
“Ya Allah ampuni hamba-Mu”, kataku dalam hati sambil menitikkan air mata yang tak tau apa sebabnya dia mendorong mataku untuk keluar.
Di dalam bayanganku terlintas pengemis tua itu. Bapak pengemis yang memang jarang ke rumah. Tetapi aku ingat, Amin memberikan roti untuknya. Dengan pakaian sobek di bagian punggungnya, pengemis itu meninggalkan rumahku dengan wajah ceria. Berbeda dengan Ibu bercaping dan berpakaian kuning lusuh yang sering datang ke rumah. Dengan wajah muram dan sedih dia meninggalkan rumahku. Dia kuabaikan beberapa jam yang lalu.
Mereka adalah ladang amal bagi kita. Tidak peduli apa niatan mereka dan apa motivasi mereka untuk mengemis, yang penting niatan kita ikhlas lillahi ta’ala.
“Ya Allah berapa saja dosa hamba selama hidup ini, Ya Allah aku telah membuat pengemis itu sedih, aku telah mengabaikannya, Astagfirullah hal’adhim, Ya Allah, ampuni hamba-Mu ini”, Di dalam keheningan hatiku, aku memohon ampun kepada Sang Maha Pengampun. Kini hatiku tergerak untuk mencari sesosok pengemis tua berpakaian kuning lusuh itu. Akan kutebus semua kesalahan-kesalahanku pada pengemis itu.
***
“Feb, mau tahu nggak hot newsnya ?”, tanya Vira kepadaku.
“Apaan sih?”, jawabku datar.
“Pengemis yang sering main ke tempatmu tadi keserempet mobil”.
Tiba-tiba hatiku bergetar. Benarkah berita yang baru saja dikatakan Vira. Atau hanya gossip belaka.
“Maksudnya, ibu yang biasanya pakai pakaian kuning itu? meninggal?”, tanyaku serius.
Vira mengangguk pelan, sambil membuka pesan di handphone-nya.
“Ya Allah ampuni hamba-Mu ini, sampaikan salam maafku yang teramat dalam untuk ibu pengemis itu. Ya Allah ampuni saya”, kataku dalam hati. Air mataku menetes perlahan. Aku tak kuasa menahan tangis. Rasa penyesalahanku semakin tinggi. Ya Allah sekali lagi ampuni hamba yang teramat banyak dosa ini.
Sesampai di rumah kuceritakan berita kematian pengemis itu ke keluargaku. Terutama kepada Amin, yang tak pernah lupa memberikan satu atau dua koin untuknya. Amin hanya mengangguk dan ternyata dia sudah mengetahui berita itu.
***
Kurasa hari ini sepi, tanpa ada yang memanggil ‘mbak sedekahnya’. Terkadang aku menengok keluar rumah, mana ibu pengemis itu. Ah ibunya sudah nggak mungkin lagi lewat depan rumah. Dan aku takkan melihat Amin lari-larian mengambil uang di dompetku.
Beberapa jam kemudian, aku kembali melihat Amin lari ke dalam kamarku.
“Amin kenapa?”, tanyaku heran.
“Mbak ada pengemis lagi, bapak-bapak yang kukasih roti kemarin”, katanya sambil mencari dompetku. Kuhampiri Amin. Dan tersenyum ke arah bocah kecil itu. Betapa baiknya dia. Berbeda sekali denganku.
“Mbak mana dompetnya”, bentaknya ke arahku. Aku tak peduli akan nadanya yang meninggi. Rasa sayangku kepada Amin semakin tebal. Segera kuambil dompet dan kuambilkan uang lima ribuan.
“Haa...serius mbak?”, tanyanya kaget ketika kuberikan selembar lima ribuan ke arahnya. Aku tersenyum malu. Aku hanya mengangguk pelan. Dengan pancaran senyum yang lebar, dia berlari ke arah bapak pengemis yang telah menunggu di depan rumahku.
Ya Allah seberapapun yang telah kuberikan semoga keikhlasan melekat di hatiku dan ridho-Mu selalu menaungi setiap langkahku. Ternyata berbagi itu sangat indah. Menyejukkan dan menenangkan hati. Apalagi bulan ini bulan Ramadhan, bulan suci penuh ampunan. Dan tak terasa bulan syawal juga tinggal menunggu hari. Semoga keindahan berbagi dan bersedekah akan selalu melekat di hatiku selamanya, walaupun di luar bulan syawal sekalipun. Amiin.
***
“Mbak ayo sholat ke lapangan, sudah ditunggu ibu tu”, Ajakan Amin membuyarkan lamunanku. Ternyata aku melamun. Melamunkan akan pengalamanku yang penuh dengan keberkahan. Ya Allah tetapkan aku pada keikhlasan dan keistiqomahan. Sekarang aku tahu Ternyata, tidak semua rezeki yang kuterima itu menjadi hakku. Itu juga hak saudara-saudaraku sesama muslim.
Segera kuikuti Amin dari belakang. Bapak dan ibu telah menungguku rupanya.
(Irma)
Terkadang aku merasa ikhlas, terkadang aku merasa aku nggak butuh tetapi kenapa aku sering mengeluh…
Lantukan kata-kata itu cukup mewakilkan bagaimana perasaanku. Perasaan dengan keilkhlasan yang masih menggantung. Keikhlasan yang perlu dipertanyakan. Terkadang ikhlas, tetapi kenapa sering mengeluh, sering mengungkit, sering tidak rela dan banyak lagi tentang apa yang kurasakan.
Hemmm…. Kulepaskan semua beban di hati. Akhirnya aku bisa bernafas lega. Semua itu kurasakan beberapa minggu yang lalu. Entah, sekarang apakah aku masih merasakan kegamangan akan keikhlasan. Aku sudah melupakan itu, sekarang kan kubuka lembaran baru di hidupku. Masa lalu kan kubingkai menjadi cerminan hidupku. Melihat mana yang hitam dan mana yang putih, karena itu adalah warna-warna kehidupan yang butuh perubahan.
Allahuakbar AllahuakbarLaailaa haillallah wallahuakbar Allahuakbar walillaa ilham
Merdunya lantunan takbir membawaku ke alam yang penuh dengan kemenangan. Balutan jilbab putih dan gamis hijau bergaris-garis putih mengantarkanku pada sebuah gerbang kesucian. Kulupakan semua goresan hitam di hatiku. Kulupakan bercak-bercak hitam yang sempat tertoreh di jiwaku. Kutumpahkan tetesan air mata taubat di atas sajadah yang membentang luas, seluas pintu maafku yang terdalam untuk saudara-saudara dan orang-orang terkasih.
Idul fitri benar-benar moment yang mengantarkanku untuk menggapai ridha-Nya. Meminta rahmad dan hidayah-Nya. Serta mengimpikan indah surga-Nya. Tak pernah kuimpikan sebelumnya, aku menjadi seperti ini. Kudekatkan wajahku di cermin. Kupandangi kembaranku di dalamnya. Kulihat dia tersenyum ke arahku. Memakai balutan jilbab, yang dihiasi dengan pancaran senyum, ditempeli dengan bunga-bunga takbir serta ditambah dengan accesoris tahmid.
Tak kuasa aku menahan air mata yang sedari tadi mengintipku di balik jernihnya mataku. Kutumpahkan air mata kesedihan, ketika aku teringat beberapa minggu yang lalu.
“Mbak sedekahnya…”, rintihan suara pengemis yang sering mondar mandir di depan rumahku. Ah…betapa jengkelnya diriku. Adikku tergopoh-gopoh lari ke dalam kamar.
Dubrakkk…
“Apaan sih Min” Bentakku.
Amin adikku menabrak kursi yang tepat di samping komputer.
Dengan tergesa-gesa dia membuka dompetku, criiing, beberapa koin yang bernilai seratus dan dua ratus rupiah jatuh ke lantai.
“Tak henti-hentinya pengemis itu datang ke sini, mau cari apa sih”, kataku kesal.
“Cari uang kak, kan dia pengemis” jawabnya polos. Sedetik kemudian Amin berlari meninggalkanku sambil membawa beberapa koin dari dompetku.
“ah…lama-lama uangku habis ni, gara-gara pengemis itu. Mana sih keluarganya, nggak peduli banget”, gumamku.
“Mbak, tadi pengemisnya bilang, makasih mas semoga lancar sekolahnya hehehehe, pengemisnya baik ya mbak, doain aku terus”, kata Amin yang mendekat ke arahku.
“Iya…kalau ada maunya pasti kaya gitu Min”, Jawabku masih dengan nada kesal.
“Ikhlas nggak mbak”, kata Amin sambil meninggalkanku yang memelototi buku karangan Habiburahman El Shirazi.
***
“Puasa-puasa enaknya ngapain ya, ehm…ngrumpi dosa, makan batal, tidur, sudah banyak tidur, kuliah, masih ntar siang…ah jadi bingung”, gumamku pelan.
“Amiiiin…”, Panggilku.
“Aku mau sekolah mbak”, Jawabnya.
Yah…Amin sekolah. Bapak ibu kerja. Nggak ada teman di rumah.
“berangkat…assalamualaikum”, teriak Amin.
“Wa’alaikumsalam” jawabku.
Beberapa detik kemudian terdengar langkah yang semakin lama semakin cepat. Kupastikan itu langkah Amin. Kenapa tu anak, lari-lari kembali ke rumah.
“mbak…huhh huhh….” Nafasnya tak beraturan. Kenapa ini anak.
“mbak…” katanya lagi masih dengan nafas yang kembang kempis.
“Apa…” jawabku dengan nada yang meninggi.
“Uang….” Katanya sambil berusaha membuka dompetku.
Segera kurebut dompet yang ada digenggamannya. Dan kuambilkan uang seribu rupiah untuknya.
“Ni…bukannya tadi sudah dapat uang dari ibu”,
“Bukan untuk itu”
“Pengemis lagi? Nanti pengemisnya keseringan datang ke rumah Min, sudahlah biarin saja, kemarin sudah kukasih bukan” kataku sambil mencari pengemis dari jendela kamarku.
“Buat di jalan mbak, kasihan, kata guru ngaji Amin, buat ladang amal di surga, uang Mbak Febri nggak akan habis deh gara-gara sedekah”, nasehatnya.
Aku hanya terdiam melanjutkan membaca barisan-barisan huruf yang tertata rapi ini.
“Mbak, dengerin Amin”, Rengeknya.
“Iyaaaa Amin, Mbak ngerti, ta-pi, nan-ti, pengemis-nya ja-di ke-se-ri-ngan, enakan di dia dong, biar dia kerja Min”, jawabku dengan nada lambat. Wajahku sudah menunjukkan wajah kesal. Tapi, Amin tetap saja merengek.
Segera saja kuambilkan, beberapa koin uang seratusan.
“Ini, dikasihkan yang bener”
“Makasih mbak, Mbak Febri cantiiik deh, semoga uangnya bertambah”, katanya sedikit merayu. Kemudian dia berlari keluar kamar dan kembali melanjutkan perjalanannya ke sekolah.
***
“Feb, tau nggak sih, di rumahku banyak pengemis datang. Pinter banget ya memanfaatkan moment puasa”, kata Vira kepadaku.
“Iya..bener-bener menjengkelkan, uangku lama-lama menipis Vir, mana Amin tiap hari ngambilin uang di dompetku, hemmm dasar tu anak” Jawabku sambil geleng-geleng kepala.
“Wah adikmu baik banget Feb, perlu dicontoh tu”
“Mana dia suka ngrayu dengan bawa kata-kata dari guru ngajinya lagi, apa nggak luluh aku”
“hahahahahaha, ikhlas nggak Feb?”
“idiih malah ketawa, kadang nggak, kadang ikhlas Vir”, Jawabku tanpa rasa berdosa.
***
“Mbaaak, sedekahnya…”
Kulihat ibu pengemis itu di depan rumah. Duh, dompetku semakin menipis. Kulihat tinggal uang lima ribuan tiga, untuk naik angkot besok. Gimana ini….
“Mana, lagi Amin, uang tadi pagi sisa nggak ya” Kataku dalam hati.
Terkadang terbesit rasa kasihan di dalam hatiku. Tetapi terkadang aku nggak rela uangku dimakan sama orang yang tidak mau bekerja dan hanya menggantungkan nasibnya pada telapak tangannya saja. Seharusnya aku memberikan peluang pengemis itu untuk bekerja, jadi nggak usah keluar saja ah.
Lima menit kemudian, suara pengemis itupun hilang. Seakan ditelan angin begitu saja. Kulihat Amin baru keluar dari kamarnya. Baru bangun tidur rupanya.
“Min, tadi pengemis langgananmu datang”, kataku datar.
“Mbak kasih apa?”
“Mbak nggak punya apa-apa Min, mbak biarkan saja” jawabku sambil menyalakan TV.
“Mbak Febri kok jahat, nanti uang mbak malah cepet hilang lo” Katanya sambil masuk lagi ke kamar.
“Ah…dibilangin seperti apa juga Amin belum ngerti”, kataku dalam hati.
Tiba-tiba pengemis kedua datang. Kali ini bapak bapak dengan baju robek di punggungnya.
“Min, langgananmu lagi tu” Teriakku.
Amin membawa sebungkus roti dan dibawanya keluar. Kudengarkan suaranya dari dalam. Bilang apa ya, sama pengemis itu.
“Pak, Amin nggak punya uang, ini roti Amin buat bapak saja”, Katanya.
Beberapa menit kemudian Amin masuk dan berjalan ke arahku. Sebenarnya aku bangga dengan adikku. Tetapi, kasihan dia, roti dari ibu untuk buka puasa nanti harus dia relakan untuk pengemis. Sedangkan aku, uang tertata rapi di dompet, hanya karena tidak punya uang dengan nominal yang lebih kecil saja, kuabaikan pengemis yang datang.
“ah…biarlah”, kataku dalam hati.
***
Hik…hik….hik
Suara tangisku ternyata mampu memekakkan telinga Amin.
“Mbak, sudah gede nangis” Bentaknya. Sepertinya dia meniru lagakku. Anak kecil memang peniru yang baik.
“Kenapa?”, tanya ibu.
“Uang Febri untuk bayar sekolah tadi pagi ilang bu”, kataku sambil mengusap air mata.
“hahaha, itu akibatnya mbak nggak pernah sedekah” kata Amin.
“Heh diam kamu, anak kecil nggak tahu apa-apa”, Bentakku.
“Malah marah lagi, betul kata Amin” ibuku ikut membentakku.
Dengan wajah manyun aku masuk ke kamar. Kutelan kata-kata Amin dan ibu tadi.
“Apa benar ya, uangku hilang gara-gara tidak pernah sedekah. Bukannya aku kemaren yang ngasih uang buat Amin untuk pengemis itu”, gumamku dalam hati.
***
Allahuakbar Allahuakbar….
Adzan sholat isya berkumandang. Saatnya aku, ibu, bapak dan Amin ke masjid, yang berjarak 300 meter dari rumahku. Tidak seperti biasanya, hari ini aku memakai jilbab. Biasanya jilbab hanya kukenakan kalau aku sekolah saja. Kulihat wajah ibuku yang berseri dan kelihatan cantik dengan balutan jilbab hitamnya.
“Apakah aku juga seperti itu ya, kalau memakai jilbab setiap hari”, kataku dalam hati. Tanpa sadar ternyata aku tersenyum sendiri. Dan Amin melihatku sedari tadi.
“Kenapa mbak, stress gara-gara uangnya hilang ya mbak?” tanyanya.
Aku kaget dibuatnya. Tanpa sadar ternyata si kecil Amin melihat tingkahku tadi. Aku jadi salah tingkah.
“Ah nggak” Jawabku singkat sambil berjalan di belakang bapak.
Masjid ini selalu ramai, tidak hanya di Bulan Ramadhan, di bulan lain pun tetap makmur dan jaya. Kenapa ini ibu-ibu, ramainya mereka di masjid hari ini berbeda dari biasanya. Kulihat Vira ikut nimbrung bersama ibu-ibu yang ngrumpi itu.
“Ada-ada saja ni ibu-ibu, nggak di masjid nggak di rumah nggak di warung, ngrumpi melulu”, kataku cuek.
Vira langsung menempatkan diri di sampingku.
“Ngrumpi mulu”, kataku pelan ke arahnya.
“Eh hot news”, katanya
“Mau denger nggak?” tawar Vira.
“Nanti kali, ini dimana coba, masjid Vir” kataku. Dia hanya mengangguk dengan wajah kesal.
Kultum malam ini sesuai dengan tema hidupku hari ini. Sedekah. Apakah pidato bapak khatib kali ini menjawab pertanyaanku. Dengan sedikit mengantuk aku dengarkan kata demi kata yang terlontar dari khatib itu. Sungguh luar biasa makna sedekah dan manfaat sedekah. Seketika itu terlintas di dalam benakku. Bukannya kalau kita memberikan uang kepada pengemis, itu berarti kita tidak memberikan kesempatan kepada pengemis itu untuk bekerja. Apakah kita harus melatih pengemis untuk terus membawa tangannya untuk selalu di bawah. Memang sih sedekah tidak harus untuk pengemis. Untuk yang lainnya juga. Tetapi, kupikir-pikir selama hidupku mana pernah aku bersedekah. Malahan aku berfikir, untuk jajan saja kurang apalagi sedekah.
Terbesit lagi di benakku. Apakah hilangnya uang bayaranku juga karena aku jarang sedekah ‘mungkin’, kataku dalam hati. Seperti disiram air pegunungan yang menyegarkan. Pikiranku mulai melayang. Jiwaku mulai terguncang dan hatiku bergetar kencang.
“Ya Allah ampuni hamba-Mu”, kataku dalam hati sambil menitikkan air mata yang tak tau apa sebabnya dia mendorong mataku untuk keluar.
Di dalam bayanganku terlintas pengemis tua itu. Bapak pengemis yang memang jarang ke rumah. Tetapi aku ingat, Amin memberikan roti untuknya. Dengan pakaian sobek di bagian punggungnya, pengemis itu meninggalkan rumahku dengan wajah ceria. Berbeda dengan Ibu bercaping dan berpakaian kuning lusuh yang sering datang ke rumah. Dengan wajah muram dan sedih dia meninggalkan rumahku. Dia kuabaikan beberapa jam yang lalu.
Mereka adalah ladang amal bagi kita. Tidak peduli apa niatan mereka dan apa motivasi mereka untuk mengemis, yang penting niatan kita ikhlas lillahi ta’ala.
“Ya Allah berapa saja dosa hamba selama hidup ini, Ya Allah aku telah membuat pengemis itu sedih, aku telah mengabaikannya, Astagfirullah hal’adhim, Ya Allah, ampuni hamba-Mu ini”, Di dalam keheningan hatiku, aku memohon ampun kepada Sang Maha Pengampun. Kini hatiku tergerak untuk mencari sesosok pengemis tua berpakaian kuning lusuh itu. Akan kutebus semua kesalahan-kesalahanku pada pengemis itu.
***
“Feb, mau tahu nggak hot newsnya ?”, tanya Vira kepadaku.
“Apaan sih?”, jawabku datar.
“Pengemis yang sering main ke tempatmu tadi keserempet mobil”.
Tiba-tiba hatiku bergetar. Benarkah berita yang baru saja dikatakan Vira. Atau hanya gossip belaka.
“Maksudnya, ibu yang biasanya pakai pakaian kuning itu? meninggal?”, tanyaku serius.
Vira mengangguk pelan, sambil membuka pesan di handphone-nya.
“Ya Allah ampuni hamba-Mu ini, sampaikan salam maafku yang teramat dalam untuk ibu pengemis itu. Ya Allah ampuni saya”, kataku dalam hati. Air mataku menetes perlahan. Aku tak kuasa menahan tangis. Rasa penyesalahanku semakin tinggi. Ya Allah sekali lagi ampuni hamba yang teramat banyak dosa ini.
Sesampai di rumah kuceritakan berita kematian pengemis itu ke keluargaku. Terutama kepada Amin, yang tak pernah lupa memberikan satu atau dua koin untuknya. Amin hanya mengangguk dan ternyata dia sudah mengetahui berita itu.
***
Kurasa hari ini sepi, tanpa ada yang memanggil ‘mbak sedekahnya’. Terkadang aku menengok keluar rumah, mana ibu pengemis itu. Ah ibunya sudah nggak mungkin lagi lewat depan rumah. Dan aku takkan melihat Amin lari-larian mengambil uang di dompetku.
Beberapa jam kemudian, aku kembali melihat Amin lari ke dalam kamarku.
“Amin kenapa?”, tanyaku heran.
“Mbak ada pengemis lagi, bapak-bapak yang kukasih roti kemarin”, katanya sambil mencari dompetku. Kuhampiri Amin. Dan tersenyum ke arah bocah kecil itu. Betapa baiknya dia. Berbeda sekali denganku.
“Mbak mana dompetnya”, bentaknya ke arahku. Aku tak peduli akan nadanya yang meninggi. Rasa sayangku kepada Amin semakin tebal. Segera kuambil dompet dan kuambilkan uang lima ribuan.
“Haa...serius mbak?”, tanyanya kaget ketika kuberikan selembar lima ribuan ke arahnya. Aku tersenyum malu. Aku hanya mengangguk pelan. Dengan pancaran senyum yang lebar, dia berlari ke arah bapak pengemis yang telah menunggu di depan rumahku.
Ya Allah seberapapun yang telah kuberikan semoga keikhlasan melekat di hatiku dan ridho-Mu selalu menaungi setiap langkahku. Ternyata berbagi itu sangat indah. Menyejukkan dan menenangkan hati. Apalagi bulan ini bulan Ramadhan, bulan suci penuh ampunan. Dan tak terasa bulan syawal juga tinggal menunggu hari. Semoga keindahan berbagi dan bersedekah akan selalu melekat di hatiku selamanya, walaupun di luar bulan syawal sekalipun. Amiin.
***
“Mbak ayo sholat ke lapangan, sudah ditunggu ibu tu”, Ajakan Amin membuyarkan lamunanku. Ternyata aku melamun. Melamunkan akan pengalamanku yang penuh dengan keberkahan. Ya Allah tetapkan aku pada keikhlasan dan keistiqomahan. Sekarang aku tahu Ternyata, tidak semua rezeki yang kuterima itu menjadi hakku. Itu juga hak saudara-saudaraku sesama muslim.
Segera kuikuti Amin dari belakang. Bapak dan ibu telah menungguku rupanya.
(Irma)
cerita pendek
KETIKA SEDEKAH DIPERTANYAKAN
Terkadang aku merasa ikhlas, terkadang aku merasa aku nggak butuh tetapi kenapa aku sering mengeluh…
Lantukan kata-kata itu cukup mewakilkan bagaimana perasaanku. Perasaan dengan keilkhlasan yang masih menggantung. Keikhlasan yang perlu dipertanyakan. Terkadang ikhlas, tetapi kenapa sering mengeluh, sering mengungkit, sering tidak rela dan banyak lagi tentang apa yang kurasakan.
Hemmm…. Kulepaskan semua beban di hati. Akhirnya aku bisa bernafas lega. Semua itu kurasakan beberapa minggu yang lalu. Entah, sekarang apakah aku masih merasakan kegamangan akan keikhlasan. Aku sudah melupakan itu, sekarang kan kubuka lembaran baru di hidupku. Masa lalu kan kubingkai menjadi cerminan hidupku. Melihat mana yang hitam dan mana yang putih, karena itu adalah warna-warna kehidupan yang butuh perubahan.
Allahuakbar AllahuakbarLaailaa haillallah wallahuakbar Allahuakbar walillaa ilham
Merdunya lantunan takbir membawaku ke alam yang penuh dengan kemenangan. Balutan jilbab putih dan gamis hijau bergaris-garis putih mengantarkanku pada sebuah gerbang kesucian. Kulupakan semua goresan hitam di hatiku. Kulupakan bercak-bercak hitam yang sempat tertoreh di jiwaku. Kutumpahkan tetesan air mata taubat di atas sajadah yang membentang luas, seluas pintu maafku yang terdalam untuk saudara-saudara dan orang-orang terkasih.
Idul fitri benar-benar moment yang mengantarkanku untuk menggapai ridha-Nya. Meminta rahmad dan hidayah-Nya. Serta mengimpikan indah surga-Nya. Tak pernah kuimpikan sebelumnya, aku menjadi seperti ini. Kudekatkan wajahku di cermin. Kupandangi kembaranku di dalamnya. Kulihat dia tersenyum ke arahku. Memakai balutan jilbab, yang dihiasi dengan pancaran senyum, ditempeli dengan bunga-bunga takbir serta ditambah dengan accesoris tahmid.
Tak kuasa aku menahan air mata yang sedari tadi mengintipku di balik jernihnya mataku. Kutumpahkan air mata kesedihan, ketika aku teringat beberapa minggu yang lalu.
“Mbak sedekahnya…”, rintihan suara pengemis yang sering mondar mandir di depan rumahku. Ah…betapa jengkelnya diriku. Adikku tergopoh-gopoh lari ke dalam kamar.
Dubrakkk…
“Apaan sih Min” Bentakku.
Amin adikku menabrak kursi yang tepat di samping komputer.
Dengan tergesa-gesa dia membuka dompetku, criiing, beberapa koin yang bernilai seratus dan dua ratus rupiah jatuh ke lantai.
“Tak henti-hentinya pengemis itu datang ke sini, mau cari apa sih”, kataku kesal.
“Cari uang kak, kan dia pengemis” jawabnya polos. Sedetik kemudian Amin berlari meninggalkanku sambil membawa beberapa koin dari dompetku.
“ah…lama-lama uangku habis ni, gara-gara pengemis itu. Mana sih keluarganya, nggak peduli banget”, gumamku.
“Mbak, tadi pengemisnya bilang, makasih mas semoga lancar sekolahnya hehehehe, pengemisnya baik ya mbak, doain aku terus”, kata Amin yang mendekat ke arahku.
“Iya…kalau ada maunya pasti kaya gitu Min”, Jawabku masih dengan nada kesal.
“Ikhlas nggak mbak”, kata Amin sambil meninggalkanku yang memelototi buku karangan Habiburahman El Shirazi.
***
“Puasa-puasa enaknya ngapain ya, ehm…ngrumpi dosa, makan batal, tidur, sudah banyak tidur, kuliah, masih ntar siang…ah jadi bingung”, gumamku pelan.
“Amiiiin…”, Panggilku.
“Aku mau sekolah mbak”, Jawabnya.
Yah…Amin sekolah. Bapak ibu kerja. Nggak ada teman di rumah.
“berangkat…assalamualaikum”, teriak Amin.
“Wa’alaikumsalam” jawabku.
Beberapa detik kemudian terdengar langkah yang semakin lama semakin cepat. Kupastikan itu langkah Amin. Kenapa tu anak, lari-lari kembali ke rumah.
“mbak…huhh huhh….” Nafasnya tak beraturan. Kenapa ini anak.
“mbak…” katanya lagi masih dengan nafas yang kembang kempis.
“Apa…” jawabku dengan nada yang meninggi.
“Uang….” Katanya sambil berusaha membuka dompetku.
Segera kurebut dompet yang ada digenggamannya. Dan kuambilkan uang seribu rupiah untuknya.
“Ni…bukannya tadi sudah dapat uang dari ibu”,
“Bukan untuk itu”
“Pengemis lagi? Nanti pengemisnya keseringan datang ke rumah Min, sudahlah biarin saja, kemarin sudah kukasih bukan” kataku sambil mencari pengemis dari jendela kamarku.
“Buat di jalan mbak, kasihan, kata guru ngaji Amin, buat ladang amal di surga, uang Mbak Febri nggak akan habis deh gara-gara sedekah”, nasehatnya.
Aku hanya terdiam melanjutkan membaca barisan-barisan huruf yang tertata rapi ini.
“Mbak, dengerin Amin”, Rengeknya.
“Iyaaaa Amin, Mbak ngerti, ta-pi, nan-ti, pengemis-nya ja-di ke-se-ri-ngan, enakan di dia dong, biar dia kerja Min”, jawabku dengan nada lambat. Wajahku sudah menunjukkan wajah kesal. Tapi, Amin tetap saja merengek.
Segera saja kuambilkan, beberapa koin uang seratusan.
“Ini, dikasihkan yang bener”
“Makasih mbak, Mbak Febri cantiiik deh, semoga uangnya bertambah”, katanya sedikit merayu. Kemudian dia berlari keluar kamar dan kembali melanjutkan perjalanannya ke sekolah.
***
“Feb, tau nggak sih, di rumahku banyak pengemis datang. Pinter banget ya memanfaatkan moment puasa”, kata Vira kepadaku.
“Iya..bener-bener menjengkelkan, uangku lama-lama menipis Vir, mana Amin tiap hari ngambilin uang di dompetku, hemmm dasar tu anak” Jawabku sambil geleng-geleng kepala.
“Wah adikmu baik banget Feb, perlu dicontoh tu”
“Mana dia suka ngrayu dengan bawa kata-kata dari guru ngajinya lagi, apa nggak luluh aku”
“hahahahahaha, ikhlas nggak Feb?”
“idiih malah ketawa, kadang nggak, kadang ikhlas Vir”, Jawabku tanpa rasa berdosa.
***
“Mbaaak, sedekahnya…”
Kulihat ibu pengemis itu di depan rumah. Duh, dompetku semakin menipis. Kulihat tinggal uang lima ribuan tiga, untuk naik angkot besok. Gimana ini….
“Mana, lagi Amin, uang tadi pagi sisa nggak ya” Kataku dalam hati.
Terkadang terbesit rasa kasihan di dalam hatiku. Tetapi terkadang aku nggak rela uangku dimakan sama orang yang tidak mau bekerja dan hanya menggantungkan nasibnya pada telapak tangannya saja. Seharusnya aku memberikan peluang pengemis itu untuk bekerja, jadi nggak usah keluar saja ah.
Lima menit kemudian, suara pengemis itupun hilang. Seakan ditelan angin begitu saja. Kulihat Amin baru keluar dari kamarnya. Baru bangun tidur rupanya.
“Min, tadi pengemis langgananmu datang”, kataku datar.
“Mbak kasih apa?”
“Mbak nggak punya apa-apa Min, mbak biarkan saja” jawabku sambil menyalakan TV.
“Mbak Febri kok jahat, nanti uang mbak malah cepet hilang lo” Katanya sambil masuk lagi ke kamar.
“Ah…dibilangin seperti apa juga Amin belum ngerti”, kataku dalam hati.
Tiba-tiba pengemis kedua datang. Kali ini bapak bapak dengan baju robek di punggungnya.
“Min, langgananmu lagi tu” Teriakku.
Amin membawa sebungkus roti dan dibawanya keluar. Kudengarkan suaranya dari dalam. Bilang apa ya, sama pengemis itu.
“Pak, Amin nggak punya uang, ini roti Amin buat bapak saja”, Katanya.
Beberapa menit kemudian Amin masuk dan berjalan ke arahku. Sebenarnya aku bangga dengan adikku. Tetapi, kasihan dia, roti dari ibu untuk buka puasa nanti harus dia relakan untuk pengemis. Sedangkan aku, uang tertata rapi di dompet, hanya karena tidak punya uang dengan nominal yang lebih kecil saja, kuabaikan pengemis yang datang.
“ah…biarlah”, kataku dalam hati.
***
Hik…hik….hik
Suara tangisku ternyata mampu memekakkan telinga Amin.
“Mbak, sudah gede nangis” Bentaknya. Sepertinya dia meniru lagakku. Anak kecil memang peniru yang baik.
“Kenapa?”, tanya ibu.
“Uang Febri untuk bayar sekolah tadi pagi ilang bu”, kataku sambil mengusap air mata.
“hahaha, itu akibatnya mbak nggak pernah sedekah” kata Amin.
“Heh diam kamu, anak kecil nggak tahu apa-apa”, Bentakku.
“Malah marah lagi, betul kata Amin” ibuku ikut membentakku.
Dengan wajah manyun aku masuk ke kamar. Kutelan kata-kata Amin dan ibu tadi.
“Apa benar ya, uangku hilang gara-gara tidak pernah sedekah. Bukannya aku kemaren yang ngasih uang buat Amin untuk pengemis itu”, gumamku dalam hati.
***
Allahuakbar Allahuakbar….
Adzan sholat isya berkumandang. Saatnya aku, ibu, bapak dan Amin ke masjid, yang berjarak 300 meter dari rumahku. Tidak seperti biasanya, hari ini aku memakai jilbab. Biasanya jilbab hanya kukenakan kalau aku sekolah saja. Kulihat wajah ibuku yang berseri dan kelihatan cantik dengan balutan jilbab hitamnya.
“Apakah aku juga seperti itu ya, kalau memakai jilbab setiap hari”, kataku dalam hati. Tanpa sadar ternyata aku tersenyum sendiri. Dan Amin melihatku sedari tadi.
“Kenapa mbak, stress gara-gara uangnya hilang ya mbak?” tanyanya.
Aku kaget dibuatnya. Tanpa sadar ternyata si kecil Amin melihat tingkahku tadi. Aku jadi salah tingkah.
“Ah nggak” Jawabku singkat sambil berjalan di belakang bapak.
Masjid ini selalu ramai, tidak hanya di Bulan Ramadhan, di bulan lain pun tetap makmur dan jaya. Kenapa ini ibu-ibu, ramainya mereka di masjid hari ini berbeda dari biasanya. Kulihat Vira ikut nimbrung bersama ibu-ibu yang ngrumpi itu.
“Ada-ada saja ni ibu-ibu, nggak di masjid nggak di rumah nggak di warung, ngrumpi melulu”, kataku cuek.
Vira langsung menempatkan diri di sampingku.
“Ngrumpi mulu”, kataku pelan ke arahnya.
“Eh hot news”, katanya
“Mau denger nggak?” tawar Vira.
“Nanti kali, ini dimana coba, masjid Vir” kataku. Dia hanya mengangguk dengan wajah kesal.
Kultum malam ini sesuai dengan tema hidupku hari ini. Sedekah. Apakah pidato bapak khatib kali ini menjawab pertanyaanku. Dengan sedikit mengantuk aku dengarkan kata demi kata yang terlontar dari khatib itu. Sungguh luar biasa makna sedekah dan manfaat sedekah. Seketika itu terlintas di dalam benakku. Bukannya kalau kita memberikan uang kepada pengemis, itu berarti kita tidak memberikan kesempatan kepada pengemis itu untuk bekerja. Apakah kita harus melatih pengemis untuk terus membawa tangannya untuk selalu di bawah. Memang sih sedekah tidak harus untuk pengemis. Untuk yang lainnya juga. Tetapi, kupikir-pikir selama hidupku mana pernah aku bersedekah. Malahan aku berfikir, untuk jajan saja kurang apalagi sedekah.
Terbesit lagi di benakku. Apakah hilangnya uang bayaranku juga karena aku jarang sedekah ‘mungkin’, kataku dalam hati. Seperti disiram air pegunungan yang menyegarkan. Pikiranku mulai melayang. Jiwaku mulai terguncang dan hatiku bergetar kencang.
“Ya Allah ampuni hamba-Mu”, kataku dalam hati sambil menitikkan air mata yang tak tau apa sebabnya dia mendorong mataku untuk keluar.
Di dalam bayanganku terlintas pengemis tua itu. Bapak pengemis yang memang jarang ke rumah. Tetapi aku ingat, Amin memberikan roti untuknya. Dengan pakaian sobek di bagian punggungnya, pengemis itu meninggalkan rumahku dengan wajah ceria. Berbeda dengan Ibu bercaping dan berpakaian kuning lusuh yang sering datang ke rumah. Dengan wajah muram dan sedih dia meninggalkan rumahku. Dia kuabaikan beberapa jam yang lalu.
Mereka adalah ladang amal bagi kita. Tidak peduli apa niatan mereka dan apa motivasi mereka untuk mengemis, yang penting niatan kita ikhlas lillahi ta’ala.
“Ya Allah berapa saja dosa hamba selama hidup ini, Ya Allah aku telah membuat pengemis itu sedih, aku telah mengabaikannya, Astagfirullah hal’adhim, Ya Allah, ampuni hamba-Mu ini”, Di dalam keheningan hatiku, aku memohon ampun kepada Sang Maha Pengampun. Kini hatiku tergerak untuk mencari sesosok pengemis tua berpakaian kuning lusuh itu. Akan kutebus semua kesalahan-kesalahanku pada pengemis itu.
***
“Feb, mau tahu nggak hot newsnya ?”, tanya Vira kepadaku.
“Apaan sih?”, jawabku datar.
“Pengemis yang sering main ke tempatmu tadi keserempet mobil”.
Tiba-tiba hatiku bergetar. Benarkah berita yang baru saja dikatakan Vira. Atau hanya gossip belaka.
“Maksudnya, ibu yang biasanya pakai pakaian kuning itu? meninggal?”, tanyaku serius.
Vira mengangguk pelan, sambil membuka pesan di handphone-nya.
“Ya Allah ampuni hamba-Mu ini, sampaikan salam maafku yang teramat dalam untuk ibu pengemis itu. Ya Allah ampuni saya”, kataku dalam hati. Air mataku menetes perlahan. Aku tak kuasa menahan tangis. Rasa penyesalahanku semakin tinggi. Ya Allah sekali lagi ampuni hamba yang teramat banyak dosa ini.
Sesampai di rumah kuceritakan berita kematian pengemis itu ke keluargaku. Terutama kepada Amin, yang tak pernah lupa memberikan satu atau dua koin untuknya. Amin hanya mengangguk dan ternyata dia sudah mengetahui berita itu.
***
Kurasa hari ini sepi, tanpa ada yang memanggil ‘mbak sedekahnya’. Terkadang aku menengok keluar rumah, mana ibu pengemis itu. Ah ibunya sudah nggak mungkin lagi lewat depan rumah. Dan aku takkan melihat Amin lari-larian mengambil uang di dompetku.
Beberapa jam kemudian, aku kembali melihat Amin lari ke dalam kamarku.
“Amin kenapa?”, tanyaku heran.
“Mbak ada pengemis lagi, bapak-bapak yang kukasih roti kemarin”, katanya sambil mencari dompetku. Kuhampiri Amin. Dan tersenyum ke arah bocah kecil itu. Betapa baiknya dia. Berbeda sekali denganku.
“Mbak mana dompetnya”, bentaknya ke arahku. Aku tak peduli akan nadanya yang meninggi. Rasa sayangku kepada Amin semakin tebal. Segera kuambil dompet dan kuambilkan uang lima ribuan.
“Haa...serius mbak?”, tanyanya kaget ketika kuberikan selembar lima ribuan ke arahnya. Aku tersenyum malu. Aku hanya mengangguk pelan. Dengan pancaran senyum yang lebar, dia berlari ke arah bapak pengemis yang telah menunggu di depan rumahku.
Ya Allah seberapapun yang telah kuberikan semoga keikhlasan melekat di hatiku dan ridho-Mu selalu menaungi setiap langkahku. Ternyata berbagi itu sangat indah. Menyejukkan dan menenangkan hati. Apalagi bulan ini bulan Ramadhan, bulan suci penuh ampunan. Dan tak terasa bulan syawal juga tinggal menunggu hari. Semoga keindahan berbagi dan bersedekah akan selalu melekat di hatiku selamanya, walaupun di luar bulan syawal sekalipun. Amiin.
***
“Mbak ayo sholat ke lapangan, sudah ditunggu ibu tu”, Ajakan Amin membuyarkan lamunanku. Ternyata aku melamun. Melamunkan akan pengalamanku yang penuh dengan keberkahan. Ya Allah tetapkan aku pada keikhlasan dan keistiqomahan. Sekarang aku tahu Ternyata, tidak semua rezeki yang kuterima itu menjadi hakku. Itu juga hak saudara-saudaraku sesama muslim.
Segera kuikuti Amin dari belakang. Bapak dan ibu telah menungguku rupanya.
(Irma)
Terkadang aku merasa ikhlas, terkadang aku merasa aku nggak butuh tetapi kenapa aku sering mengeluh…
Lantukan kata-kata itu cukup mewakilkan bagaimana perasaanku. Perasaan dengan keilkhlasan yang masih menggantung. Keikhlasan yang perlu dipertanyakan. Terkadang ikhlas, tetapi kenapa sering mengeluh, sering mengungkit, sering tidak rela dan banyak lagi tentang apa yang kurasakan.
Hemmm…. Kulepaskan semua beban di hati. Akhirnya aku bisa bernafas lega. Semua itu kurasakan beberapa minggu yang lalu. Entah, sekarang apakah aku masih merasakan kegamangan akan keikhlasan. Aku sudah melupakan itu, sekarang kan kubuka lembaran baru di hidupku. Masa lalu kan kubingkai menjadi cerminan hidupku. Melihat mana yang hitam dan mana yang putih, karena itu adalah warna-warna kehidupan yang butuh perubahan.
Allahuakbar AllahuakbarLaailaa haillallah wallahuakbar Allahuakbar walillaa ilham
Merdunya lantunan takbir membawaku ke alam yang penuh dengan kemenangan. Balutan jilbab putih dan gamis hijau bergaris-garis putih mengantarkanku pada sebuah gerbang kesucian. Kulupakan semua goresan hitam di hatiku. Kulupakan bercak-bercak hitam yang sempat tertoreh di jiwaku. Kutumpahkan tetesan air mata taubat di atas sajadah yang membentang luas, seluas pintu maafku yang terdalam untuk saudara-saudara dan orang-orang terkasih.
Idul fitri benar-benar moment yang mengantarkanku untuk menggapai ridha-Nya. Meminta rahmad dan hidayah-Nya. Serta mengimpikan indah surga-Nya. Tak pernah kuimpikan sebelumnya, aku menjadi seperti ini. Kudekatkan wajahku di cermin. Kupandangi kembaranku di dalamnya. Kulihat dia tersenyum ke arahku. Memakai balutan jilbab, yang dihiasi dengan pancaran senyum, ditempeli dengan bunga-bunga takbir serta ditambah dengan accesoris tahmid.
Tak kuasa aku menahan air mata yang sedari tadi mengintipku di balik jernihnya mataku. Kutumpahkan air mata kesedihan, ketika aku teringat beberapa minggu yang lalu.
“Mbak sedekahnya…”, rintihan suara pengemis yang sering mondar mandir di depan rumahku. Ah…betapa jengkelnya diriku. Adikku tergopoh-gopoh lari ke dalam kamar.
Dubrakkk…
“Apaan sih Min” Bentakku.
Amin adikku menabrak kursi yang tepat di samping komputer.
Dengan tergesa-gesa dia membuka dompetku, criiing, beberapa koin yang bernilai seratus dan dua ratus rupiah jatuh ke lantai.
“Tak henti-hentinya pengemis itu datang ke sini, mau cari apa sih”, kataku kesal.
“Cari uang kak, kan dia pengemis” jawabnya polos. Sedetik kemudian Amin berlari meninggalkanku sambil membawa beberapa koin dari dompetku.
“ah…lama-lama uangku habis ni, gara-gara pengemis itu. Mana sih keluarganya, nggak peduli banget”, gumamku.
“Mbak, tadi pengemisnya bilang, makasih mas semoga lancar sekolahnya hehehehe, pengemisnya baik ya mbak, doain aku terus”, kata Amin yang mendekat ke arahku.
“Iya…kalau ada maunya pasti kaya gitu Min”, Jawabku masih dengan nada kesal.
“Ikhlas nggak mbak”, kata Amin sambil meninggalkanku yang memelototi buku karangan Habiburahman El Shirazi.
***
“Puasa-puasa enaknya ngapain ya, ehm…ngrumpi dosa, makan batal, tidur, sudah banyak tidur, kuliah, masih ntar siang…ah jadi bingung”, gumamku pelan.
“Amiiiin…”, Panggilku.
“Aku mau sekolah mbak”, Jawabnya.
Yah…Amin sekolah. Bapak ibu kerja. Nggak ada teman di rumah.
“berangkat…assalamualaikum”, teriak Amin.
“Wa’alaikumsalam” jawabku.
Beberapa detik kemudian terdengar langkah yang semakin lama semakin cepat. Kupastikan itu langkah Amin. Kenapa tu anak, lari-lari kembali ke rumah.
“mbak…huhh huhh….” Nafasnya tak beraturan. Kenapa ini anak.
“mbak…” katanya lagi masih dengan nafas yang kembang kempis.
“Apa…” jawabku dengan nada yang meninggi.
“Uang….” Katanya sambil berusaha membuka dompetku.
Segera kurebut dompet yang ada digenggamannya. Dan kuambilkan uang seribu rupiah untuknya.
“Ni…bukannya tadi sudah dapat uang dari ibu”,
“Bukan untuk itu”
“Pengemis lagi? Nanti pengemisnya keseringan datang ke rumah Min, sudahlah biarin saja, kemarin sudah kukasih bukan” kataku sambil mencari pengemis dari jendela kamarku.
“Buat di jalan mbak, kasihan, kata guru ngaji Amin, buat ladang amal di surga, uang Mbak Febri nggak akan habis deh gara-gara sedekah”, nasehatnya.
Aku hanya terdiam melanjutkan membaca barisan-barisan huruf yang tertata rapi ini.
“Mbak, dengerin Amin”, Rengeknya.
“Iyaaaa Amin, Mbak ngerti, ta-pi, nan-ti, pengemis-nya ja-di ke-se-ri-ngan, enakan di dia dong, biar dia kerja Min”, jawabku dengan nada lambat. Wajahku sudah menunjukkan wajah kesal. Tapi, Amin tetap saja merengek.
Segera saja kuambilkan, beberapa koin uang seratusan.
“Ini, dikasihkan yang bener”
“Makasih mbak, Mbak Febri cantiiik deh, semoga uangnya bertambah”, katanya sedikit merayu. Kemudian dia berlari keluar kamar dan kembali melanjutkan perjalanannya ke sekolah.
***
“Feb, tau nggak sih, di rumahku banyak pengemis datang. Pinter banget ya memanfaatkan moment puasa”, kata Vira kepadaku.
“Iya..bener-bener menjengkelkan, uangku lama-lama menipis Vir, mana Amin tiap hari ngambilin uang di dompetku, hemmm dasar tu anak” Jawabku sambil geleng-geleng kepala.
“Wah adikmu baik banget Feb, perlu dicontoh tu”
“Mana dia suka ngrayu dengan bawa kata-kata dari guru ngajinya lagi, apa nggak luluh aku”
“hahahahahaha, ikhlas nggak Feb?”
“idiih malah ketawa, kadang nggak, kadang ikhlas Vir”, Jawabku tanpa rasa berdosa.
***
“Mbaaak, sedekahnya…”
Kulihat ibu pengemis itu di depan rumah. Duh, dompetku semakin menipis. Kulihat tinggal uang lima ribuan tiga, untuk naik angkot besok. Gimana ini….
“Mana, lagi Amin, uang tadi pagi sisa nggak ya” Kataku dalam hati.
Terkadang terbesit rasa kasihan di dalam hatiku. Tetapi terkadang aku nggak rela uangku dimakan sama orang yang tidak mau bekerja dan hanya menggantungkan nasibnya pada telapak tangannya saja. Seharusnya aku memberikan peluang pengemis itu untuk bekerja, jadi nggak usah keluar saja ah.
Lima menit kemudian, suara pengemis itupun hilang. Seakan ditelan angin begitu saja. Kulihat Amin baru keluar dari kamarnya. Baru bangun tidur rupanya.
“Min, tadi pengemis langgananmu datang”, kataku datar.
“Mbak kasih apa?”
“Mbak nggak punya apa-apa Min, mbak biarkan saja” jawabku sambil menyalakan TV.
“Mbak Febri kok jahat, nanti uang mbak malah cepet hilang lo” Katanya sambil masuk lagi ke kamar.
“Ah…dibilangin seperti apa juga Amin belum ngerti”, kataku dalam hati.
Tiba-tiba pengemis kedua datang. Kali ini bapak bapak dengan baju robek di punggungnya.
“Min, langgananmu lagi tu” Teriakku.
Amin membawa sebungkus roti dan dibawanya keluar. Kudengarkan suaranya dari dalam. Bilang apa ya, sama pengemis itu.
“Pak, Amin nggak punya uang, ini roti Amin buat bapak saja”, Katanya.
Beberapa menit kemudian Amin masuk dan berjalan ke arahku. Sebenarnya aku bangga dengan adikku. Tetapi, kasihan dia, roti dari ibu untuk buka puasa nanti harus dia relakan untuk pengemis. Sedangkan aku, uang tertata rapi di dompet, hanya karena tidak punya uang dengan nominal yang lebih kecil saja, kuabaikan pengemis yang datang.
“ah…biarlah”, kataku dalam hati.
***
Hik…hik….hik
Suara tangisku ternyata mampu memekakkan telinga Amin.
“Mbak, sudah gede nangis” Bentaknya. Sepertinya dia meniru lagakku. Anak kecil memang peniru yang baik.
“Kenapa?”, tanya ibu.
“Uang Febri untuk bayar sekolah tadi pagi ilang bu”, kataku sambil mengusap air mata.
“hahaha, itu akibatnya mbak nggak pernah sedekah” kata Amin.
“Heh diam kamu, anak kecil nggak tahu apa-apa”, Bentakku.
“Malah marah lagi, betul kata Amin” ibuku ikut membentakku.
Dengan wajah manyun aku masuk ke kamar. Kutelan kata-kata Amin dan ibu tadi.
“Apa benar ya, uangku hilang gara-gara tidak pernah sedekah. Bukannya aku kemaren yang ngasih uang buat Amin untuk pengemis itu”, gumamku dalam hati.
***
Allahuakbar Allahuakbar….
Adzan sholat isya berkumandang. Saatnya aku, ibu, bapak dan Amin ke masjid, yang berjarak 300 meter dari rumahku. Tidak seperti biasanya, hari ini aku memakai jilbab. Biasanya jilbab hanya kukenakan kalau aku sekolah saja. Kulihat wajah ibuku yang berseri dan kelihatan cantik dengan balutan jilbab hitamnya.
“Apakah aku juga seperti itu ya, kalau memakai jilbab setiap hari”, kataku dalam hati. Tanpa sadar ternyata aku tersenyum sendiri. Dan Amin melihatku sedari tadi.
“Kenapa mbak, stress gara-gara uangnya hilang ya mbak?” tanyanya.
Aku kaget dibuatnya. Tanpa sadar ternyata si kecil Amin melihat tingkahku tadi. Aku jadi salah tingkah.
“Ah nggak” Jawabku singkat sambil berjalan di belakang bapak.
Masjid ini selalu ramai, tidak hanya di Bulan Ramadhan, di bulan lain pun tetap makmur dan jaya. Kenapa ini ibu-ibu, ramainya mereka di masjid hari ini berbeda dari biasanya. Kulihat Vira ikut nimbrung bersama ibu-ibu yang ngrumpi itu.
“Ada-ada saja ni ibu-ibu, nggak di masjid nggak di rumah nggak di warung, ngrumpi melulu”, kataku cuek.
Vira langsung menempatkan diri di sampingku.
“Ngrumpi mulu”, kataku pelan ke arahnya.
“Eh hot news”, katanya
“Mau denger nggak?” tawar Vira.
“Nanti kali, ini dimana coba, masjid Vir” kataku. Dia hanya mengangguk dengan wajah kesal.
Kultum malam ini sesuai dengan tema hidupku hari ini. Sedekah. Apakah pidato bapak khatib kali ini menjawab pertanyaanku. Dengan sedikit mengantuk aku dengarkan kata demi kata yang terlontar dari khatib itu. Sungguh luar biasa makna sedekah dan manfaat sedekah. Seketika itu terlintas di dalam benakku. Bukannya kalau kita memberikan uang kepada pengemis, itu berarti kita tidak memberikan kesempatan kepada pengemis itu untuk bekerja. Apakah kita harus melatih pengemis untuk terus membawa tangannya untuk selalu di bawah. Memang sih sedekah tidak harus untuk pengemis. Untuk yang lainnya juga. Tetapi, kupikir-pikir selama hidupku mana pernah aku bersedekah. Malahan aku berfikir, untuk jajan saja kurang apalagi sedekah.
Terbesit lagi di benakku. Apakah hilangnya uang bayaranku juga karena aku jarang sedekah ‘mungkin’, kataku dalam hati. Seperti disiram air pegunungan yang menyegarkan. Pikiranku mulai melayang. Jiwaku mulai terguncang dan hatiku bergetar kencang.
“Ya Allah ampuni hamba-Mu”, kataku dalam hati sambil menitikkan air mata yang tak tau apa sebabnya dia mendorong mataku untuk keluar.
Di dalam bayanganku terlintas pengemis tua itu. Bapak pengemis yang memang jarang ke rumah. Tetapi aku ingat, Amin memberikan roti untuknya. Dengan pakaian sobek di bagian punggungnya, pengemis itu meninggalkan rumahku dengan wajah ceria. Berbeda dengan Ibu bercaping dan berpakaian kuning lusuh yang sering datang ke rumah. Dengan wajah muram dan sedih dia meninggalkan rumahku. Dia kuabaikan beberapa jam yang lalu.
Mereka adalah ladang amal bagi kita. Tidak peduli apa niatan mereka dan apa motivasi mereka untuk mengemis, yang penting niatan kita ikhlas lillahi ta’ala.
“Ya Allah berapa saja dosa hamba selama hidup ini, Ya Allah aku telah membuat pengemis itu sedih, aku telah mengabaikannya, Astagfirullah hal’adhim, Ya Allah, ampuni hamba-Mu ini”, Di dalam keheningan hatiku, aku memohon ampun kepada Sang Maha Pengampun. Kini hatiku tergerak untuk mencari sesosok pengemis tua berpakaian kuning lusuh itu. Akan kutebus semua kesalahan-kesalahanku pada pengemis itu.
***
“Feb, mau tahu nggak hot newsnya ?”, tanya Vira kepadaku.
“Apaan sih?”, jawabku datar.
“Pengemis yang sering main ke tempatmu tadi keserempet mobil”.
Tiba-tiba hatiku bergetar. Benarkah berita yang baru saja dikatakan Vira. Atau hanya gossip belaka.
“Maksudnya, ibu yang biasanya pakai pakaian kuning itu? meninggal?”, tanyaku serius.
Vira mengangguk pelan, sambil membuka pesan di handphone-nya.
“Ya Allah ampuni hamba-Mu ini, sampaikan salam maafku yang teramat dalam untuk ibu pengemis itu. Ya Allah ampuni saya”, kataku dalam hati. Air mataku menetes perlahan. Aku tak kuasa menahan tangis. Rasa penyesalahanku semakin tinggi. Ya Allah sekali lagi ampuni hamba yang teramat banyak dosa ini.
Sesampai di rumah kuceritakan berita kematian pengemis itu ke keluargaku. Terutama kepada Amin, yang tak pernah lupa memberikan satu atau dua koin untuknya. Amin hanya mengangguk dan ternyata dia sudah mengetahui berita itu.
***
Kurasa hari ini sepi, tanpa ada yang memanggil ‘mbak sedekahnya’. Terkadang aku menengok keluar rumah, mana ibu pengemis itu. Ah ibunya sudah nggak mungkin lagi lewat depan rumah. Dan aku takkan melihat Amin lari-larian mengambil uang di dompetku.
Beberapa jam kemudian, aku kembali melihat Amin lari ke dalam kamarku.
“Amin kenapa?”, tanyaku heran.
“Mbak ada pengemis lagi, bapak-bapak yang kukasih roti kemarin”, katanya sambil mencari dompetku. Kuhampiri Amin. Dan tersenyum ke arah bocah kecil itu. Betapa baiknya dia. Berbeda sekali denganku.
“Mbak mana dompetnya”, bentaknya ke arahku. Aku tak peduli akan nadanya yang meninggi. Rasa sayangku kepada Amin semakin tebal. Segera kuambil dompet dan kuambilkan uang lima ribuan.
“Haa...serius mbak?”, tanyanya kaget ketika kuberikan selembar lima ribuan ke arahnya. Aku tersenyum malu. Aku hanya mengangguk pelan. Dengan pancaran senyum yang lebar, dia berlari ke arah bapak pengemis yang telah menunggu di depan rumahku.
Ya Allah seberapapun yang telah kuberikan semoga keikhlasan melekat di hatiku dan ridho-Mu selalu menaungi setiap langkahku. Ternyata berbagi itu sangat indah. Menyejukkan dan menenangkan hati. Apalagi bulan ini bulan Ramadhan, bulan suci penuh ampunan. Dan tak terasa bulan syawal juga tinggal menunggu hari. Semoga keindahan berbagi dan bersedekah akan selalu melekat di hatiku selamanya, walaupun di luar bulan syawal sekalipun. Amiin.
***
“Mbak ayo sholat ke lapangan, sudah ditunggu ibu tu”, Ajakan Amin membuyarkan lamunanku. Ternyata aku melamun. Melamunkan akan pengalamanku yang penuh dengan keberkahan. Ya Allah tetapkan aku pada keikhlasan dan keistiqomahan. Sekarang aku tahu Ternyata, tidak semua rezeki yang kuterima itu menjadi hakku. Itu juga hak saudara-saudaraku sesama muslim.
Segera kuikuti Amin dari belakang. Bapak dan ibu telah menungguku rupanya.
(Irma)
Senin, September 27, 2010
TAMPILAN BARU
TAMPILAN BARU SEMANGAT BARUUUU
Lama banget gak entri tulisan2ku
semoga semangat menulis tetap ada di hatiku
aminnn
Lama banget gak entri tulisan2ku
semoga semangat menulis tetap ada di hatiku
aminnn
Selasa, Mei 04, 2010
ayo menulissssssss
ikatlah ilmumu dengan menulis....
ayo frend semangat buat nulis, nulis dan nulis
katakan iyyyaaaaa untuk menulis
tulisan itu mampu mengubah dunia (dikutip dari mana lupa aku ^_^)
ayo frend semangat buat nulis, nulis dan nulis
katakan iyyyaaaaa untuk menulis
tulisan itu mampu mengubah dunia (dikutip dari mana lupa aku ^_^)
Jumat, Januari 15, 2010
RANGKAIAN DOA UNTUK BUNDA
Air mataku menetes mengiringi alunan takbir yang kian merdu. Ku tak kuasa menahan dorongan air mata yang kian kuat. Ku biarkan air ini keluar dan membuat mataku sayu dan mengukir bengkakan di sekelilingnya.
Allahu akbar…
Allahu akbar…
Laailahaillah wallahu akbar…
Allahu akbar walillaa ilham…
Senandung yang kian lama kian kuat menerkam hatiku. Kurebahkan tubuhku di atas sajadah yang sedari tadi menemaniku di dalam tahajud. Tak pernah kusangka, tak pernah kubayangkan, ramadhan yang ditunggu-tunggu setiap muslim telah pergi begitu saja. Dan tibalah hari fitri yang selalu ditunggu-tunggu apalagi untuk Beta adikku, yang terkadang salah menilai apa arti idul fitri baginya. Tak lama kemudian, kuterlarut dalam mimpi di atas sajadah hijau tuaku.
“Mbak…mbak…mbak Meta…” Suara khas adikku tlah membuyarkanku dari mimpi di bawah alam sadar. Kulihat jam dinding di kamarku tlah menunjukkan pukul 04.30.
Kudapati Beta adikku yang tak sabar ingin segera mengenakan baju baru di hari fitri ini. Hari fitri pertamaku. Ya…pertama kali aku merayakan Idul fitri tanpa kedua orangtuaku. Di sini, hanya aku dan si kecil Beta yang setia menemaniku menempati bangunan yang umurnya melebihi umurku yang sebentar lagi akan menginjak kepala dua.
“Ayo mbak kita Sholat subuh”, Rengek Beta.
“Beta, kamu sudah mandi?”, Tanyaku heran. Tak biasanya Beta mandi sepagi ini. Benar-benar rekor dia hari ini. Hari fitrilah yang membuatnya jadi begini. Dia begitu senang, apalagi dengan balutan busana muslim coklatnya itu. Busana muslim peninggalan ibuku tercinta. Beliau dengan susah payah menjahitkannya untuk Beta satu bulan yang lalu sebelum beliau pergi meninggalkan kami tuk slama-lamanya. Begitu pahit kurasakan hidupku ini. Sejak kecil kami telah kehilangan bapak tercinta. Kata ibuku beliau pergi dari rumah karena kondisi ekonomi dan sekarang tak tahu dimana bapak, mungkin benar-benar lupa dengan keluarga yang selalu menanti-nanti kepulangannya. Oh…Ibu, kanker payudaralah yang telah merenggut nyawa ibu. Tetapi, aku senang melihat Beta yang sering tersenyum menghiburku, seakan-akan dia tak peduli tentang apa yang telah menimpanya. Dia memang masih kecil tuk mengerti ini semua. “Ayolah mbak jangan melamun”. Rengeknya lagi.
Takkan kusia-siakan waktu subuh ini, karena aku tak yakin subuh esok hari aku masih bisa menikmatinya.
Aku tak mengharapkan baju baru di setiap Idul fitri tiba, kalau toh baru, Alhamdulillah. Aku bergegas mengajak adikku bersiap-siap menunaikan sholat ied ke lapangan. Kumandang takbir yang menyeru kebesaran Illahi terus mengalun indahnya, seolah-olah mengiringi kepergian ibuku sebulan lalu. Aku tak pernah menyangka, Idul fitri kemarin, terakhir untuk ibuku. Ibu yang telah membawaku seperti sekarang ini. Mengajariku akan arti dan lika-liku kehidupan serta cobaan dan ujian yang tak letih menjemput dan merayu keluargaku. Bagiku, cobaan bukanlah hal yang harus ditaklukkan, tapi untukdihadapi. Beribu-ribu cobaan yang menerpa pun akan sulit untuk kita hilangkan, karena izin-Nya lah dia ada. Aku yang harus menghadapinya, biar sepahit apapun itu, karena itulah jalan terbaikku untuk menuju kemulyaan hidup.
Seusai Sholat takkan pernah kulupa, doa untuk ibu bapakku. Doa penuh makna, penuh pengharapan yang sangat, serta doa yang penuh dengan isakan tangis tuk meminta belas kasihan-Nya.
“Mbak Meta kok nangis?”, Suara polos Beta membuatku kaget dan segera mengusap air mata yang trus menetesi pipiku.
“Ehm…nggak, siapa yang nangis, mbak sedang terharu…”, Kataku terputus oleh isakan tangis yang tak bisa kutahan.
“Terharu kenapa?”.
“Terharu…karena kita masih diberikan kesempatan oleh Allah tuk menikmati indahnya idul fitri ini”, Jelasku.
Dia hanya sambil mengangguk-angguk. Aku tersenyum dibuatnya. Anak sekecil dia harus setia menemaniku mengarungi manis pahitnya hidup tanpa orangtua. Tak lupa kukatakan padanya tuk selalu mendoakan ibu dan bapak.
“Siiip, so pasti kak doaku hanya untuk ibu dan bapak he…he...”, Jawabnya yang lagi-lagi membuatku semakin kuat menjalani hidup ini. Sesungguhnya Betalah motivator terbesar dalam hidupku.
“Ayo ke rumah nenek Beta!” Ajakku. Di sini aku masih punya saudara. Masih banyak mereka-mereka yang sayang kepada kami. Ada paman, bibi serta yang lainnya. Yang tak kalah penting adalah nenekku yang sudah lima tahun ditinggal kakek. Beliau tak bosan-bosannya mendengar celotehan dan tangisan Beta, apalagi di saat Beta tak ada teman, karena aku harus bergelut dengan mata kuliah yang begitu menyita kebersamaanku dengannya. Tapi, itulah kewajibanku di luar kewajiban menjadi seorang kepala ‘rumah tangga’ yang harus mendidik adik satu-satunya. Pesan ibu aku tak boleh menyi-nyiakan pendidikan, dengannya aku bisa mendidik adikku dan tentunya niatan ibadah karena-Nya.
Beta hari ini memang Nampak letih sekali. Aku takut terjadi apa-apa dengannya, sakit misalnya. Aku trauma dengan sakitnya beberapa bulan silam. Tiba-tiba dia jatuh pingsan, badannya panas. Untung saja dokter cepat bertindak. Katanya sih masuk angin ‘kasep’. Mungkin karena dia sering hujan-hujanan dengan teman-temannya. Dasar anak kecil. Tapi, saat ini lain, dia kelihatan tak bersemangat.
“Ada apa denganmu my baby?”, Tanyaku dengan panggilan sayangku kepada adikku tercinta.
Tiba-tiba dia menangis. Aku tak tau apa yang harus aku perbuat. Kenapa dia.
“Ibu…”, Katanya lirih.
Aku kaget dibuatnya. Kenapa dia tiba-tiba teringat ibu. Mungkin itu hal yang wajar. Baru sebulan dia ditinggal ibu. Apalagi dia tak pernah membayangkan, akan ditinggal ibu begitu cepatnya. Aku tau pasti dia merasa sangat kesepian. Aku bingung harus bagaimana, tiba-tiba ideku seakan-akan hilang ditelan waktu. Tetesan air mata tak bisa kutepis dengan apapun. Kubiarkan ia meleleh membasahiku. Kupeluk Beta erat-erat.
“Beta…yang sabar ya nak…kalau Beta nangis, nanti ibu juga akan sedih di surga”. Hiburku. Kata-kataku seolah hanya diterpa angin begitu saja. Beta tak memperdulikan apa yang aku katakan. Kubiarkan dia larut dalam tangis dipelukanku.
Tanpa kusadari, paman dan bibi masuk ke dalam rumah yang sengaja tak kututup pintunya. Mereka sengaja tak mengetok pintu, karena melihat kami nangis sesenggukan. Tanpa kuceritakan pun aku pasti mereka mengerti kenapa kami menangis.
Bibi mendekat dan memeluk kami, sambil menangis pula. Lalu sebuah kata-kata manis terucap dari bibir beliau.
“Anak-anakku jangan menangis…ibu kalian pasti tak rela melihat kalian menangis begitu, nanti kalau ibu sedih gimana?”.
Beta tetap saja menangis. Lalu kugendong dia. Semua jadi menangis dibuatnya.
“Beta… mau ngedoain ibu….”, Jawabnya sambil terus menangis. Aku kaget dengar jawaban Beta. Subhanallah Beta, kau benar-benar seperti orang, dewasa walapun usiamu masih menginjak 4 tahun.
Kemudian paman mendekati kami.
“Kalau Beta mau ngedoain ibu, Beta nggak boleh nangis ya…”
Dengan kata-kata paman, tangis Beta mereda sedikit demi sedikit.
Kami pun segera ke rumah nenek. Tak sabar rasanya ingin bertemu nenek, walaupun setiap hari pun kita selalu bertatap muka. Aku tak ingin melihat nenek kesepian di rumah sendiri, tanpa cucu-cucunya.
Setelah kami bersalam-salaman dengan nenek maupun paman, bibi dan yang lain, kami segera menyicipi masakan bibi, ehm…enak sekali opor ayam kesukaan Beta.
“Beta makan yang banyak ya…”, Hiburku. Aku yakin saat ini Beta memang masih merasa kehilangan, air matanya pun masih berlinang, seakan-akan malu tuk keluar.
Tiba-tiba saja paman menggendong Beta keluar, entah apa yang akan dikatakan paman tuk menghibur Beta. Kulihat di luar Beta bisa tertawa-tawa seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Dia memang anak yang tegar.
Aku tak tahu apa yang dikatakan paman pada Beta di luar tadi, yang jelas sekarang ada perubahan yang luar biasa pada diri Beta. Setiap selesai sholat berjamaah denganku, tak segan-segan dia mengingatkanku tuk selalu mendoakan ibu. Aku juga mengingatkannya tuk mendoakan bapak. Aku tetap berharap suatu saat nanti bisa bertemu dengan beliau dalam keadaan apapun.
Allahu akbar…
Allahu akbar…
Laailahaillah wallahu akbar…
Allahu akbar walillaa ilham…
Senandung yang kian lama kian kuat menerkam hatiku. Kurebahkan tubuhku di atas sajadah yang sedari tadi menemaniku di dalam tahajud. Tak pernah kusangka, tak pernah kubayangkan, ramadhan yang ditunggu-tunggu setiap muslim telah pergi begitu saja. Dan tibalah hari fitri yang selalu ditunggu-tunggu apalagi untuk Beta adikku, yang terkadang salah menilai apa arti idul fitri baginya. Tak lama kemudian, kuterlarut dalam mimpi di atas sajadah hijau tuaku.
“Mbak…mbak…mbak Meta…” Suara khas adikku tlah membuyarkanku dari mimpi di bawah alam sadar. Kulihat jam dinding di kamarku tlah menunjukkan pukul 04.30.
Kudapati Beta adikku yang tak sabar ingin segera mengenakan baju baru di hari fitri ini. Hari fitri pertamaku. Ya…pertama kali aku merayakan Idul fitri tanpa kedua orangtuaku. Di sini, hanya aku dan si kecil Beta yang setia menemaniku menempati bangunan yang umurnya melebihi umurku yang sebentar lagi akan menginjak kepala dua.
“Ayo mbak kita Sholat subuh”, Rengek Beta.
“Beta, kamu sudah mandi?”, Tanyaku heran. Tak biasanya Beta mandi sepagi ini. Benar-benar rekor dia hari ini. Hari fitrilah yang membuatnya jadi begini. Dia begitu senang, apalagi dengan balutan busana muslim coklatnya itu. Busana muslim peninggalan ibuku tercinta. Beliau dengan susah payah menjahitkannya untuk Beta satu bulan yang lalu sebelum beliau pergi meninggalkan kami tuk slama-lamanya. Begitu pahit kurasakan hidupku ini. Sejak kecil kami telah kehilangan bapak tercinta. Kata ibuku beliau pergi dari rumah karena kondisi ekonomi dan sekarang tak tahu dimana bapak, mungkin benar-benar lupa dengan keluarga yang selalu menanti-nanti kepulangannya. Oh…Ibu, kanker payudaralah yang telah merenggut nyawa ibu. Tetapi, aku senang melihat Beta yang sering tersenyum menghiburku, seakan-akan dia tak peduli tentang apa yang telah menimpanya. Dia memang masih kecil tuk mengerti ini semua. “Ayolah mbak jangan melamun”. Rengeknya lagi.
Takkan kusia-siakan waktu subuh ini, karena aku tak yakin subuh esok hari aku masih bisa menikmatinya.
Aku tak mengharapkan baju baru di setiap Idul fitri tiba, kalau toh baru, Alhamdulillah. Aku bergegas mengajak adikku bersiap-siap menunaikan sholat ied ke lapangan. Kumandang takbir yang menyeru kebesaran Illahi terus mengalun indahnya, seolah-olah mengiringi kepergian ibuku sebulan lalu. Aku tak pernah menyangka, Idul fitri kemarin, terakhir untuk ibuku. Ibu yang telah membawaku seperti sekarang ini. Mengajariku akan arti dan lika-liku kehidupan serta cobaan dan ujian yang tak letih menjemput dan merayu keluargaku. Bagiku, cobaan bukanlah hal yang harus ditaklukkan, tapi untukdihadapi. Beribu-ribu cobaan yang menerpa pun akan sulit untuk kita hilangkan, karena izin-Nya lah dia ada. Aku yang harus menghadapinya, biar sepahit apapun itu, karena itulah jalan terbaikku untuk menuju kemulyaan hidup.
Seusai Sholat takkan pernah kulupa, doa untuk ibu bapakku. Doa penuh makna, penuh pengharapan yang sangat, serta doa yang penuh dengan isakan tangis tuk meminta belas kasihan-Nya.
“Mbak Meta kok nangis?”, Suara polos Beta membuatku kaget dan segera mengusap air mata yang trus menetesi pipiku.
“Ehm…nggak, siapa yang nangis, mbak sedang terharu…”, Kataku terputus oleh isakan tangis yang tak bisa kutahan.
“Terharu kenapa?”.
“Terharu…karena kita masih diberikan kesempatan oleh Allah tuk menikmati indahnya idul fitri ini”, Jelasku.
Dia hanya sambil mengangguk-angguk. Aku tersenyum dibuatnya. Anak sekecil dia harus setia menemaniku mengarungi manis pahitnya hidup tanpa orangtua. Tak lupa kukatakan padanya tuk selalu mendoakan ibu dan bapak.
“Siiip, so pasti kak doaku hanya untuk ibu dan bapak he…he...”, Jawabnya yang lagi-lagi membuatku semakin kuat menjalani hidup ini. Sesungguhnya Betalah motivator terbesar dalam hidupku.
“Ayo ke rumah nenek Beta!” Ajakku. Di sini aku masih punya saudara. Masih banyak mereka-mereka yang sayang kepada kami. Ada paman, bibi serta yang lainnya. Yang tak kalah penting adalah nenekku yang sudah lima tahun ditinggal kakek. Beliau tak bosan-bosannya mendengar celotehan dan tangisan Beta, apalagi di saat Beta tak ada teman, karena aku harus bergelut dengan mata kuliah yang begitu menyita kebersamaanku dengannya. Tapi, itulah kewajibanku di luar kewajiban menjadi seorang kepala ‘rumah tangga’ yang harus mendidik adik satu-satunya. Pesan ibu aku tak boleh menyi-nyiakan pendidikan, dengannya aku bisa mendidik adikku dan tentunya niatan ibadah karena-Nya.
Beta hari ini memang Nampak letih sekali. Aku takut terjadi apa-apa dengannya, sakit misalnya. Aku trauma dengan sakitnya beberapa bulan silam. Tiba-tiba dia jatuh pingsan, badannya panas. Untung saja dokter cepat bertindak. Katanya sih masuk angin ‘kasep’. Mungkin karena dia sering hujan-hujanan dengan teman-temannya. Dasar anak kecil. Tapi, saat ini lain, dia kelihatan tak bersemangat.
“Ada apa denganmu my baby?”, Tanyaku dengan panggilan sayangku kepada adikku tercinta.
Tiba-tiba dia menangis. Aku tak tau apa yang harus aku perbuat. Kenapa dia.
“Ibu…”, Katanya lirih.
Aku kaget dibuatnya. Kenapa dia tiba-tiba teringat ibu. Mungkin itu hal yang wajar. Baru sebulan dia ditinggal ibu. Apalagi dia tak pernah membayangkan, akan ditinggal ibu begitu cepatnya. Aku tau pasti dia merasa sangat kesepian. Aku bingung harus bagaimana, tiba-tiba ideku seakan-akan hilang ditelan waktu. Tetesan air mata tak bisa kutepis dengan apapun. Kubiarkan ia meleleh membasahiku. Kupeluk Beta erat-erat.
“Beta…yang sabar ya nak…kalau Beta nangis, nanti ibu juga akan sedih di surga”. Hiburku. Kata-kataku seolah hanya diterpa angin begitu saja. Beta tak memperdulikan apa yang aku katakan. Kubiarkan dia larut dalam tangis dipelukanku.
Tanpa kusadari, paman dan bibi masuk ke dalam rumah yang sengaja tak kututup pintunya. Mereka sengaja tak mengetok pintu, karena melihat kami nangis sesenggukan. Tanpa kuceritakan pun aku pasti mereka mengerti kenapa kami menangis.
Bibi mendekat dan memeluk kami, sambil menangis pula. Lalu sebuah kata-kata manis terucap dari bibir beliau.
“Anak-anakku jangan menangis…ibu kalian pasti tak rela melihat kalian menangis begitu, nanti kalau ibu sedih gimana?”.
Beta tetap saja menangis. Lalu kugendong dia. Semua jadi menangis dibuatnya.
“Beta… mau ngedoain ibu….”, Jawabnya sambil terus menangis. Aku kaget dengar jawaban Beta. Subhanallah Beta, kau benar-benar seperti orang, dewasa walapun usiamu masih menginjak 4 tahun.
Kemudian paman mendekati kami.
“Kalau Beta mau ngedoain ibu, Beta nggak boleh nangis ya…”
Dengan kata-kata paman, tangis Beta mereda sedikit demi sedikit.
Kami pun segera ke rumah nenek. Tak sabar rasanya ingin bertemu nenek, walaupun setiap hari pun kita selalu bertatap muka. Aku tak ingin melihat nenek kesepian di rumah sendiri, tanpa cucu-cucunya.
Setelah kami bersalam-salaman dengan nenek maupun paman, bibi dan yang lain, kami segera menyicipi masakan bibi, ehm…enak sekali opor ayam kesukaan Beta.
“Beta makan yang banyak ya…”, Hiburku. Aku yakin saat ini Beta memang masih merasa kehilangan, air matanya pun masih berlinang, seakan-akan malu tuk keluar.
Tiba-tiba saja paman menggendong Beta keluar, entah apa yang akan dikatakan paman tuk menghibur Beta. Kulihat di luar Beta bisa tertawa-tawa seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Dia memang anak yang tegar.
Aku tak tahu apa yang dikatakan paman pada Beta di luar tadi, yang jelas sekarang ada perubahan yang luar biasa pada diri Beta. Setiap selesai sholat berjamaah denganku, tak segan-segan dia mengingatkanku tuk selalu mendoakan ibu. Aku juga mengingatkannya tuk mendoakan bapak. Aku tetap berharap suatu saat nanti bisa bertemu dengan beliau dalam keadaan apapun.
Yang Terlupa untuk Di hargai…
Sreeg…sreeeeg…sreeeeg…
Lantunan merdu kumpulan lidi-lidi yang terikat menjadi sebuah sapu. Sapu yang terayun oleh seorang ibu dengan nafas kembang kempis. Aku tak tega melihat ibu-ibu dengan kaos dan topi yang bertengger di atas kepalanya dan mengucurkan keringat dengan upah yang tiada seberapa. Tapi, aku tahu, itu semua demi keluarga mereka.
Tatapan tulus seorang ibu dan melayangkan senyumnya padaku. Dengan cepatnya ibu itu meneruskan kembali pekerjaan yang menghabiskan banyak keringat. Kusambut senyuman itu dengan lembut, tapi beliau tak sempat melihat senyumku yang menyimpan sejuta rasa iba yang mendekam di dalam hati. Kukayuh terus sepedaku yang selalu setia mengantarkanku sampai tempatku mengais dan menimba ilmu.
Hijaunya kampusku. Kata-kata itulah yang tak lepas dari pikiranku. Siapa lagi yang akan menghijaukan kampusku selain kita, mahasiswa dengan sejuta ideologisnya. Panasnya sinar mentari tak kuhiraukan, walaupun terus memanaskan tubuhku. Agh…serasa di oven. Di tempat yang lain kulihat beberapa ibu dengan pakaian sama, mereka juga telah siap dengan sapu lidinya. Beliau tak menghiraukan kedatanganku. Akupun hanya sempat melihatnya sekejap, karenaku harus mengejar waktu yang terus berotasi bak bumi yang kuinjak-injak ini.
Keringatku cukup mengucur deras seusai menempatkan sepeda miniku di parkiran tempat sepedaku mangkal. Sepeda inilah yang menemaniku ke kampus setiap hari. Walaupun, terkadang dia kutinggal di rumah karena sedikit kerusakan pada tubuhnya. Kuusap lembut keringatku. Ini tak seberapa jika dibanding dengan keringat ibu-ibu yang kulihat tadi.
Seusai kuliah aku tak langsung pulang. Kusempatkan tuk istirahat dengan rekan-rekanku. Kulihat pemandangan yang tidak beda jauh dengan yang kulihat tadi pagi. Seorang bapak tua yang rela demi keluarganya, memunguti sampah di bak sampah kampusku. Miris hatiku melihat bapak yang senantiasa tegar menjalani hidup berbalut seonggokan sampah. Dari sorotan matanya, tak sedikitpun ada rasa lelah dan menyesali hidupnya. Pancaran ceria dengan mata yang terang selalu menghiasi wajah bapak bertopi putih itu.
Ehm…pagi ini aku jalan kaki, karena sepedaku rusak. Mungkin aku memang sekali-kali harus menikmati sejuknya udara di kampus yang kian lama kian menghijau. Di tengah perjalanan, aku melihat seorang ibu yang tersenyum kepadaku. Tetapi kenapa pemandangannya berbeda dengan kemarin. Ibu yang satu ini kira-kira berusia 70an, atau kupanggil nenek sajalah mungkin lebih cocok. Ibu yang kemarin tersenyum kepadaku dengan tangan yang berisi sapu. Tetapi hari ini lain. Sekarang aku melihat nenek dengan tangan hampa yang menjulurkannya ke arahku sambil berkata yang tak kumengerti. Tapi aku tahu maksud nenek itu. Segera kuambil koin yang bertengger di tasku.
Lagi-lagi demi keluarga dan demi makan, semua orang melakukan apapun. Aku tahu, nenek itu sudah tak berdaya lagi untuk bekerja. “Tetapi, mana keluarganya, tega sekali membiarkan nenek yang renta itu mencari nafkah sendiri di tengah-tengah mahasiswa yang masih mengandalkan orang tua untuk makan dan kebutuhan sehari-hari”, Gumamku.
Aku berjalan pelan, benar-benar perjalanan yang melelahkan. Biasanya aku berdansa dengan sepedaku, tapi sekarang aku harus berjalan menyisir jalan. Tak apalah, agar aku juga bisa merasakan kelelahan seperti apa yang ibu-ibu tukang sapu rasakan.
Akhirnya aku sampai. Tiba-tiba… di belakangku sudah ada ibu-ibu peminta-minta “ah ibu, cepat sekali ibu ini menghampiriku, tahu aja kalau aku duduk di sini”, Gumamku dalam hati, sambil merogoh isi tasku tuk mencari dompet. Dan ternyata tak kutemukan dompet yang sedari tadi kucari. Bagaimana ini, aku hanya bisa memandang ibu itu dengan senyum. Dengan senyum pula ibu itu menatap wajahku sampai terus menengadahkan tangannya meminta belas kasihanku.
“Kalau begini aku yang minta belas kasihanmu bu, dompetku ketinggalan di rumah”, Kataku dalam hati. Waduh, ibu ini telah terlanjur menungguku memberinya secuil benda logam yang tiada kutemukan, bahkan secuil pun aku takbawa.
“Ehm…maaf bu, dompetku ketinggalan di rumah”, Kataku pelan sambil tersenyum malu. Kulihat wajah ibu itu tetap berbinar, “Ya gak apa-apa”, Jawabnya sambil tersenyum dan meninggalkanku. Entah dengan perasaan kecewa ataukah menertawakanku dalam hati aku tak peduli.
Terkadang, aku merasa aku serba kekurangan. Aku kurang bersyukur dengan apa yang aku miliki dan apa yang telah melekat di tubuhku ini. Sejenak, bayanganku terlintas ibu tukang sapu, bapak pengais sampah, nenek dan ibu peminta-minta. Merekalah yang terlupa untuk dihargai, bahkan terlupa untuk kuhargai. Aku harus bersyukur dengan apa yang kumiliki. Orang tuaku tak perlu berjuang mati-matian seperti mereka. Ya Allah berikanlah kelancaran rezeki untuk orangtuaku dan mereka yang terlupa untuk kuhargai.
Lantunan merdu kumpulan lidi-lidi yang terikat menjadi sebuah sapu. Sapu yang terayun oleh seorang ibu dengan nafas kembang kempis. Aku tak tega melihat ibu-ibu dengan kaos dan topi yang bertengger di atas kepalanya dan mengucurkan keringat dengan upah yang tiada seberapa. Tapi, aku tahu, itu semua demi keluarga mereka.
Tatapan tulus seorang ibu dan melayangkan senyumnya padaku. Dengan cepatnya ibu itu meneruskan kembali pekerjaan yang menghabiskan banyak keringat. Kusambut senyuman itu dengan lembut, tapi beliau tak sempat melihat senyumku yang menyimpan sejuta rasa iba yang mendekam di dalam hati. Kukayuh terus sepedaku yang selalu setia mengantarkanku sampai tempatku mengais dan menimba ilmu.
Hijaunya kampusku. Kata-kata itulah yang tak lepas dari pikiranku. Siapa lagi yang akan menghijaukan kampusku selain kita, mahasiswa dengan sejuta ideologisnya. Panasnya sinar mentari tak kuhiraukan, walaupun terus memanaskan tubuhku. Agh…serasa di oven. Di tempat yang lain kulihat beberapa ibu dengan pakaian sama, mereka juga telah siap dengan sapu lidinya. Beliau tak menghiraukan kedatanganku. Akupun hanya sempat melihatnya sekejap, karenaku harus mengejar waktu yang terus berotasi bak bumi yang kuinjak-injak ini.
Keringatku cukup mengucur deras seusai menempatkan sepeda miniku di parkiran tempat sepedaku mangkal. Sepeda inilah yang menemaniku ke kampus setiap hari. Walaupun, terkadang dia kutinggal di rumah karena sedikit kerusakan pada tubuhnya. Kuusap lembut keringatku. Ini tak seberapa jika dibanding dengan keringat ibu-ibu yang kulihat tadi.
Seusai kuliah aku tak langsung pulang. Kusempatkan tuk istirahat dengan rekan-rekanku. Kulihat pemandangan yang tidak beda jauh dengan yang kulihat tadi pagi. Seorang bapak tua yang rela demi keluarganya, memunguti sampah di bak sampah kampusku. Miris hatiku melihat bapak yang senantiasa tegar menjalani hidup berbalut seonggokan sampah. Dari sorotan matanya, tak sedikitpun ada rasa lelah dan menyesali hidupnya. Pancaran ceria dengan mata yang terang selalu menghiasi wajah bapak bertopi putih itu.
Ehm…pagi ini aku jalan kaki, karena sepedaku rusak. Mungkin aku memang sekali-kali harus menikmati sejuknya udara di kampus yang kian lama kian menghijau. Di tengah perjalanan, aku melihat seorang ibu yang tersenyum kepadaku. Tetapi kenapa pemandangannya berbeda dengan kemarin. Ibu yang satu ini kira-kira berusia 70an, atau kupanggil nenek sajalah mungkin lebih cocok. Ibu yang kemarin tersenyum kepadaku dengan tangan yang berisi sapu. Tetapi hari ini lain. Sekarang aku melihat nenek dengan tangan hampa yang menjulurkannya ke arahku sambil berkata yang tak kumengerti. Tapi aku tahu maksud nenek itu. Segera kuambil koin yang bertengger di tasku.
Lagi-lagi demi keluarga dan demi makan, semua orang melakukan apapun. Aku tahu, nenek itu sudah tak berdaya lagi untuk bekerja. “Tetapi, mana keluarganya, tega sekali membiarkan nenek yang renta itu mencari nafkah sendiri di tengah-tengah mahasiswa yang masih mengandalkan orang tua untuk makan dan kebutuhan sehari-hari”, Gumamku.
Aku berjalan pelan, benar-benar perjalanan yang melelahkan. Biasanya aku berdansa dengan sepedaku, tapi sekarang aku harus berjalan menyisir jalan. Tak apalah, agar aku juga bisa merasakan kelelahan seperti apa yang ibu-ibu tukang sapu rasakan.
Akhirnya aku sampai. Tiba-tiba… di belakangku sudah ada ibu-ibu peminta-minta “ah ibu, cepat sekali ibu ini menghampiriku, tahu aja kalau aku duduk di sini”, Gumamku dalam hati, sambil merogoh isi tasku tuk mencari dompet. Dan ternyata tak kutemukan dompet yang sedari tadi kucari. Bagaimana ini, aku hanya bisa memandang ibu itu dengan senyum. Dengan senyum pula ibu itu menatap wajahku sampai terus menengadahkan tangannya meminta belas kasihanku.
“Kalau begini aku yang minta belas kasihanmu bu, dompetku ketinggalan di rumah”, Kataku dalam hati. Waduh, ibu ini telah terlanjur menungguku memberinya secuil benda logam yang tiada kutemukan, bahkan secuil pun aku takbawa.
“Ehm…maaf bu, dompetku ketinggalan di rumah”, Kataku pelan sambil tersenyum malu. Kulihat wajah ibu itu tetap berbinar, “Ya gak apa-apa”, Jawabnya sambil tersenyum dan meninggalkanku. Entah dengan perasaan kecewa ataukah menertawakanku dalam hati aku tak peduli.
Terkadang, aku merasa aku serba kekurangan. Aku kurang bersyukur dengan apa yang aku miliki dan apa yang telah melekat di tubuhku ini. Sejenak, bayanganku terlintas ibu tukang sapu, bapak pengais sampah, nenek dan ibu peminta-minta. Merekalah yang terlupa untuk dihargai, bahkan terlupa untuk kuhargai. Aku harus bersyukur dengan apa yang kumiliki. Orang tuaku tak perlu berjuang mati-matian seperti mereka. Ya Allah berikanlah kelancaran rezeki untuk orangtuaku dan mereka yang terlupa untuk kuhargai.
pengamen hati
Panasnya mentari di siang hari tak meyurutkan semangat dua bocah cilik itu. Panas bukanlah musuh baginya, melainkan menjadi kawannya demi sesuap nasi. Berpakaian kotor dan kumal, menjadi ciri khasnya. Tentu mereka berbekal keberanian dan rasa PD bernyanyi-nyanyi di depan khalayak untuk mendapatkan sekantong uang receh. Ya, dialah si pengamen cilik yang berjuang sekuat tenaga demi menghidupi keluarga. Entahlah, apakah dia mencari uang atas keinginannya sendiri, atau disuruh orangtua mereka, mungkin malah ada tangan-tangan tak bertanggungjawab dibalik mereka, yang dengan mudah memperalat anak-anak kecil untuk mendapatkan kepuasan semata.
Terkadang rasa kecewapun menyelimuti hari-hari bocah cilik itu. Tentu, karena banyaknya pemakai jalan yang hanya berlalu lalang tanpa menghiraukan mereka. Melirikpun seperti tak sanggup, apalagi harus susah-susah membuka tas yang telah tertutup rapat hanya untuk mengambil uang receh yang belum tentu mereka punya. Kadang ada malaikat penolong yang siap dengan secarik uang kertas atau sebutir uang logam. Betapa senangnya ketika uluran tangannya tak sia-sia. Walaupun apa yang mereka dapat tak sebanding dengan perjuangan mereka di tengah kepulan asap kendaraan, debu dan panasnya matahari.
”mbak...minta uangnya mbak...”
Suara lirihnya yang diikuti dengan uluran tangan, terdengar menyayat hati siapapun yang mendengar. Rasa iba terkadang terpancar di hatiku dan tentunya para pemakai jalan lainnya. Tetapi, apakah dengan memberinya uang dapat merubah nasib mereka. Tidak tentunya. Mereka hanya ingin uang. Tetapi, sebenarnya banyak sekali yang mereka butuhkan, dan bukan hanya uang semata. Kasih sayang orang tua, tempat tinggal, hidup layak, pendidikan dan masih banyak lagi yang mereka butuhkan dan belum satupun mereka dapat.
Saat lampu lalu lintas berhenti di warna merah, bocah-bocah itu mulai beraksi. Ada yang menuju ke pengendara-pengendara motor, ada yang menuju ke mobil-mobil, ada juga yang hanya di pinggir jalan menunggu ’sang malaikat’ datang dengan memberinya sebutir logam.
Banyak yang mengacuhkannya. Walaupun dengan muka memelas sekalipun. Si bocah cilik dengan sabar menunggu sang pemberi koin tuk mengambilnya dari balik kantong ajaib. Terkadang akupun merasa terganggu dengan kehadirannya. Apalagi di saat jalan ramai dan panas yang menyengat. Tetapi, terkadang aku merasa iba juga melihatnya berkeliaran, apalagi kalau tak seorangpun memberikan apa yang dia butuhkan.
”Paaak...minta uangnya...”. Lagi-lagi katanya memelas sambil mengulurkan tangan ke siapa saja yang dia temui. Ada-ada saja tingkahnya untuk mengambil hati orang-orang yang berhenti di depannya. Ada yang sambil berjoget-joget sambil membawa potongan kayu yang lengkap dengan tutup-tutup botol minuman bersoda. Sehingga, suara bocah-bocah itu tak terdengar karena tertutup oleh suara alat musik yang mereka buat sendiri.
Di satu sisi, bocah-bocah itu sebenarnya berbakat. Mereka kreatif membuat alat-alat musik untuk mengirnginya di tengah kepulan asap, serta yang seharusnya menjadi teladan bagi kita adalah pantang menyerah dan semangatnya yang luar biasa. Tetapi, apa yang dapat mereka rasakan sekarang. Sudah adilkah apa yang mereka peroleh? Tangan-tangan tak berdosa menjadi korban atas orangtua mereka. Mereka yang seharusnya mendapatkan haknya sebagai seorang anak, tetapi malah harus bersusah payah mencari uang. Pendidikan tak mereka dapat. Tempat tinggal layak pun tak dapat mereka tinggali. Apalagi kemewahan. Itu hanya angan-angan belaka baginya. Hanya belas kasihanlah yang mereka inginkan serta uluran tangannya yang disambut manis dengan secarik kertas dan sebutir logam yang melekat di telapak tangan.
Berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, si pengamen cilik tak pernah absen dari jalan yang sering kulewati. Rasa kebingungan terpancar dari mukanya saat harus melewati pengendara yang dengan sigap menutup helm rapat-rapat agar tak terganggu suara-suara dan rintihan kata-kata memelasnya.
Kapan ada lembaga sosial yang bersedia menampung mereka. Bekal keterampilanpun kurasa cukup baginya untuk mendapatkan sesuap nasi. Apalagi mereka memang memiliki bakat yang luar biasa. Menjadi penyanyi, pembuat alat musik tradisional dan masih banyak bakat yang belum tergali dari diri mereka.
Semoga pemerintah atau siapapun yang berhati mulia dapat memberikan bekal untuk mereka nanti. Tak terkecuali diriku nantinya, semoga....
(Irma Putri)
Terkadang rasa kecewapun menyelimuti hari-hari bocah cilik itu. Tentu, karena banyaknya pemakai jalan yang hanya berlalu lalang tanpa menghiraukan mereka. Melirikpun seperti tak sanggup, apalagi harus susah-susah membuka tas yang telah tertutup rapat hanya untuk mengambil uang receh yang belum tentu mereka punya. Kadang ada malaikat penolong yang siap dengan secarik uang kertas atau sebutir uang logam. Betapa senangnya ketika uluran tangannya tak sia-sia. Walaupun apa yang mereka dapat tak sebanding dengan perjuangan mereka di tengah kepulan asap kendaraan, debu dan panasnya matahari.
”mbak...minta uangnya mbak...”
Suara lirihnya yang diikuti dengan uluran tangan, terdengar menyayat hati siapapun yang mendengar. Rasa iba terkadang terpancar di hatiku dan tentunya para pemakai jalan lainnya. Tetapi, apakah dengan memberinya uang dapat merubah nasib mereka. Tidak tentunya. Mereka hanya ingin uang. Tetapi, sebenarnya banyak sekali yang mereka butuhkan, dan bukan hanya uang semata. Kasih sayang orang tua, tempat tinggal, hidup layak, pendidikan dan masih banyak lagi yang mereka butuhkan dan belum satupun mereka dapat.
Saat lampu lalu lintas berhenti di warna merah, bocah-bocah itu mulai beraksi. Ada yang menuju ke pengendara-pengendara motor, ada yang menuju ke mobil-mobil, ada juga yang hanya di pinggir jalan menunggu ’sang malaikat’ datang dengan memberinya sebutir logam.
Banyak yang mengacuhkannya. Walaupun dengan muka memelas sekalipun. Si bocah cilik dengan sabar menunggu sang pemberi koin tuk mengambilnya dari balik kantong ajaib. Terkadang akupun merasa terganggu dengan kehadirannya. Apalagi di saat jalan ramai dan panas yang menyengat. Tetapi, terkadang aku merasa iba juga melihatnya berkeliaran, apalagi kalau tak seorangpun memberikan apa yang dia butuhkan.
”Paaak...minta uangnya...”. Lagi-lagi katanya memelas sambil mengulurkan tangan ke siapa saja yang dia temui. Ada-ada saja tingkahnya untuk mengambil hati orang-orang yang berhenti di depannya. Ada yang sambil berjoget-joget sambil membawa potongan kayu yang lengkap dengan tutup-tutup botol minuman bersoda. Sehingga, suara bocah-bocah itu tak terdengar karena tertutup oleh suara alat musik yang mereka buat sendiri.
Di satu sisi, bocah-bocah itu sebenarnya berbakat. Mereka kreatif membuat alat-alat musik untuk mengirnginya di tengah kepulan asap, serta yang seharusnya menjadi teladan bagi kita adalah pantang menyerah dan semangatnya yang luar biasa. Tetapi, apa yang dapat mereka rasakan sekarang. Sudah adilkah apa yang mereka peroleh? Tangan-tangan tak berdosa menjadi korban atas orangtua mereka. Mereka yang seharusnya mendapatkan haknya sebagai seorang anak, tetapi malah harus bersusah payah mencari uang. Pendidikan tak mereka dapat. Tempat tinggal layak pun tak dapat mereka tinggali. Apalagi kemewahan. Itu hanya angan-angan belaka baginya. Hanya belas kasihanlah yang mereka inginkan serta uluran tangannya yang disambut manis dengan secarik kertas dan sebutir logam yang melekat di telapak tangan.
Berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, si pengamen cilik tak pernah absen dari jalan yang sering kulewati. Rasa kebingungan terpancar dari mukanya saat harus melewati pengendara yang dengan sigap menutup helm rapat-rapat agar tak terganggu suara-suara dan rintihan kata-kata memelasnya.
Kapan ada lembaga sosial yang bersedia menampung mereka. Bekal keterampilanpun kurasa cukup baginya untuk mendapatkan sesuap nasi. Apalagi mereka memang memiliki bakat yang luar biasa. Menjadi penyanyi, pembuat alat musik tradisional dan masih banyak bakat yang belum tergali dari diri mereka.
Semoga pemerintah atau siapapun yang berhati mulia dapat memberikan bekal untuk mereka nanti. Tak terkecuali diriku nantinya, semoga....
(Irma Putri)
Selasa, November 24, 2009
ekspresikan dirimu prennnnd
mengekspresikan diri bukan sesuatu yang sulit. tau gak sih gimana caranya?? pertanyaan besar dan sungguh membingungkan bagi sebagian orang. bagiku mungkin demikian mungkin juga tidak. sebenarnya bagaimana sih cara mengekspresikan diri kita. salah satu cara menurut aku adalah dengan MENULIS. INgat...menulis...!!! itu mungkin sulit dilakukan bagi orang yang tidak terbiasa nulis. tapi, biasakanlah. menulis bukan suatu momok yang sulit bukan? bukan juga suatu momok yang menakutkan. tetapi menulis adalah cerminan jiwa.... kreasikan ide kreatifmu prend lewat tulisan
Rabu, November 04, 2009
karakteristik kakao
Pendahuluan
Keberhasilan Budidaya suatu jenis komoditas tanaman sangat tergantung kepada kultivar tanaman yang ditanam, agroekologis/lingkungan tempat tumbuh tempat melakukan budidaya tanaman dan pengelolaan yang dilakukan oleh petani/pengusaha tani. Khusus mengenai lingkungan tempat tumbuh (agroekologis), walaupun pada dasarnya untuk memenuhi persyaratan tumbuh suatu tanaman dapat direkayasa oleh manusia, namun memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Dalam rangka pengembangan suatu komoditas tanaman, dan terkait budidaya tanaman kakao perlu diketahui bagaimana bentuk morfologi tanaman kakao itu sendiri. Selain itu juga terkait persyaratan tumbuh dari komoditas yang akan dikembangkan kemudian mencari wilayah yang mempunyai kondisi agroekologis/faktor tempat tumbuh yang relatif sesuai.
Bentuk morfologi dari kakao sendiri dapat dilihat mulai dari bagian akar, batang sampai pada buah dan biji kakao. Perlu diketahuinya karakteristik suatu jenis tanaman, hal ini berkaitan erat dengan budidaya tanaman ataupun saat panen. Misalnya pada kakao yang menghendaki kadar air 6-7%. Hal ini dapat memudahkan para petani kakao dalam hal penyimpanan kakao dan kakao dapat disimpan pada suhu yang diinginkan.
Morfologi Tanaman Kakao
1. Batang dan Cabang
Habitat asli tanaman kakao adalah hutan tropis dengan naungan pohon-pohon yang tinggi, curah hujan tinggi, suhu sepanjang tahun relatif sama, serta kelembapan tinggi dan relatif tetap. Dalam habitat seperti itu, tanaman kakao akan tumbuh tinggi tetapi bunga dan buahnya sedikit.
Jika dibudidayakan dikebun, tinggi tanaman umur tiga tahun mencapai 1,8–3,0 meter dan pada umur 12 tahun dapat mencapai 4,5 – 7,0 meter. Tinggi tanaman tersebut beragam, dipengaruhi oleh intensitas naungan serta faktor-faktor tumbuh yang tersedia.
Tanaman kakao bersifat dimorfisme, artinya mempunyai dua bentuk tunas vegetatif. Arahnya pun tegas. Tunas yang arah pertumbuhannya ke atas disebut dengan tunas ortotrop atau tunas air (wiwilan atau chupan), sedangkan tunas yang arah pertumbuhannya ke samping disebut dengan plagiotrop (cabang kipas atau fan).
Tanaman kakao asal biji, setelah mencapai tinggi 0,9 – 1,5 meter akan berhenti tumbuh dan membentuk jorket. Jorket adalah tempat percabangan dari pola percabangan ortotrop ke plagitrop dan khas hanya pada tanaman kakao. Pembentukan jorket didahului dengan berhentinya pertumbuhan tunas ortotrof karena ruas-ruasnya tidak memanjang. Pada ujung tunas tersebut, stipula (semacam sisik pada kuncup bunga) dan kuncup ketiak daun serta tunas daun tidak berkembang. Dari ujung perhentian tersebut selanjutnya tumbuh 3 – 6 cabang yang arah pertumbuhannya condong ke samping membentuk sudut 0– 60 derajat dengan arah horisontal. Cabang-cabang itu disebut dengan cabang primer (cabang plagiotrof). Pada cabang primer tersebut kemudian tumbuh cabang-cabang lateral (fan) sehingga tanaman membentuk tajuk yang rimbun.
Pada tanaman kakao dewasa sepanjang batang pokok tumbuh wiwilan atau tunas air (chupon). Dalam teknik budi daya yang benar, tunas air ini selalu dibuang, tetapi pada tanaman kakao liar, tunas air tersebut akan membentuk bantang dan jorket yang baru sehingga tanaman mempunyai jorket yang bersusun.
Dari tunas plagiotrop biasanya hanya tumbuh tunas-tunas plagiotrop, tetapi juga kadang-kadang tumbuh tunas ortotrop. Pangkasan berat pada cabang plagiotrop yang besar ukurannya merangsang tumbuhnya tunas ortotrop itu. Tunas ortotrop hanya membentuk tunas plagiotrop setelah membentuk jorket. Tunas ortotrop membentuk tunas ortotrop baru dengan menumbuhkan tunas air.
Saat tumbuhnya jorket tidak berhubungan dengan umur atau tinggi tanaman. Pemakaian pot besar dilaporkan menunda tumbuhnya jorket, sedangkan pemupukan dengan 140 ppm N dalam bentuk nitrat mempercepat tumbuhnya jorket. Tanaman kakao membentuk jorket setelah memiliki ruas batang sebanyak 60 – 70 buah. Namun batasan tersebut tidak pasti, karena kenyataannya banyak faktor lingkungan yang berpengaruh dan sukar dikendalikan. Contohnya, kakao yang ditanam di dalam polibag dan mendapat intensitas cahaya 80% akan membentuk jorket lebih pendek daripada tanaman yang ditanam di kebun. Selain itu, jarak antar daun sangat dekat dan ukuran daunnya lebih kecil. Terbatasnya medium perakaran merupakan penyebab utama gejala tersebut. Sebaliknya, tanaman kakao yang ditanam di kebun dengan jarak rapat akan membentuk jorket yang tinggi sebagai efek dari etiolasi (pertumbuhan batang memanjang akibat kekurangan sinar matahari) (Anonim, 2009a).
2. Daun
Percabangan pada tanaman kakao juga dimorfisme. Pada tunas ortotrop, tangkai daunnya panjang, yaitu 7,5 – 10 cm sedangkan pada tunas plagiotrop panjang tangkai daunnya hanya sekitar 2,5 cm (Anonim, 2009b).
Tangkai daun bentuknya silinder dan bersisik halus, bergantung pada tipenya. Salah satu sifat khusus daun kakao yaitu adanya dua persendian (articulation) yang terletak di pangkal dan ujung tangkai daun. Dengan persendian ini dilaporkan daun mampu membuat gerakan untuk menyesuaikan dengan arah datangnya sinar matahari. Bentuk helai daun bulat memanjang (oblongus), ujung daun meruncing (acuminatus), dan pangkal daun runcing (acutus). Susunan tulang daun menyirip dan tulang daun menonjol ke permukaan bawah helai daun. Tepi daun rata, daging daun tipis tetapi kuat seperti perkamen. Warna daun dewasa hijau tua bergantung pada kultivarnya.
Panjang daun dewasa 30 cm dan lebarnya 10 cm. Permukaan daun licin dan mengilap. Pertumbuhan daun pada cabang plagiotrop berlangsung serempak tetapi berkala. Masa tumbuhnya tunas-tunas baru itu dinamakan pertunasan atau flushing. Pada saat itu setiap tunas membentuk 3 – 6 lembar daun baru sekaligus. Setelah masa tunas tersebut selesai, kuncup – kuncup daun itu kembali dorman (istirahat) selama periode tertentu. Kuncup-kuncup akan bertunas lagi oleh rangsangan faktor lingkungan.
3. Ujung kuncup daun yang dorman tertutup oleh sisik (scales). Jika kelak bertunas lagi sisik tersebut rontok meninggalkan bekas (scars) atau lampang yang berdekatan satu sama lain dan disebut dengan cincin lampang (ring scars). Dengan menghitung banyaknya cincin lampang pada suatu cabang, dapat diketahui jumlah pertunasan yang telah terjadi pada cabang yang bersangkutan. Intensitas cahaya memengaruhi ketebalan daun serta kandungan klorofil. Daun yang berada di bawah naungan berukuran lebih lebar dan warnanya lebih hijau daripada daun yang mendapat cahaya penuh
4. Akar
Kakao adalah tanaman dengan surface root feeder, artinya sebagian besar akar lateralnya (mendatar) berkembang dekat permukaan tanah, yaitu pada kedalaman tanah (jeluk) 0 – 30 cm. Menurut Himme (cit. Smyth, 1960), 56% akar lateral tumbuh pada jeluk 11 – 20 cm, 14% pada jeluk 21 – 30 cm, dan hanya 4% tumbuh pada jeluk di atas 30 cm dari permukaan tanah. Jangkauan jelajah akar lateral dinyatakan jauh di luar proyeksi tajuk. Ujungnya membentuk cabang-cabang kecil yang susunannya ruwet (intricate).
5. Bunga
Tanaman kakao bersifat kauliflori. Artinya bunga tumbuh dan berkembang dari bekas ketiak daun pada batang dan cabang. Tempat tumbuh bunga tersebut semakin lama semakin membesar dan menebal atau biasa disebut dengan bantalan bunga (cushion). Bunga kakao mempunyai rumus K5C5A5+5G(5). Artinya, bunga disusun oleh 5 daun kelopak yang bebas satu sama lain, 5 daun mahkota, 10 tangkai sari yang tersusun dalam 2 lingkaran dan masing-masing terdiri dari 5 tangkai sari tetapi hanya satu lingkaran yang fertil, dan 5 daun buah yang bersatu. Bunga kakao berwarna putih, ungu, atau kemerahan. Warna yang kuat terdapat pada benang sari dan daun mahkota. Warna bunga ini khas untuk setiap kultivar. Tangkai bunga kecil tetapi panjang (1-1,5 cm). Daun mahkota panjangnya 6 – 8 mm, terdiri dari dua bagian. Bagian pangkal berbentuk seperti kuku binatang (claw) dan biasanya terdapat dua garis merah. Bagian ujung berupa lembaran tipis, fleksibel, dan berwarna putih.
6. Buah dan Biji
Warna buah kakao sangat beragam, tetapi pada dasarnya hanya ada dua macam warna. Buah yang mudanya berwarna hijau atau hijau agak putih jika sudah masak akan berwarna kuning. Sementara itu, buah yang ketika muda berwarna merah, setelah masak berwarna jingga (orange).
Kulit buah memiliki 10 alur dalam dan dangkal yang letaknya berselang-seling. Pada tipe criollo dan trinitario alur buah kelihatan jelas. Kulit buah tebal tetapi lunak dan permukaannya kasar. Sebaliknya, pada tipe forastero, permukaan kulit buah pada umumnya halus (rata); kulitnya tipis, tetapi keras dan liat.
Buah akan masak setelah berumur enam bulan. Pada saat itu ukurannya beragam, dari panjang 10 hingga 30 cm, bergantung pada kultivar dan faktor-faktor lingkungan selama perkembangan buah.
Biji tersusun dalam lima baris mengelilingi poros buah. Jumlahnya beragam, yaitu 20 – 50 butir per buah. Jika dipotong melintang, tampak bahwa biji disusun oleh dua kotiledon yang saling melipat dan bagian pangkalnya menempel pada poros lembaga (embryo axis). Warna kotiledon putih untuk tipe criollo dan ungu untuk tipe forastero.
Biji dibungkus oleh daging buah (pulpa) yang berwarna putih, rasanya asam manis yang mengandung zat penghambat perkecambahan. Di sebelah dalam daging buah terdapat kulit biji (testa) yang membungkus dua kotiledon dan poros embrio. Biji kakao tidak memiliki masa dorman. Meskipun daging buahnya mengandung zat penghambat perkecambahan, tetapi kadang-kadang biji berkecambah di dalam buah yang terlambat dipanen karena daging buahnya telah kering. Pada saat berkecambah, hipokotil memanjang dan mengangkat kotiledon yang masih menutup ke atas permukaan tanah. Fase ini disebut fase serdadu. Fase kedua ditandai dengan membukanya kotiledon diikuti dengan memanjangnya epikotil dan tumbuhnya empat lembar daun pertama.
Karakter Buah Kakao
1. Karakteristik Fisik
a. Kadar air
Berpengaruh pada daya tahan biji kakao terhadap kerusakan terutama saat penggudangan dan pengangkutan. Biji kakao, yang mempunyai kadar air tinggi, sangat rentan terhadap serangan jamur dan serangga dan dapat menimbulkan kerusakan cita-rasa dan aroma dasar yang tidak dapat diperbaiki pada proses berikutnya. Standar kadar air biji kakao mutu ekspor adalah 6 - 7 %. Jika lebih tinggi dari nilai tersebut, biji kakao tidak aman disimpan dalam waktu lama, sedang jika kadar air terlalu rendah biji kakao cenderung menjadi rapuh.
b. Ukuran biji
Semakin besar ukuran biji kakao, makin tinggi randemen lemak dari dalam biji. Ukuran biji kakao dinyatakan dalam jumlah biji (beans account) per 100 g contoh uji yang diambil secara acak pada kadar air 6 - 7 %.
Ukuran biji rata-rata yang masuk kualitas eskpor adalah antara 1,0-1,2 gram atau setara dengan 85 - 100 biji per 100 g. Ukuran biji kakao kering sangat dipengaruhi oleh jenis bahan tanaman, kondisi kebun (curah hujan) selama perkembangan buah, perlakuan agronomis dan cara pengolahan.
Biji kakao terdiri atas keping biji (nib) yang dilindungi oleh kulit (shell). Kadar kulit dihitung atas dasar perbandingan berat kulit dan berat total biji kakao (kulit + keping) pada kadar air 6 - 7 %. Standar kadar kulit biji kakao yang umum adalah antara 11-13 % (Pawirosoemardjo,1992).
Biji kakao dengan kadar kulit yang tinggi cenderung lebih kuat atau tidak rapuh saat ditumpuk di dalam gudang sehingga biji tersebut dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama. Sebaliknya, jika kadar kulit terlalu rendah, maka penjual (eksportir) biji kakao akan mengalami kerugian dalam bentuk kehilangan bobot. Kadar kulit biji kakao dipengaruhi oleh jenis bahan tanaman dan cara pengolahan (fermentasi dan pencucian). Makin singkat waktu fermentasi, kadar kulit biji kakao makin tinggi karena sebagian besar sisa lendir (pulp) masih menempel pada biji. Namun demikian, kandungan kulit biji tersebut dapat dikurangi dengan proses pencucian.
Daftar Pustaka
Anonim. 2009a. http://agra88.wordpress.com/2008/04/07/budidaya-tanaman-kakao/
Anonim. 2009b. http://afandypoltek.wordpress.com/2008/03/29/morfologi-tanaman-kakao/
Pawirosoemardjo, S. & A. Purwantara 1992. Laju infeksi dan intensitas serangan Phytophthora palmivora pada buah kakao dan batang pada beberapa varietas kakao. Menara Perkebunan, 60 (2), 67-72.
Keberhasilan Budidaya suatu jenis komoditas tanaman sangat tergantung kepada kultivar tanaman yang ditanam, agroekologis/lingkungan tempat tumbuh tempat melakukan budidaya tanaman dan pengelolaan yang dilakukan oleh petani/pengusaha tani. Khusus mengenai lingkungan tempat tumbuh (agroekologis), walaupun pada dasarnya untuk memenuhi persyaratan tumbuh suatu tanaman dapat direkayasa oleh manusia, namun memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Dalam rangka pengembangan suatu komoditas tanaman, dan terkait budidaya tanaman kakao perlu diketahui bagaimana bentuk morfologi tanaman kakao itu sendiri. Selain itu juga terkait persyaratan tumbuh dari komoditas yang akan dikembangkan kemudian mencari wilayah yang mempunyai kondisi agroekologis/faktor tempat tumbuh yang relatif sesuai.
Bentuk morfologi dari kakao sendiri dapat dilihat mulai dari bagian akar, batang sampai pada buah dan biji kakao. Perlu diketahuinya karakteristik suatu jenis tanaman, hal ini berkaitan erat dengan budidaya tanaman ataupun saat panen. Misalnya pada kakao yang menghendaki kadar air 6-7%. Hal ini dapat memudahkan para petani kakao dalam hal penyimpanan kakao dan kakao dapat disimpan pada suhu yang diinginkan.
Morfologi Tanaman Kakao
1. Batang dan Cabang
Habitat asli tanaman kakao adalah hutan tropis dengan naungan pohon-pohon yang tinggi, curah hujan tinggi, suhu sepanjang tahun relatif sama, serta kelembapan tinggi dan relatif tetap. Dalam habitat seperti itu, tanaman kakao akan tumbuh tinggi tetapi bunga dan buahnya sedikit.
Jika dibudidayakan dikebun, tinggi tanaman umur tiga tahun mencapai 1,8–3,0 meter dan pada umur 12 tahun dapat mencapai 4,5 – 7,0 meter. Tinggi tanaman tersebut beragam, dipengaruhi oleh intensitas naungan serta faktor-faktor tumbuh yang tersedia.
Tanaman kakao bersifat dimorfisme, artinya mempunyai dua bentuk tunas vegetatif. Arahnya pun tegas. Tunas yang arah pertumbuhannya ke atas disebut dengan tunas ortotrop atau tunas air (wiwilan atau chupan), sedangkan tunas yang arah pertumbuhannya ke samping disebut dengan plagiotrop (cabang kipas atau fan).
Tanaman kakao asal biji, setelah mencapai tinggi 0,9 – 1,5 meter akan berhenti tumbuh dan membentuk jorket. Jorket adalah tempat percabangan dari pola percabangan ortotrop ke plagitrop dan khas hanya pada tanaman kakao. Pembentukan jorket didahului dengan berhentinya pertumbuhan tunas ortotrof karena ruas-ruasnya tidak memanjang. Pada ujung tunas tersebut, stipula (semacam sisik pada kuncup bunga) dan kuncup ketiak daun serta tunas daun tidak berkembang. Dari ujung perhentian tersebut selanjutnya tumbuh 3 – 6 cabang yang arah pertumbuhannya condong ke samping membentuk sudut 0– 60 derajat dengan arah horisontal. Cabang-cabang itu disebut dengan cabang primer (cabang plagiotrof). Pada cabang primer tersebut kemudian tumbuh cabang-cabang lateral (fan) sehingga tanaman membentuk tajuk yang rimbun.
Pada tanaman kakao dewasa sepanjang batang pokok tumbuh wiwilan atau tunas air (chupon). Dalam teknik budi daya yang benar, tunas air ini selalu dibuang, tetapi pada tanaman kakao liar, tunas air tersebut akan membentuk bantang dan jorket yang baru sehingga tanaman mempunyai jorket yang bersusun.
Dari tunas plagiotrop biasanya hanya tumbuh tunas-tunas plagiotrop, tetapi juga kadang-kadang tumbuh tunas ortotrop. Pangkasan berat pada cabang plagiotrop yang besar ukurannya merangsang tumbuhnya tunas ortotrop itu. Tunas ortotrop hanya membentuk tunas plagiotrop setelah membentuk jorket. Tunas ortotrop membentuk tunas ortotrop baru dengan menumbuhkan tunas air.
Saat tumbuhnya jorket tidak berhubungan dengan umur atau tinggi tanaman. Pemakaian pot besar dilaporkan menunda tumbuhnya jorket, sedangkan pemupukan dengan 140 ppm N dalam bentuk nitrat mempercepat tumbuhnya jorket. Tanaman kakao membentuk jorket setelah memiliki ruas batang sebanyak 60 – 70 buah. Namun batasan tersebut tidak pasti, karena kenyataannya banyak faktor lingkungan yang berpengaruh dan sukar dikendalikan. Contohnya, kakao yang ditanam di dalam polibag dan mendapat intensitas cahaya 80% akan membentuk jorket lebih pendek daripada tanaman yang ditanam di kebun. Selain itu, jarak antar daun sangat dekat dan ukuran daunnya lebih kecil. Terbatasnya medium perakaran merupakan penyebab utama gejala tersebut. Sebaliknya, tanaman kakao yang ditanam di kebun dengan jarak rapat akan membentuk jorket yang tinggi sebagai efek dari etiolasi (pertumbuhan batang memanjang akibat kekurangan sinar matahari) (Anonim, 2009a).
2. Daun
Percabangan pada tanaman kakao juga dimorfisme. Pada tunas ortotrop, tangkai daunnya panjang, yaitu 7,5 – 10 cm sedangkan pada tunas plagiotrop panjang tangkai daunnya hanya sekitar 2,5 cm (Anonim, 2009b).
Tangkai daun bentuknya silinder dan bersisik halus, bergantung pada tipenya. Salah satu sifat khusus daun kakao yaitu adanya dua persendian (articulation) yang terletak di pangkal dan ujung tangkai daun. Dengan persendian ini dilaporkan daun mampu membuat gerakan untuk menyesuaikan dengan arah datangnya sinar matahari. Bentuk helai daun bulat memanjang (oblongus), ujung daun meruncing (acuminatus), dan pangkal daun runcing (acutus). Susunan tulang daun menyirip dan tulang daun menonjol ke permukaan bawah helai daun. Tepi daun rata, daging daun tipis tetapi kuat seperti perkamen. Warna daun dewasa hijau tua bergantung pada kultivarnya.
Panjang daun dewasa 30 cm dan lebarnya 10 cm. Permukaan daun licin dan mengilap. Pertumbuhan daun pada cabang plagiotrop berlangsung serempak tetapi berkala. Masa tumbuhnya tunas-tunas baru itu dinamakan pertunasan atau flushing. Pada saat itu setiap tunas membentuk 3 – 6 lembar daun baru sekaligus. Setelah masa tunas tersebut selesai, kuncup – kuncup daun itu kembali dorman (istirahat) selama periode tertentu. Kuncup-kuncup akan bertunas lagi oleh rangsangan faktor lingkungan.
3. Ujung kuncup daun yang dorman tertutup oleh sisik (scales). Jika kelak bertunas lagi sisik tersebut rontok meninggalkan bekas (scars) atau lampang yang berdekatan satu sama lain dan disebut dengan cincin lampang (ring scars). Dengan menghitung banyaknya cincin lampang pada suatu cabang, dapat diketahui jumlah pertunasan yang telah terjadi pada cabang yang bersangkutan. Intensitas cahaya memengaruhi ketebalan daun serta kandungan klorofil. Daun yang berada di bawah naungan berukuran lebih lebar dan warnanya lebih hijau daripada daun yang mendapat cahaya penuh
4. Akar
Kakao adalah tanaman dengan surface root feeder, artinya sebagian besar akar lateralnya (mendatar) berkembang dekat permukaan tanah, yaitu pada kedalaman tanah (jeluk) 0 – 30 cm. Menurut Himme (cit. Smyth, 1960), 56% akar lateral tumbuh pada jeluk 11 – 20 cm, 14% pada jeluk 21 – 30 cm, dan hanya 4% tumbuh pada jeluk di atas 30 cm dari permukaan tanah. Jangkauan jelajah akar lateral dinyatakan jauh di luar proyeksi tajuk. Ujungnya membentuk cabang-cabang kecil yang susunannya ruwet (intricate).
5. Bunga
Tanaman kakao bersifat kauliflori. Artinya bunga tumbuh dan berkembang dari bekas ketiak daun pada batang dan cabang. Tempat tumbuh bunga tersebut semakin lama semakin membesar dan menebal atau biasa disebut dengan bantalan bunga (cushion). Bunga kakao mempunyai rumus K5C5A5+5G(5). Artinya, bunga disusun oleh 5 daun kelopak yang bebas satu sama lain, 5 daun mahkota, 10 tangkai sari yang tersusun dalam 2 lingkaran dan masing-masing terdiri dari 5 tangkai sari tetapi hanya satu lingkaran yang fertil, dan 5 daun buah yang bersatu. Bunga kakao berwarna putih, ungu, atau kemerahan. Warna yang kuat terdapat pada benang sari dan daun mahkota. Warna bunga ini khas untuk setiap kultivar. Tangkai bunga kecil tetapi panjang (1-1,5 cm). Daun mahkota panjangnya 6 – 8 mm, terdiri dari dua bagian. Bagian pangkal berbentuk seperti kuku binatang (claw) dan biasanya terdapat dua garis merah. Bagian ujung berupa lembaran tipis, fleksibel, dan berwarna putih.
6. Buah dan Biji
Warna buah kakao sangat beragam, tetapi pada dasarnya hanya ada dua macam warna. Buah yang mudanya berwarna hijau atau hijau agak putih jika sudah masak akan berwarna kuning. Sementara itu, buah yang ketika muda berwarna merah, setelah masak berwarna jingga (orange).
Kulit buah memiliki 10 alur dalam dan dangkal yang letaknya berselang-seling. Pada tipe criollo dan trinitario alur buah kelihatan jelas. Kulit buah tebal tetapi lunak dan permukaannya kasar. Sebaliknya, pada tipe forastero, permukaan kulit buah pada umumnya halus (rata); kulitnya tipis, tetapi keras dan liat.
Buah akan masak setelah berumur enam bulan. Pada saat itu ukurannya beragam, dari panjang 10 hingga 30 cm, bergantung pada kultivar dan faktor-faktor lingkungan selama perkembangan buah.
Biji tersusun dalam lima baris mengelilingi poros buah. Jumlahnya beragam, yaitu 20 – 50 butir per buah. Jika dipotong melintang, tampak bahwa biji disusun oleh dua kotiledon yang saling melipat dan bagian pangkalnya menempel pada poros lembaga (embryo axis). Warna kotiledon putih untuk tipe criollo dan ungu untuk tipe forastero.
Biji dibungkus oleh daging buah (pulpa) yang berwarna putih, rasanya asam manis yang mengandung zat penghambat perkecambahan. Di sebelah dalam daging buah terdapat kulit biji (testa) yang membungkus dua kotiledon dan poros embrio. Biji kakao tidak memiliki masa dorman. Meskipun daging buahnya mengandung zat penghambat perkecambahan, tetapi kadang-kadang biji berkecambah di dalam buah yang terlambat dipanen karena daging buahnya telah kering. Pada saat berkecambah, hipokotil memanjang dan mengangkat kotiledon yang masih menutup ke atas permukaan tanah. Fase ini disebut fase serdadu. Fase kedua ditandai dengan membukanya kotiledon diikuti dengan memanjangnya epikotil dan tumbuhnya empat lembar daun pertama.
Karakter Buah Kakao
1. Karakteristik Fisik
a. Kadar air
Berpengaruh pada daya tahan biji kakao terhadap kerusakan terutama saat penggudangan dan pengangkutan. Biji kakao, yang mempunyai kadar air tinggi, sangat rentan terhadap serangan jamur dan serangga dan dapat menimbulkan kerusakan cita-rasa dan aroma dasar yang tidak dapat diperbaiki pada proses berikutnya. Standar kadar air biji kakao mutu ekspor adalah 6 - 7 %. Jika lebih tinggi dari nilai tersebut, biji kakao tidak aman disimpan dalam waktu lama, sedang jika kadar air terlalu rendah biji kakao cenderung menjadi rapuh.
b. Ukuran biji
Semakin besar ukuran biji kakao, makin tinggi randemen lemak dari dalam biji. Ukuran biji kakao dinyatakan dalam jumlah biji (beans account) per 100 g contoh uji yang diambil secara acak pada kadar air 6 - 7 %.
Ukuran biji rata-rata yang masuk kualitas eskpor adalah antara 1,0-1,2 gram atau setara dengan 85 - 100 biji per 100 g. Ukuran biji kakao kering sangat dipengaruhi oleh jenis bahan tanaman, kondisi kebun (curah hujan) selama perkembangan buah, perlakuan agronomis dan cara pengolahan.
Biji kakao terdiri atas keping biji (nib) yang dilindungi oleh kulit (shell). Kadar kulit dihitung atas dasar perbandingan berat kulit dan berat total biji kakao (kulit + keping) pada kadar air 6 - 7 %. Standar kadar kulit biji kakao yang umum adalah antara 11-13 % (Pawirosoemardjo,1992).
Biji kakao dengan kadar kulit yang tinggi cenderung lebih kuat atau tidak rapuh saat ditumpuk di dalam gudang sehingga biji tersebut dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama. Sebaliknya, jika kadar kulit terlalu rendah, maka penjual (eksportir) biji kakao akan mengalami kerugian dalam bentuk kehilangan bobot. Kadar kulit biji kakao dipengaruhi oleh jenis bahan tanaman dan cara pengolahan (fermentasi dan pencucian). Makin singkat waktu fermentasi, kadar kulit biji kakao makin tinggi karena sebagian besar sisa lendir (pulp) masih menempel pada biji. Namun demikian, kandungan kulit biji tersebut dapat dikurangi dengan proses pencucian.
Daftar Pustaka
Anonim. 2009a. http://agra88.wordpress.com/2008/04/07/budidaya-tanaman-kakao/
Anonim. 2009b. http://afandypoltek.wordpress.com/2008/03/29/morfologi-tanaman-kakao/
Pawirosoemardjo, S. & A. Purwantara 1992. Laju infeksi dan intensitas serangan Phytophthora palmivora pada buah kakao dan batang pada beberapa varietas kakao. Menara Perkebunan, 60 (2), 67-72.
Senin, Oktober 12, 2009
pengendalian hama terpadu
PENDAHULUAN
Proses budi daya pertanian tidak terlepas dari Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), kerugian akibat serangan hama bisa mencapai 37 %, penyakit 35 %, gulma 29 %, dan bahkan akibat yang di timbulkan oleh serangan hama tikus bisa menyebabkan gagal panen (puso).
Teknologi pengendalian hama dengan mengandalkan pestisida, ternyata tidak selamanya mampu mengatasi masalah hama tanaman. Bahkan penggunaan pestisida bisa berdampak buruk bagi manusia, jasad bukan sasaran dan lingkungan hidup. Kenyataan tersebut menggugah kesadaran akan kebutuhan pengendalian yang baru, yang dapat mengurangi dampak negatif penggunaan pestisida. Pendekatan pengendalian baru yang dikembangkan ialah pengendalian hama terpadu (PHT).
Konsepsi PHT semula diartikan secara terbatas sebagai kombinasi pengendalian hama secara hayati dan pengendalian hama secara kimiawi menggunakan pestisida. Tetapi teknik pengendalian kemudian dikembangkan dengan memadukan semua metode pengendalian hama yang dikenal. Termasuk didalamnya pengendalian secara fisik, pengendalian mekanik, pengendalian secara bercocok tanam, pengendalian hayati, pengendalian kimiawi dan pengendalian hama lainnya. Dengan cara ini, diharapkan ketergantungan petani terhadap pestisida dapat dikurangi.
Pengertian Pengendalian Hama Terpadu
Banyak ahli memberikan batasan tentang PHT secara beragam, tetapi pada dasarnya mengandung prinsip yang sama. PHT adalah pendekatan ekologi yang bersifat multidisplin untuk pengelolaan populasi hama dengan memanfaatkan beraneka ragam teknik pengendalian secara kompatibel dalam suatu kesatuan kordinasi pengelolaan. PHT juga merupakan pemilihan secara cerdik dari penggunaan tindakan pengendalian hama, yang dapat menjamin hasil yang menguntungkan dilihat dari segi ekonomi, ekologi dan sosiologi.
Dilihat dari segi operasional pengendalian hama dengan PHT dapat kita artikan sebagai pengendalian hama yang memadukan semua teknik atau metode pengendalian hama sedemikian rupa, sehingga populasi hama dapat tetap berada di bawah aras kerusakan.
Sifat Dasar Pengendalian Hama Terpadu
Sifat dasar pengendalian hama terpadu berbeda dengan pengendalian hama secara konvensional yang saat ini masih banyak dipraktekkan. Dalam PHT, tujuan utama bukanlah pemusnahan, pembasmian atau pemberantasan hama. Melainkan berupa pengendalian populasi hama agar tetap berada di bawah aras yang tidak mengakibatkan kerugian secara ekonomi. Strategi PHT bukanlah eradikasi, melainkan pembatasan (containment). Program PHT mengakui bahwa ada suatu jenjang toleransi manusia terhadap populasi hama, atau terhadap kerusakan yang disebabkan oleh hama. Dalam keadaan tertentu, adanya invidu serangga atau binatang kemungkinan berguna bagi manusia. Pandangan yang menyatakan bahwa setiap individu yang ada di lapangan harus diberantas, tidak sesuai dengan prinsip PHT.
Pengendalian hama dengan PHT disebut pengendalian secara multilateral, yaitu menggunakan semua metode atau teknik pengendalian yang dikenal. PHT tidak bergantung pada satu cara pengendalian tertentu, seperti memfokuskan penggunaan pestisida saja, atau penanaman varietas tahan hama saja. Melainkan semua teknik pengendalian sedapat mungkin dikombinasikan secara terpadu, dalam suatu sistem kesatuan pengelolaan. Disamping sifat dasar yang telah dikemukakan, PHT harus dapat dipertanggungjawabkan secara ekologi. Dan penerapannya tidak menimbulkan kerusakan lingkungan yang merugikan bagi mahluk berguna, hewan, dan manusia, baik sekarang maupun pada masa yang akan datang.
Pengembangan PHT
Pengembangan sistem PHT didasarkan pada keadaan agroekosistem setempat. Sehingga pengembangan PHT pada suatu daerah boleh jadi berbeda dengan pengembangan di daerah lain. Sistem PHT harus disesuaikan dengan keadaan ekosistem dan sosial ekonomi masyarakat petani setempat.
Para ahli dan lembaga-lembaga internasional seperti FAO menyarankan langkah pengembangan PHT agak berbeda satu sama lain. Namun diantara saran-saran mereka banyak persamaan. Perbedaannya terutama terletak pada penekanan dan urutan-urutan langkah-langkah yang harus ditempuh.
1. Mengenal Status Hama yang Dikelola
Hama-hama yang menyerang pada suatu agroekosistem, perlu dikenal dengan baik. Sifat-sifat hama perlu diketahui, meliputi perilaku hama, dinamika perkembangan populasi, tingkat kesukaan makanan, dan tingkat kerusakan yang diakibatkannya. Pengenalan hama dapat dilakukan melalui identifikasi dan hasil analisis status hama yang ada.
Dalam suatu agroekosistem, kelompok hama yang ada bisa dikategorikan atas hama utama, hama kadangkala (hama minor), hama potensil, hama migran dan bukan hama. Dengan mempelajari dan mengetahui status hama, dapat ditetapkan jenjang toleransi ekonomi untuk masing-masing kategori hama.
Hama utama atau hama kunci (main pest) merupakan spesies hama yang selalu menyerang pada suatu tempat, dengaan intensitas serangan yang berat dalam daerah yang luas, sehingga memerlukan usaha pengendalian. Tanpa usaha pengendalian, kelompok hama ini akan mendatangkan kerugian ekonomi bagi petani. Biasanya pada suatu agroekosistem, hanya ada satu atau dua hama utama, selebihnya termasuk dalam kategori hama yang lain. Dalam penerapan PHT sasaran yang dituju adalah menurunkan populasi hama utama.
Hama kadangkala atau hama minor (occasional pest) sering juga disebut hama kedua. Kelompok ini merupakan jenis hama yang relatif kurang penting, karena kerusakan yang diakibatkan masih dapat ditoleransikan oleh tanaman. Kadang-kadang populasinya pada suatu saat meningkat melebihi aras toleransi ekonomik tanaman. Peningkatan populasi ini mungkin disebabkan karena gangguan pada proses pengendali alami, keadaan iklim, atau kesalahan pengelolaan oleh manusia. Kelompok hama ini sering kali peka terhadap perlakuan pengendalian yang ditujukan pada hama utama. Oleh karena itu kelompok hama ini perlu diawasi, agar tidak menimbulkan apa yang disebut ledakan populasi hama kedua.
Hama potensil merupakan sebagian besar jenis serangga herbivora yang saling berkompetisi dalam memperoleh makanan. Kelompok hama ini, tidak mendatangkan kerugian yang berarti dan tidak membahayakan dalam kondisi pengelolaan agroekosistem yang normal. Namun karena kedudukannya dalam rantai makanan, populasi kelompok ini berpotensi meningkat, dan menjadi hama yang membahayakan. Hal ini sangat mungkin terjadi, terlebih akibat perubahan cara pengelolaan agroekosistem oleh manusia.
Hama migran merupakan hama yang tidak berasal i dari agroekosistem setempat. Kelompok hama ini datang dari luar, dan sifatnya berpindah-pindah (migran). Banyak serangga belalang, ulat grayak dan bangsa burung memiliki sifat demikian. Kelompok hama migran kalau datang pada suatu tempat, dapat menimbulkan kerusakan yang berarti. Tetapi hanya dalam jangka waktu yang pendek, karena akan pindah ke daerah lain.
2. Mempelajari Komponen Saling Tindak dalam Ekosistem
Komponen suatu ekosistem perlu ditelaah dan dipelajari. Terutama yang mempengaruhi dinamika perkembangan populasi hama-hama utama. Termasuk dalam langkah ini, ialah menginventarisir musuh-musuh alami, sekaligus mengetahui potensi mereka sebagai pengendali alami.
3. Penetapan dan Pengembangan Ambang Ekonomi
Ambang ekonomi atau ambang pengendalian sering juga diistilahkan sebagai ambang toleransi ekonomik. Ambang ini merupakan ketetapan tentang pengambilan keputusan, kapan harus dilaksanakan penggunaan pestisida. Apabila ternyata populasi atau kerusakan hama belum mencapai aras tersebut, penggunaan pestisida masih belum diperlukan.
Untuk menetapkan ambang ekonomi bukanlah pekerjaan yang gampang. Dibutuhkan banyak informasi, baik data biologi dan ekologi, serta ekonomi. Penetapan kerusakan hasil dalam hubungannya dengan populasi hama, merupakan bagian yang penting dalam pengembangan ambang ekonomi. Demikian juga analisis biaya dan manfaat pengendalian, sangat perlu diketahui.
4. Pengembangan Sistem Pengamatan dan Monitoring Hama
Jaringan dan organisasi monitoring yang merupakan salah satu bagian organisasi PHT, perlu dikembangkan agar dapat menjamin ketepatan dan kecepatan arus informasi dari lapangan ke pihak pengambil keputusan pengendalian hama dan sebaliknya.
5. Pengembangan Model Deskriptif dan Peramalan Hama
Dengan mengetahui gejolak populasi hama dan hubungannya dengan komponen-komponen ekosistem lainnya, maka perlu dikembangkan model kuantitatif yang dinamis. Model yang dikembangkan diharapkan mampu menggambarkan gejolak populasi dan kerusakan yang ditimbulkan pada waktu yang akan datang. Sehingga, akan dapat diperkirakan dinamika populasi, sekaligus mempertimbangkan bagaimana penanganan agar tidak sampai terjadi ledakan populasi yang merugikan secara ekonomi.
6. Pengembangan Srategi Pengelolaan Hama
Strategi dasar PHT adalah menggunakan taktik pengendalian ganda dalam suatu kesatuan sistem yang terkordinasi. Strategi PHT mengusahakan agar populasi atau kerusakan yang ditimbulkan hama tetap berada di bawah aras toleransi manusia. Beberapa taktik dasar PHT antara lain :
(1). memanfaatkan pengendalian hayati yang asli ditempat tersebut
(2). mengoptimalkan pengelolaan lingkungan melalui penerapan kultur teknik yang baik,
(3). penggunaan pestisida secara selektif.
7. Penyuluhan Kepada Petani Agar Menerima dan Menerapkan PHT
Petani sebagai pelaksana utama pengendalian hama, perlu menyadari dan mengerti tentang cara pendekatan PHT, termasuk bagaimana menerapkannya di lapangan. Pemahaman lama secara konvensional tentang “pemberantasan” hama, perlu diganti dengan pengertian pengendalian atau pengelolaan hama. Petani perlu diberikan kepercayaan dan kemampuan untuk dapat mengamati sendiri dan melaporkan keadaan hama pada pertanamannya.
Proses budi daya pertanian tidak terlepas dari Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), kerugian akibat serangan hama bisa mencapai 37 %, penyakit 35 %, gulma 29 %, dan bahkan akibat yang di timbulkan oleh serangan hama tikus bisa menyebabkan gagal panen (puso).
Teknologi pengendalian hama dengan mengandalkan pestisida, ternyata tidak selamanya mampu mengatasi masalah hama tanaman. Bahkan penggunaan pestisida bisa berdampak buruk bagi manusia, jasad bukan sasaran dan lingkungan hidup. Kenyataan tersebut menggugah kesadaran akan kebutuhan pengendalian yang baru, yang dapat mengurangi dampak negatif penggunaan pestisida. Pendekatan pengendalian baru yang dikembangkan ialah pengendalian hama terpadu (PHT).
Konsepsi PHT semula diartikan secara terbatas sebagai kombinasi pengendalian hama secara hayati dan pengendalian hama secara kimiawi menggunakan pestisida. Tetapi teknik pengendalian kemudian dikembangkan dengan memadukan semua metode pengendalian hama yang dikenal. Termasuk didalamnya pengendalian secara fisik, pengendalian mekanik, pengendalian secara bercocok tanam, pengendalian hayati, pengendalian kimiawi dan pengendalian hama lainnya. Dengan cara ini, diharapkan ketergantungan petani terhadap pestisida dapat dikurangi.
Pengertian Pengendalian Hama Terpadu
Banyak ahli memberikan batasan tentang PHT secara beragam, tetapi pada dasarnya mengandung prinsip yang sama. PHT adalah pendekatan ekologi yang bersifat multidisplin untuk pengelolaan populasi hama dengan memanfaatkan beraneka ragam teknik pengendalian secara kompatibel dalam suatu kesatuan kordinasi pengelolaan. PHT juga merupakan pemilihan secara cerdik dari penggunaan tindakan pengendalian hama, yang dapat menjamin hasil yang menguntungkan dilihat dari segi ekonomi, ekologi dan sosiologi.
Dilihat dari segi operasional pengendalian hama dengan PHT dapat kita artikan sebagai pengendalian hama yang memadukan semua teknik atau metode pengendalian hama sedemikian rupa, sehingga populasi hama dapat tetap berada di bawah aras kerusakan.
Sifat Dasar Pengendalian Hama Terpadu
Sifat dasar pengendalian hama terpadu berbeda dengan pengendalian hama secara konvensional yang saat ini masih banyak dipraktekkan. Dalam PHT, tujuan utama bukanlah pemusnahan, pembasmian atau pemberantasan hama. Melainkan berupa pengendalian populasi hama agar tetap berada di bawah aras yang tidak mengakibatkan kerugian secara ekonomi. Strategi PHT bukanlah eradikasi, melainkan pembatasan (containment). Program PHT mengakui bahwa ada suatu jenjang toleransi manusia terhadap populasi hama, atau terhadap kerusakan yang disebabkan oleh hama. Dalam keadaan tertentu, adanya invidu serangga atau binatang kemungkinan berguna bagi manusia. Pandangan yang menyatakan bahwa setiap individu yang ada di lapangan harus diberantas, tidak sesuai dengan prinsip PHT.
Pengendalian hama dengan PHT disebut pengendalian secara multilateral, yaitu menggunakan semua metode atau teknik pengendalian yang dikenal. PHT tidak bergantung pada satu cara pengendalian tertentu, seperti memfokuskan penggunaan pestisida saja, atau penanaman varietas tahan hama saja. Melainkan semua teknik pengendalian sedapat mungkin dikombinasikan secara terpadu, dalam suatu sistem kesatuan pengelolaan. Disamping sifat dasar yang telah dikemukakan, PHT harus dapat dipertanggungjawabkan secara ekologi. Dan penerapannya tidak menimbulkan kerusakan lingkungan yang merugikan bagi mahluk berguna, hewan, dan manusia, baik sekarang maupun pada masa yang akan datang.
Pengembangan PHT
Pengembangan sistem PHT didasarkan pada keadaan agroekosistem setempat. Sehingga pengembangan PHT pada suatu daerah boleh jadi berbeda dengan pengembangan di daerah lain. Sistem PHT harus disesuaikan dengan keadaan ekosistem dan sosial ekonomi masyarakat petani setempat.
Para ahli dan lembaga-lembaga internasional seperti FAO menyarankan langkah pengembangan PHT agak berbeda satu sama lain. Namun diantara saran-saran mereka banyak persamaan. Perbedaannya terutama terletak pada penekanan dan urutan-urutan langkah-langkah yang harus ditempuh.
1. Mengenal Status Hama yang Dikelola
Hama-hama yang menyerang pada suatu agroekosistem, perlu dikenal dengan baik. Sifat-sifat hama perlu diketahui, meliputi perilaku hama, dinamika perkembangan populasi, tingkat kesukaan makanan, dan tingkat kerusakan yang diakibatkannya. Pengenalan hama dapat dilakukan melalui identifikasi dan hasil analisis status hama yang ada.
Dalam suatu agroekosistem, kelompok hama yang ada bisa dikategorikan atas hama utama, hama kadangkala (hama minor), hama potensil, hama migran dan bukan hama. Dengan mempelajari dan mengetahui status hama, dapat ditetapkan jenjang toleransi ekonomi untuk masing-masing kategori hama.
Hama utama atau hama kunci (main pest) merupakan spesies hama yang selalu menyerang pada suatu tempat, dengaan intensitas serangan yang berat dalam daerah yang luas, sehingga memerlukan usaha pengendalian. Tanpa usaha pengendalian, kelompok hama ini akan mendatangkan kerugian ekonomi bagi petani. Biasanya pada suatu agroekosistem, hanya ada satu atau dua hama utama, selebihnya termasuk dalam kategori hama yang lain. Dalam penerapan PHT sasaran yang dituju adalah menurunkan populasi hama utama.
Hama kadangkala atau hama minor (occasional pest) sering juga disebut hama kedua. Kelompok ini merupakan jenis hama yang relatif kurang penting, karena kerusakan yang diakibatkan masih dapat ditoleransikan oleh tanaman. Kadang-kadang populasinya pada suatu saat meningkat melebihi aras toleransi ekonomik tanaman. Peningkatan populasi ini mungkin disebabkan karena gangguan pada proses pengendali alami, keadaan iklim, atau kesalahan pengelolaan oleh manusia. Kelompok hama ini sering kali peka terhadap perlakuan pengendalian yang ditujukan pada hama utama. Oleh karena itu kelompok hama ini perlu diawasi, agar tidak menimbulkan apa yang disebut ledakan populasi hama kedua.
Hama potensil merupakan sebagian besar jenis serangga herbivora yang saling berkompetisi dalam memperoleh makanan. Kelompok hama ini, tidak mendatangkan kerugian yang berarti dan tidak membahayakan dalam kondisi pengelolaan agroekosistem yang normal. Namun karena kedudukannya dalam rantai makanan, populasi kelompok ini berpotensi meningkat, dan menjadi hama yang membahayakan. Hal ini sangat mungkin terjadi, terlebih akibat perubahan cara pengelolaan agroekosistem oleh manusia.
Hama migran merupakan hama yang tidak berasal i dari agroekosistem setempat. Kelompok hama ini datang dari luar, dan sifatnya berpindah-pindah (migran). Banyak serangga belalang, ulat grayak dan bangsa burung memiliki sifat demikian. Kelompok hama migran kalau datang pada suatu tempat, dapat menimbulkan kerusakan yang berarti. Tetapi hanya dalam jangka waktu yang pendek, karena akan pindah ke daerah lain.
2. Mempelajari Komponen Saling Tindak dalam Ekosistem
Komponen suatu ekosistem perlu ditelaah dan dipelajari. Terutama yang mempengaruhi dinamika perkembangan populasi hama-hama utama. Termasuk dalam langkah ini, ialah menginventarisir musuh-musuh alami, sekaligus mengetahui potensi mereka sebagai pengendali alami.
3. Penetapan dan Pengembangan Ambang Ekonomi
Ambang ekonomi atau ambang pengendalian sering juga diistilahkan sebagai ambang toleransi ekonomik. Ambang ini merupakan ketetapan tentang pengambilan keputusan, kapan harus dilaksanakan penggunaan pestisida. Apabila ternyata populasi atau kerusakan hama belum mencapai aras tersebut, penggunaan pestisida masih belum diperlukan.
Untuk menetapkan ambang ekonomi bukanlah pekerjaan yang gampang. Dibutuhkan banyak informasi, baik data biologi dan ekologi, serta ekonomi. Penetapan kerusakan hasil dalam hubungannya dengan populasi hama, merupakan bagian yang penting dalam pengembangan ambang ekonomi. Demikian juga analisis biaya dan manfaat pengendalian, sangat perlu diketahui.
4. Pengembangan Sistem Pengamatan dan Monitoring Hama
Jaringan dan organisasi monitoring yang merupakan salah satu bagian organisasi PHT, perlu dikembangkan agar dapat menjamin ketepatan dan kecepatan arus informasi dari lapangan ke pihak pengambil keputusan pengendalian hama dan sebaliknya.
5. Pengembangan Model Deskriptif dan Peramalan Hama
Dengan mengetahui gejolak populasi hama dan hubungannya dengan komponen-komponen ekosistem lainnya, maka perlu dikembangkan model kuantitatif yang dinamis. Model yang dikembangkan diharapkan mampu menggambarkan gejolak populasi dan kerusakan yang ditimbulkan pada waktu yang akan datang. Sehingga, akan dapat diperkirakan dinamika populasi, sekaligus mempertimbangkan bagaimana penanganan agar tidak sampai terjadi ledakan populasi yang merugikan secara ekonomi.
6. Pengembangan Srategi Pengelolaan Hama
Strategi dasar PHT adalah menggunakan taktik pengendalian ganda dalam suatu kesatuan sistem yang terkordinasi. Strategi PHT mengusahakan agar populasi atau kerusakan yang ditimbulkan hama tetap berada di bawah aras toleransi manusia. Beberapa taktik dasar PHT antara lain :
(1). memanfaatkan pengendalian hayati yang asli ditempat tersebut
(2). mengoptimalkan pengelolaan lingkungan melalui penerapan kultur teknik yang baik,
(3). penggunaan pestisida secara selektif.
7. Penyuluhan Kepada Petani Agar Menerima dan Menerapkan PHT
Petani sebagai pelaksana utama pengendalian hama, perlu menyadari dan mengerti tentang cara pendekatan PHT, termasuk bagaimana menerapkannya di lapangan. Pemahaman lama secara konvensional tentang “pemberantasan” hama, perlu diganti dengan pengertian pengendalian atau pengelolaan hama. Petani perlu diberikan kepercayaan dan kemampuan untuk dapat mengamati sendiri dan melaporkan keadaan hama pada pertanamannya.
Sabtu, September 26, 2009
pembungaan/ flowering
Pembungaan (flowering)
Proses pembungaan mengandung sejumlah tahap penting, yang semuanya harus berhasil dilangsungkan untuk memperoleh hasil akhir yaitu biji. Masing-masing tahap tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor internal dan eksternal yang berbeda.
1.Induksi bunga (evokasi)
Adalah tahap pertama dari proses pembungaan, yaitu suatu tahap ketika meristem vegetatif diprogram untuk mulai berubah menjadi meristem reproduktif.
Terjadi di dalam sel.
Dapat dideteksi secara kimiawi dari peningkatan sintesis asam nukleat dan protein, yang dibutuhkan dalam pembelahan dan diferensiasi sel.
2.Inisiasi bunga
Adalah tahap ketika perubahan morfologis menjadi bentuk kuncup reproduktif mulai dapat terdeteksi secara makroskopis untuk pertama kalinya.
Transisi dari tunas vegetatif menjadi kuncup reproduktif ini dapat dideteksi dari perubahan bentuk maupun ukuran kuncup, serta proses-proses selanjutnya yang mulai membentuk organ-organ reproduktif.
3. Perkembangan kuncup bunga menuju anthesis (bunga mekar)
Ditandai dengan terjadinya diferensiasi bagian-bagian bunga.
Pada tahap ini terjadi proses megasporogenesis dan mikrosporogenesis untuk penyempurnaan dan pematangan organ-organ reproduksi jantan dan betina.
4. Anthesis
Merupakan tahap ketika terjadi pemekaran bunga.
Biasanya anthesis terjadi bersamaan dengan masaknya organ reproduksi jantan dan betina, walaupun dalam kenyataannya tidak selalu demikian. Ada kalanya organ reproduksi, baik jantan maupun betina, masak sebelum terjadi anthesis, atau bahkan jauh setelah terjadinya anthesis.
Bunga-bunga bertipe dichogamy mencapai kemasakan organ reproduktif jantan dan betinanya dalam waktu yang tidak bersamaan.
5. Penyerbukan dan pembuahan
Tahap ini memberikan hasil terbentuknya buah muda. Detil dari proses penyerbukan dan pembuahan akan dijelaskan pada bab tersendiri.
6. Perkembangan buah muda menuju kemasakan buah dan biji
Tahap ini diawali dengan pembesaran bakal buah (ovarium), yang diikuti oleh perkembangan cadangan makanan (endosperm), dan selanjutnya terjadi perkembangan embryo.
Pembesaran buah merupakan efek dari pembelahan dan pembesaran sel, yang meliputi tiga tahap:
Tahap pertama :
Terjadi peningkatan penebalan pada pericarp oleh adanya pembelahan sel.
Tahap kedua :
Terjadi pembentukan dan pembesaran vesikel berair (juice vesicle); biasanya terjadi pada buah-buah fleshy
Tahap ketiga :
Tahap pematangan, biasanya terjadi pengkerutan jaringan dan pengerasan endocarp pada buah-buah dry
Selama tahap-tahap ini terjadi pula akumulasi air dan gula, hingga pada tahap ketiga buah telah mengandung 80-90% air dan 2-10-20% gula.
Proses pembungaan mengandung sejumlah tahap penting, yang semuanya harus berhasil dilangsungkan untuk memperoleh hasil akhir yaitu biji. Masing-masing tahap tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor internal dan eksternal yang berbeda.
1.Induksi bunga (evokasi)
Adalah tahap pertama dari proses pembungaan, yaitu suatu tahap ketika meristem vegetatif diprogram untuk mulai berubah menjadi meristem reproduktif.
Terjadi di dalam sel.
Dapat dideteksi secara kimiawi dari peningkatan sintesis asam nukleat dan protein, yang dibutuhkan dalam pembelahan dan diferensiasi sel.
2.Inisiasi bunga
Adalah tahap ketika perubahan morfologis menjadi bentuk kuncup reproduktif mulai dapat terdeteksi secara makroskopis untuk pertama kalinya.
Transisi dari tunas vegetatif menjadi kuncup reproduktif ini dapat dideteksi dari perubahan bentuk maupun ukuran kuncup, serta proses-proses selanjutnya yang mulai membentuk organ-organ reproduktif.
3. Perkembangan kuncup bunga menuju anthesis (bunga mekar)
Ditandai dengan terjadinya diferensiasi bagian-bagian bunga.
Pada tahap ini terjadi proses megasporogenesis dan mikrosporogenesis untuk penyempurnaan dan pematangan organ-organ reproduksi jantan dan betina.
4. Anthesis
Merupakan tahap ketika terjadi pemekaran bunga.
Biasanya anthesis terjadi bersamaan dengan masaknya organ reproduksi jantan dan betina, walaupun dalam kenyataannya tidak selalu demikian. Ada kalanya organ reproduksi, baik jantan maupun betina, masak sebelum terjadi anthesis, atau bahkan jauh setelah terjadinya anthesis.
Bunga-bunga bertipe dichogamy mencapai kemasakan organ reproduktif jantan dan betinanya dalam waktu yang tidak bersamaan.
5. Penyerbukan dan pembuahan
Tahap ini memberikan hasil terbentuknya buah muda. Detil dari proses penyerbukan dan pembuahan akan dijelaskan pada bab tersendiri.
6. Perkembangan buah muda menuju kemasakan buah dan biji
Tahap ini diawali dengan pembesaran bakal buah (ovarium), yang diikuti oleh perkembangan cadangan makanan (endosperm), dan selanjutnya terjadi perkembangan embryo.
Pembesaran buah merupakan efek dari pembelahan dan pembesaran sel, yang meliputi tiga tahap:
Tahap pertama :
Terjadi peningkatan penebalan pada pericarp oleh adanya pembelahan sel.
Tahap kedua :
Terjadi pembentukan dan pembesaran vesikel berair (juice vesicle); biasanya terjadi pada buah-buah fleshy
Tahap ketiga :
Tahap pematangan, biasanya terjadi pengkerutan jaringan dan pengerasan endocarp pada buah-buah dry
Selama tahap-tahap ini terjadi pula akumulasi air dan gula, hingga pada tahap ketiga buah telah mengandung 80-90% air dan 2-10-20% gula.
Jumat, September 11, 2009
apa sih yang kamu ketahui tentang KULJAR???
jelaslah...KULJAR ADALAH KULTUR JARINGAN...
yaitu teknik perbanyakan tanaman secara aseptik/steril yang dilakukan secara in vitro.
dalam pengertian lain, Kultur jaringan atau biakan jaringan merupakan teknik pemeliharaan jaringan atau bagian dari individu secara buatan (artifisial). Yang dimaksud secara buatan adalah dilakukan di luar individu yang bersangkutan. Karena itu teknik ini sering kali disebut kultur in vitro, sebagai lawan dari in vivo. Dikatakan in vitro (bahasa Latin, berarti "di dalam kaca") karena jaringan dibiakkan di dalam tabung inkubasi atau cawan Petri dari kaca atau material tembus pandang lainnya. Kultur jaringan secara teoretis dapat dilakukan untuk semua jaringan, baik dari tumbuhan maupun hewan (termasuk manusia) namun masing-masing jaringan memerlukan komposisi media tertentu.
faktor penentu keberhasilan dalam kultur jaringan
1. Genotipe Tanaman
Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur invitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies, bahkan varietas, atau tanaman asal eksplan tersebut. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan, seperti kebutuhan nutrisi, zat pengatur tumbuh, dan lingkungan kultur. Oleh karena itu, komposisi media, zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama.
Perbedaan respon genotip tanaman tersebut dapat diamati pada perbedaan eksplan masing-masing varietas untuk tumbuh dan beregenerasi. Masing-masing varietas tanaman berbeda kemampuannya dalam merangsang pertumbuhan tunas aksilar, baik jumlah tunas maupun kecepatan pertumbuhan tunas aksilarnya. Hal serupa juga terjadi pada pembentukan kalus, laju pertumbuhan kalus serta regenerasi kalus menjadi tanaman lengkap baik melalui pembentukan organ-organ adventif maupun embrio somatik. Regenerasi dan perkembangan organ adventif dan embrio somatik juga sangat ditentukan oleh varietas tanaman induk. Perbedaan pengaruh genetik ini disebabkan karena perbedaan kontrol genetik dari masing-masing varietas serta jenis kelamin tanaman induk.
2. Media kultur
Perbedaan komposisi media, komposisi zat pengatur tumbuh dan jenis media yang digunakan akan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan regenerasi eksplan yang dikulturkan.
a. Komposisi Media
Perbedaan komposisi media, seperti jenis dan komposisi garam-garam anorganik, senyawa organik, zat pengatur tumbuh sangat mempengaruhi respon eksplan saat dikulturkan. Perbedaan komposisi media biasanya sangat mempengaruhi arah pertumbuhan dan regenerasi eksplan. Meskipun demikian, media yang telah diformulasikan tidak hanya berlaku untuk satu jenis eksplan dan tanaman saja. Beberapa jenis formulasi media bahkan digunakan secara umum untuk berbagai jenis eksplan dan varietas tanaman, seperti media MS. Namun ada juga beberapa jenis media yang diformulasikan untuk tanaman-tanaman tertentu misalnya WPM, VW dll. Media-media tersebut dapat digunakan untuk berbagai tujuan seperti perkecambahan biji, kultur pucuk, kultur kalus, regenerasi kalus melalui organogenesis dan embriogenesis. Media yang dibutuhkan untuk perkecambahan biji, perangsangan tunas-tunas aksilar umumnya lebih sederhana dibandingkan dengan media untuk regenerasi kalus baik melalui organogenesis maupun embryogenesis.
b. Komposisi hormon pertumbuhan.
Komposisi dan konsentrasi hormon pertumbuhan yang ditambahkan dalam media sangat mempengaruhi arah pertumbuhan dan regenerasi eksplan yang dikulturkan. Komposisi dan konsentrasi hormon pertumbuhan yang ditambahkan ke dalam media kultur sangat tergantung dari jenis eksplan yang dikulturkan dan tujuan pengkulturannya. Konsentrasi hormon pertumbuhan optimal yang ditambahkan ke dalam media tergantung pula dari eksplan yang dikulturkan serta kandungan hormon pertumbuhan endogen yang terdapat pada eksplan tersebut. Komposisi yang sesuai ini dapat diperkirakan melalui percobaan-percobaan yang telah dilakukan sebelumnya disertai percobaan untuk mengetahui komposisi hormon pertumbuhan yang sesuai dengan kebutuhan dan arah pertumbuhan eksplan yang diinginkan.
Hormon pertumbuhan yang digunakan untuk perbanyakan secara invitro adalah golongan auksin, sitokinin, giberelin, dan growth retardant. Auksin yang umum dipakai adalah IAA (Indole Acetic Acid), IBA (Indole Butyric Acid), NAA (Naphtalena Acetic Acid), dan 2,4-D (2,4-dichlorophenoxy Acetic Acid). Selain itu beberapa peneliti pada beberapa tanaman menggunakan juga CPA (Chlorophenoxy Acetic Acid). Sitokinin yang banyak dipakai adalah Kinetin (Furfuryl Amino Purine), BAP/BA (Benzyl Amino Purine/Benzyl Adenine), 2 i-P (2-isopentenyl Adenin). Beberapa sitokinin lainnya yang juga digunakan adalah zeatin, thidiazuron dan PBA (6(benzylamino)-9-(2-tetrahydropyranyl)-9H-purine). Hormon pertumbuhan golongan giberellin yang paling umum digunakan adalah GA3, selain itu ada beberapa peneliti yang menggunakan GA4 dan GA7, sedangkan growth retardant yang sering digunakan adalah Ancymidol, Paraclobutrazol dan TIBA, AbA dan CCC.
c. Keadaan fisik media.
Media yang umum digunakan dalam kultur jaringan adalah medium padat, medium semi padat dan medium cair. Keadaan fisik media akan mempengaruhi pertumbuhan kultur, kecepatan pertumbuhan dan diferensiasinya. Keadaan fisik media ini mempengaruhi pertumbuhan antara lain karena efeknya terhadap osmolaritas larutan dalam media serta ketersediaan oksigen bagi pertumbuhan eksplan yang dikulturkan.
Media yang umum digunakan dalam mikropropagasi adalah media semi-solid (semi padat) dengan cara menambahkan agar. Media semi padat ini digunakan karena beberapa alasan antara lain: eksplan yang kecil mudah terlihat dalam media padat, selama kultur eksplan tetap berada pada orientasi yang sama, eksplan berada di atas permukaan media sehingga tidak diperlukan teknik aerasi tambahan pada kultur, orientasi pertumbuhan tunas dan akar tetap, dan kalus tidak pecah seperti jika ditempatkan pada media cair. Namun penambahan agar dalam beberapa kasus dapat menghambat pertumbuhan karena: agar mungkin mengandung senyawa penghambat yang dapat menghambat morfogenesis beberapa kultur atau memperlambat pertumbuhan kultur, eksudasi fenolik dari eksplan terserap oleh media yang menempel dengan eksplan sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan eksplan, agar harus dicuci bersih dari akar sebelum diaklimatisasi, dan perlu waktu yang lebih banyak untuk mencuci gelas kultur misalnya botol-botol harus diautoclave untuk melarutkan agar sebelum dicuci.
3. Lingkungan tumbuh
a) Suhu.
Tanaman umumnya tumbuh pada lingkungan dengan suhu yang tidak sama setiap saat, misalnya pada siang dan malam hari tanaman mengalami kondisi dengan perbedaan suhu yang cukup besar. Keadaan demikian bisa dilakukan dalam kultur invitro dengan mengatur suhu siang dan malam di ruang kultur, namun laboratorium kultur jaringan selama ini mengatur suhu ruang kultur yang konstant baik pada siang maupun malam hari. Umumnya temperatur yang digunakan dalam kultur in vitro lebih tinggi dari kondisi suhu invivo. Tujuannya adalah untuk mempercepat pertumbuhan dan morfogenesis eksplan.
Pada sebagian besar laboratorium, suhu yang digunakan adalah konstan, yaitu 25°C (kisaran suhu 17-32°C). Tanaman tropis umumnya dikulturkan pada suhu yang sedikit lebih tinggi dari tanaman empat musim, yaitu 27°C (kisaran suhu 24-32°C). Bila suhu siang dan malam diatur berbeda, maka perbedaan umumnya adalah 4-8°C, variasi yang biasa dilakukan adalah 25°C siang dan 20°C malam, atau 28°C siang dan 24°C malam. Meskipun hampir semua tanaman dapat tumbuh pada kisaran suhu tersebut, namun kebutuhan suhu untuk masing-masing jenis tanaman umumnya berbeda-beda. Tanaman dapat tumbuh dengan baik pada suhu optimumnya. Pada suhu ruang kultur dibawah optimum, pertumbuhan eksplan lebih lambat, namun pada suhu diatas optimum pertumbuhan tanaman juga terhambat akibat tingginya laju respirasi eksplan.
b) Kelembaban relatif.
Kelembaban relatif dalam botol kultur dengan mulut botol yang ditutup umumnya cukup tinggi, yaitu berkisar antara 80-99%. Jika mulut botol ditutup agak longgar maka kelembaban relatif dalam botol kultur dapat lebih rendah dari 80%. Sedangkan kelembaban relatif di ruang kultur umumnya adalah sekitar 70%. Jika kelembaban relatif ruang kultur berada dibawah 70% maka akan mengakibatkan media dalam botol kultur (yang tidak tertutup rapat) akan cepat menguap dan kering sehingga eksplan dan plantlet yang dikulturkan akan cepat kehabisan media. Namun kelembaban udara dalam botol kultur yang terlalu tinggi menyebabkan tanaman tumbuh abnormal yaitu daun lemah, mudah patah, tanaman kecil-kecil namun terlampau sukulen. Kondisi tanaman demikian disebut vitrifikasi atau hiperhidrocity. Sub-kultur ke media lain atau menempatkan planlet kecil ini dalam botol dengan tutup yang agak longgar, tutup dengan filter, atau menempatkan silica gel dalam botol kultur dapat membantu mengatasi masalah ini.
c) Cahaya.
Seperti halnya pertumbuhan tanaman dalam kondisi invivo, kuantitas dan kualitas cahaya, yaitu intensitas, lama penyinaran dan panjang gelombang cahaya mempengaruhi pertumbuhan eksplan dalam kultur invitro. Pertumbuhan organ atau jaringan tanaman dalam kultur invitro umumnya tidak dihambat oleh cahaya, namun pertumbuhan kalus umumnya dihambat oleh cahaya.
Pada perbanyakan tanaman secara invitro, kultur umumnya diinkubasikan pada ruang penyimpanan dengan penyinaran. Tunas-tunas umumnya dirangsang pertumbuhannya dengan penyinaran, kecuali pada teknik perbanyakan yang diawali dengan pertumbuhan kalus. Sumber cahaya pada ruang kultur ini umumnya adalah lampu flourescent (TL). Hal ini disebabkan karena lampu TL menghasilkan cahaya warna putih, selain itu sinar lampu TL tidak meningkatkan suhu ruang kultur secara drastis (hanya meningkat sedikit). Intensitas cahaya yang digunakan pada ruang kultur umumnya jauh lebih rendah (1/10) dari intensitas cahaya yang dibutuhkan tanaman dalam keadaan normal. Intensitas cahaya dalam ruang kultur untuk pertumbuhan tunas umumnya berkisar antara 600-1000 lux. Perkecambahan dan inisiasi akar umumnya dilakukan pada intensitas cahaya lebih rendah.
Selain intensitas cahaya, lama penyinaran atau photoperiodisitas juga mempengaruhi pertumbuhan eksplan yang dikulturkan. Lama penyinaran umumnya diatur sesuai dengan kebutuhan tanaman sesuai dengan kondisi alamiahnya. Periode terang dan gelap umumnya diatur pada kisaran 8-16 jam terang dan 16-8 jam gelap tergantung varietas tanaman dan eksplan yang dikulturkan. Periode siang/malam (terang/gelap) ini diatur secara otomatis menggunakan timer yang ditempatkan pada saklar lampu pada ruang kultur. Dengan teknik ini penyinaran dapat diatur konstan sesuai kebutuhan tanaman.
4. Kondisi Eksplan
Pertumbuhan dan morfogenesis dalam mikropropagasi sangat dipengaruhi oleh keadaan jaringan tanaman yang digunakan sebagai eksplan. Selain faktor genetis eksplan yang telah disebutkan di atas, kondisi eksplan yang mempengaruhi keberhasilan teknik mikropropagasi adalah jenis eksplan, ukuran, umur dan fase fisiologis jaringan yang digunakan sebagai eksplan.
Meskipun masing-masing sel tanaman memiliki kemampuan totipotensi, namun masing-masing jaringan memiliki kemampuan yang berbeda-beda untuk tumbuh dan beregenerasi dalam kultur jaringan. Oleh karena itu, jenis eksplan yang digunakan untuk masing-masing kultur berbeda-beda tergantung tujuan pengkulturannya.
Umur eksplan sangat berpengaruh terhadap kemampuan eksplan tersebut untuk tumbuh dan beregenerasi. Umumnya eksplan yang berasal dari jaringan tanaman yang masih muda (juvenil) lebih mudah tumbuh dan beregenerasi dibandingkan dengan jaringan yang telah terdiferensiasi lanjut. Jaringan muda umumnya memiliki sel-sel yang aktif membelah dengan dinding sel yang belum kompleks sehingga lebih mudah dimodifikasi dalam kultur dibandingkan jaringan tua. Oleh karena itu, inisiasi kultur biasanya dilakukan dengan menggunakan pucuk-pucuk muda, kuncup-kuncup muda, hipokotil, inflorescence yang belum dewasa, dll. Jika eksplan diambil dari tanaman dewasa, rejuvenilisasi tanaman induk melalui pemangkasan atau pemupukan dapat membantu untuk memperoleh eksplan muda agar kultur lebih berhasil.
Ukuran eksplan juga mempengaruhi keberhasilan kultur. Eksplan dengan ukuran kecil lebih mudah disterilisasi dan tidak membutuhkan ruang serta media yang banyak, namun kemampuannya untuk beregenerasi juga lebih kecil sehingga dibutuhkan media yang lebih kompleks untuk pertumbuhan dan regenerasinya. Sebaliknya semakin besar eksplan, maka semakin besar kemungkinannya untuk membawa penyakit dan makin sulit untuk disterilkan, membutuhkan ruang dan media kultur yang lebih banyak. Ukuran eskplan yang sesuai sangat tergantung dari jenis tanaman yang dikulturkan, teknik dan tujuan pengkulturannya.
jelaslah...KULJAR ADALAH KULTUR JARINGAN...
yaitu teknik perbanyakan tanaman secara aseptik/steril yang dilakukan secara in vitro.
dalam pengertian lain, Kultur jaringan atau biakan jaringan merupakan teknik pemeliharaan jaringan atau bagian dari individu secara buatan (artifisial). Yang dimaksud secara buatan adalah dilakukan di luar individu yang bersangkutan. Karena itu teknik ini sering kali disebut kultur in vitro, sebagai lawan dari in vivo. Dikatakan in vitro (bahasa Latin, berarti "di dalam kaca") karena jaringan dibiakkan di dalam tabung inkubasi atau cawan Petri dari kaca atau material tembus pandang lainnya. Kultur jaringan secara teoretis dapat dilakukan untuk semua jaringan, baik dari tumbuhan maupun hewan (termasuk manusia) namun masing-masing jaringan memerlukan komposisi media tertentu.
faktor penentu keberhasilan dalam kultur jaringan
1. Genotipe Tanaman
Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur invitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies, bahkan varietas, atau tanaman asal eksplan tersebut. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan, seperti kebutuhan nutrisi, zat pengatur tumbuh, dan lingkungan kultur. Oleh karena itu, komposisi media, zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama.
Perbedaan respon genotip tanaman tersebut dapat diamati pada perbedaan eksplan masing-masing varietas untuk tumbuh dan beregenerasi. Masing-masing varietas tanaman berbeda kemampuannya dalam merangsang pertumbuhan tunas aksilar, baik jumlah tunas maupun kecepatan pertumbuhan tunas aksilarnya. Hal serupa juga terjadi pada pembentukan kalus, laju pertumbuhan kalus serta regenerasi kalus menjadi tanaman lengkap baik melalui pembentukan organ-organ adventif maupun embrio somatik. Regenerasi dan perkembangan organ adventif dan embrio somatik juga sangat ditentukan oleh varietas tanaman induk. Perbedaan pengaruh genetik ini disebabkan karena perbedaan kontrol genetik dari masing-masing varietas serta jenis kelamin tanaman induk.
2. Media kultur
Perbedaan komposisi media, komposisi zat pengatur tumbuh dan jenis media yang digunakan akan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan regenerasi eksplan yang dikulturkan.
a. Komposisi Media
Perbedaan komposisi media, seperti jenis dan komposisi garam-garam anorganik, senyawa organik, zat pengatur tumbuh sangat mempengaruhi respon eksplan saat dikulturkan. Perbedaan komposisi media biasanya sangat mempengaruhi arah pertumbuhan dan regenerasi eksplan. Meskipun demikian, media yang telah diformulasikan tidak hanya berlaku untuk satu jenis eksplan dan tanaman saja. Beberapa jenis formulasi media bahkan digunakan secara umum untuk berbagai jenis eksplan dan varietas tanaman, seperti media MS. Namun ada juga beberapa jenis media yang diformulasikan untuk tanaman-tanaman tertentu misalnya WPM, VW dll. Media-media tersebut dapat digunakan untuk berbagai tujuan seperti perkecambahan biji, kultur pucuk, kultur kalus, regenerasi kalus melalui organogenesis dan embriogenesis. Media yang dibutuhkan untuk perkecambahan biji, perangsangan tunas-tunas aksilar umumnya lebih sederhana dibandingkan dengan media untuk regenerasi kalus baik melalui organogenesis maupun embryogenesis.
b. Komposisi hormon pertumbuhan.
Komposisi dan konsentrasi hormon pertumbuhan yang ditambahkan dalam media sangat mempengaruhi arah pertumbuhan dan regenerasi eksplan yang dikulturkan. Komposisi dan konsentrasi hormon pertumbuhan yang ditambahkan ke dalam media kultur sangat tergantung dari jenis eksplan yang dikulturkan dan tujuan pengkulturannya. Konsentrasi hormon pertumbuhan optimal yang ditambahkan ke dalam media tergantung pula dari eksplan yang dikulturkan serta kandungan hormon pertumbuhan endogen yang terdapat pada eksplan tersebut. Komposisi yang sesuai ini dapat diperkirakan melalui percobaan-percobaan yang telah dilakukan sebelumnya disertai percobaan untuk mengetahui komposisi hormon pertumbuhan yang sesuai dengan kebutuhan dan arah pertumbuhan eksplan yang diinginkan.
Hormon pertumbuhan yang digunakan untuk perbanyakan secara invitro adalah golongan auksin, sitokinin, giberelin, dan growth retardant. Auksin yang umum dipakai adalah IAA (Indole Acetic Acid), IBA (Indole Butyric Acid), NAA (Naphtalena Acetic Acid), dan 2,4-D (2,4-dichlorophenoxy Acetic Acid). Selain itu beberapa peneliti pada beberapa tanaman menggunakan juga CPA (Chlorophenoxy Acetic Acid). Sitokinin yang banyak dipakai adalah Kinetin (Furfuryl Amino Purine), BAP/BA (Benzyl Amino Purine/Benzyl Adenine), 2 i-P (2-isopentenyl Adenin). Beberapa sitokinin lainnya yang juga digunakan adalah zeatin, thidiazuron dan PBA (6(benzylamino)-9-(2-tetrahydropyranyl)-9H-purine). Hormon pertumbuhan golongan giberellin yang paling umum digunakan adalah GA3, selain itu ada beberapa peneliti yang menggunakan GA4 dan GA7, sedangkan growth retardant yang sering digunakan adalah Ancymidol, Paraclobutrazol dan TIBA, AbA dan CCC.
c. Keadaan fisik media.
Media yang umum digunakan dalam kultur jaringan adalah medium padat, medium semi padat dan medium cair. Keadaan fisik media akan mempengaruhi pertumbuhan kultur, kecepatan pertumbuhan dan diferensiasinya. Keadaan fisik media ini mempengaruhi pertumbuhan antara lain karena efeknya terhadap osmolaritas larutan dalam media serta ketersediaan oksigen bagi pertumbuhan eksplan yang dikulturkan.
Media yang umum digunakan dalam mikropropagasi adalah media semi-solid (semi padat) dengan cara menambahkan agar. Media semi padat ini digunakan karena beberapa alasan antara lain: eksplan yang kecil mudah terlihat dalam media padat, selama kultur eksplan tetap berada pada orientasi yang sama, eksplan berada di atas permukaan media sehingga tidak diperlukan teknik aerasi tambahan pada kultur, orientasi pertumbuhan tunas dan akar tetap, dan kalus tidak pecah seperti jika ditempatkan pada media cair. Namun penambahan agar dalam beberapa kasus dapat menghambat pertumbuhan karena: agar mungkin mengandung senyawa penghambat yang dapat menghambat morfogenesis beberapa kultur atau memperlambat pertumbuhan kultur, eksudasi fenolik dari eksplan terserap oleh media yang menempel dengan eksplan sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan eksplan, agar harus dicuci bersih dari akar sebelum diaklimatisasi, dan perlu waktu yang lebih banyak untuk mencuci gelas kultur misalnya botol-botol harus diautoclave untuk melarutkan agar sebelum dicuci.
3. Lingkungan tumbuh
a) Suhu.
Tanaman umumnya tumbuh pada lingkungan dengan suhu yang tidak sama setiap saat, misalnya pada siang dan malam hari tanaman mengalami kondisi dengan perbedaan suhu yang cukup besar. Keadaan demikian bisa dilakukan dalam kultur invitro dengan mengatur suhu siang dan malam di ruang kultur, namun laboratorium kultur jaringan selama ini mengatur suhu ruang kultur yang konstant baik pada siang maupun malam hari. Umumnya temperatur yang digunakan dalam kultur in vitro lebih tinggi dari kondisi suhu invivo. Tujuannya adalah untuk mempercepat pertumbuhan dan morfogenesis eksplan.
Pada sebagian besar laboratorium, suhu yang digunakan adalah konstan, yaitu 25°C (kisaran suhu 17-32°C). Tanaman tropis umumnya dikulturkan pada suhu yang sedikit lebih tinggi dari tanaman empat musim, yaitu 27°C (kisaran suhu 24-32°C). Bila suhu siang dan malam diatur berbeda, maka perbedaan umumnya adalah 4-8°C, variasi yang biasa dilakukan adalah 25°C siang dan 20°C malam, atau 28°C siang dan 24°C malam. Meskipun hampir semua tanaman dapat tumbuh pada kisaran suhu tersebut, namun kebutuhan suhu untuk masing-masing jenis tanaman umumnya berbeda-beda. Tanaman dapat tumbuh dengan baik pada suhu optimumnya. Pada suhu ruang kultur dibawah optimum, pertumbuhan eksplan lebih lambat, namun pada suhu diatas optimum pertumbuhan tanaman juga terhambat akibat tingginya laju respirasi eksplan.
b) Kelembaban relatif.
Kelembaban relatif dalam botol kultur dengan mulut botol yang ditutup umumnya cukup tinggi, yaitu berkisar antara 80-99%. Jika mulut botol ditutup agak longgar maka kelembaban relatif dalam botol kultur dapat lebih rendah dari 80%. Sedangkan kelembaban relatif di ruang kultur umumnya adalah sekitar 70%. Jika kelembaban relatif ruang kultur berada dibawah 70% maka akan mengakibatkan media dalam botol kultur (yang tidak tertutup rapat) akan cepat menguap dan kering sehingga eksplan dan plantlet yang dikulturkan akan cepat kehabisan media. Namun kelembaban udara dalam botol kultur yang terlalu tinggi menyebabkan tanaman tumbuh abnormal yaitu daun lemah, mudah patah, tanaman kecil-kecil namun terlampau sukulen. Kondisi tanaman demikian disebut vitrifikasi atau hiperhidrocity. Sub-kultur ke media lain atau menempatkan planlet kecil ini dalam botol dengan tutup yang agak longgar, tutup dengan filter, atau menempatkan silica gel dalam botol kultur dapat membantu mengatasi masalah ini.
c) Cahaya.
Seperti halnya pertumbuhan tanaman dalam kondisi invivo, kuantitas dan kualitas cahaya, yaitu intensitas, lama penyinaran dan panjang gelombang cahaya mempengaruhi pertumbuhan eksplan dalam kultur invitro. Pertumbuhan organ atau jaringan tanaman dalam kultur invitro umumnya tidak dihambat oleh cahaya, namun pertumbuhan kalus umumnya dihambat oleh cahaya.
Pada perbanyakan tanaman secara invitro, kultur umumnya diinkubasikan pada ruang penyimpanan dengan penyinaran. Tunas-tunas umumnya dirangsang pertumbuhannya dengan penyinaran, kecuali pada teknik perbanyakan yang diawali dengan pertumbuhan kalus. Sumber cahaya pada ruang kultur ini umumnya adalah lampu flourescent (TL). Hal ini disebabkan karena lampu TL menghasilkan cahaya warna putih, selain itu sinar lampu TL tidak meningkatkan suhu ruang kultur secara drastis (hanya meningkat sedikit). Intensitas cahaya yang digunakan pada ruang kultur umumnya jauh lebih rendah (1/10) dari intensitas cahaya yang dibutuhkan tanaman dalam keadaan normal. Intensitas cahaya dalam ruang kultur untuk pertumbuhan tunas umumnya berkisar antara 600-1000 lux. Perkecambahan dan inisiasi akar umumnya dilakukan pada intensitas cahaya lebih rendah.
Selain intensitas cahaya, lama penyinaran atau photoperiodisitas juga mempengaruhi pertumbuhan eksplan yang dikulturkan. Lama penyinaran umumnya diatur sesuai dengan kebutuhan tanaman sesuai dengan kondisi alamiahnya. Periode terang dan gelap umumnya diatur pada kisaran 8-16 jam terang dan 16-8 jam gelap tergantung varietas tanaman dan eksplan yang dikulturkan. Periode siang/malam (terang/gelap) ini diatur secara otomatis menggunakan timer yang ditempatkan pada saklar lampu pada ruang kultur. Dengan teknik ini penyinaran dapat diatur konstan sesuai kebutuhan tanaman.
4. Kondisi Eksplan
Pertumbuhan dan morfogenesis dalam mikropropagasi sangat dipengaruhi oleh keadaan jaringan tanaman yang digunakan sebagai eksplan. Selain faktor genetis eksplan yang telah disebutkan di atas, kondisi eksplan yang mempengaruhi keberhasilan teknik mikropropagasi adalah jenis eksplan, ukuran, umur dan fase fisiologis jaringan yang digunakan sebagai eksplan.
Meskipun masing-masing sel tanaman memiliki kemampuan totipotensi, namun masing-masing jaringan memiliki kemampuan yang berbeda-beda untuk tumbuh dan beregenerasi dalam kultur jaringan. Oleh karena itu, jenis eksplan yang digunakan untuk masing-masing kultur berbeda-beda tergantung tujuan pengkulturannya.
Umur eksplan sangat berpengaruh terhadap kemampuan eksplan tersebut untuk tumbuh dan beregenerasi. Umumnya eksplan yang berasal dari jaringan tanaman yang masih muda (juvenil) lebih mudah tumbuh dan beregenerasi dibandingkan dengan jaringan yang telah terdiferensiasi lanjut. Jaringan muda umumnya memiliki sel-sel yang aktif membelah dengan dinding sel yang belum kompleks sehingga lebih mudah dimodifikasi dalam kultur dibandingkan jaringan tua. Oleh karena itu, inisiasi kultur biasanya dilakukan dengan menggunakan pucuk-pucuk muda, kuncup-kuncup muda, hipokotil, inflorescence yang belum dewasa, dll. Jika eksplan diambil dari tanaman dewasa, rejuvenilisasi tanaman induk melalui pemangkasan atau pemupukan dapat membantu untuk memperoleh eksplan muda agar kultur lebih berhasil.
Ukuran eksplan juga mempengaruhi keberhasilan kultur. Eksplan dengan ukuran kecil lebih mudah disterilisasi dan tidak membutuhkan ruang serta media yang banyak, namun kemampuannya untuk beregenerasi juga lebih kecil sehingga dibutuhkan media yang lebih kompleks untuk pertumbuhan dan regenerasinya. Sebaliknya semakin besar eksplan, maka semakin besar kemungkinannya untuk membawa penyakit dan makin sulit untuk disterilkan, membutuhkan ruang dan media kultur yang lebih banyak. Ukuran eskplan yang sesuai sangat tergantung dari jenis tanaman yang dikulturkan, teknik dan tujuan pengkulturannya.
Senin, Juli 06, 2009
PENGARUH PUPUK NITROGEN DAN VARIETAS TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PADI (Oryza sativa L.)
ACARA IV
PENGARUH PUPUK NITROGEN DAN VARIETAS TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PADI (Oryza sativa L.)
A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Padi yang memiliki nama latin Oryza sativa, merupakan tanaman pangan nomor satu di Indonesia. Namun padi juga banyak dikonsumsi selain di Indonesia. Seperti negara Thailand yang merupakan lumbung padi Asia. Padi merupakan salah satu tanaman monokotil dan memiliki akar serabut, batang beruas, pertulangan daun sejajar dan biji berkeping satu.
Indonesia dengan rata-rata pertumbuhan penduduk 1,7 persen per tahun dan luas areal panen 11,8 juta hektar dihadapkan pada ancaman rawan pangan pada tahun 2030. Ketahanan pangan merupakan program utama pemerintah untuk mencukupi kebutuhan pangan seluruh penduduk yang menyangkut ketersediaaan dan keterjangkauan pangan dalam jumlah cukup serta bermutu. Program ini meliputi aspek pasokan yang mencakup produksi dan distribusi, aspek daya beli, dan keterjangkauan setiap penduduk terhadap pangan. Target dari program ketahanan pangan adalah meningkatkan produksi padi nasional agar seluruh kebutuhan beras dapat dipenuhi dari dalam negeri.
Krisnamurthi (2006), menjelaskan bahwa usaha peningkatan produksi padi dilakukan dengan peningkatan produktivitas padi di daerah yang belum optimal. Kendala yang ditemui dalam usaha peningkatan produktivitas padi tersebut adalah terbatasnya terobosan teknologi baru khususnya varietas unggul serta alih fungsi lahan subur untuk kepentingan industri, perumahan dan penggunaan lahan non pertanian lainnya.
Peningkatan luasan lahan pertanian dari tahun ke tahun mengalami penurunan, dengan prosentase 0,17% per tahun. Alih fungsi lahan mengakibatkan penurunan areal panen sebesar 0,9 persen di Indonesia (Wiganda, 2006).
2. Tujuan Praktikum
Praktikum acara pengamatan pertumbuhan tanaman padi (oryza sativa L), bertujuan untuk :
a. Mengenal dan mengetahui morfologi dan taksonomi tanaman padi.
b. Mengenal dan mengetahui fase-fase tanaman padi.
c. Menghitung anakan tanaman padi
3. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum acara pengamatan pertumbuhan tanaman padi (oryza sativa l), dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2009 di lahan Fakultas Pertanian Kecamatan Jumantono, Kabupaten Karanganyar.
B. Tinjauan Pustaka
Pangan merupakan kebutuhan manusia yang paling azasi, sehingga ketersediaan pangan bagi masyarakat harus selalu terjamin. Beras sebagai pangan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia dituntut tersedia dalam jumlah yang cukup, berkualitas, serta terjangkau. Kebutuhan beras nasional meningkat setiap tahunnya seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Kebutuhan beras nasional pada tahun 2007 mencapai 30,91 juta ton dengan asumsi konsumsi per kapita rata-rata 139 kg per tahun (Anonima, 2009).
Komoditas Padi di Indonesia, diantaranya ada padi pera, yaitu padi dengan kadar amilosa pada pati lebih dari 20% pada berasnya. Butiran nasinya jika ditanak tidak saling melekat. Lawan dari padi pera adalah padi pulen. Sebagian besar orang Indonesia menyukai nasi jenis ini dan berbagai jenis beras yang dijual di pasar Indonesia tergolong padi pulen. Penggolongan ini terutama dilihat dari konsistensi nasinya. Kedua yaitu Ketan (sticky rice), baik yang putih maupun merah/hitam, sudah dikenal sejak dulu. Padi ketan memiliki kadar amilosa di bawah 1% pada pati berasnya. Patinya didominasi oleh amilopektin, sehingga jika ditanak sangat lekat (Anonimb, 2009).
Fase pertumbuhan tanaman padi diantaranya periode vegetatif dan periode generatif. Periode vegetatif meliputi fase perkecambahan dan pembentukan anakan. Sedangkan periode generatif, meliputi fase masak susu, masak gabah/ kuning dan kelewat masak. Bagian tanaman padi secara morfologi, terdiri atas : akar, batang, pelepah, helaian daun, lidah daun/ ligula auricula/ telinga daun, bendera, buah dan bunga (Suardi, 2000).
Setiap bunga padi memiliki enam kepala sari. Kepala putik bercabang dua berbentuk seperti sikat botol. Kedua organ ini umumnya siap reproduksi dalam waktu yang bersamaan. Beberapa genotip padi yang ditanam di lahan pasang surut menghasilkan hasil yang berada di bawah rata-rata hasil pada lahan yang tidak tercekam. Tidak semua genotip tanaman padi cocok dengan lingkungannya (Hidayat, 2002).
Dari segi produksi, padi merupakan tanaman yang mempu melakukan penyerbukan sendiri, karena 95% atau lebih serbuk sari yang membuahi sel telur tanaman yang sama. Setelah terjadi pembuahan, zigot dan anti polar yang telah dibuahi segera membelah diri (Bucle et al, 2000).
Zigot akan berkembang membentuk embrio dan inti polar menjadi endospermia. Pada akhir perkembangan, sebagian besar bulir mengandung pati, yaitu di bagian endospermia. Tanaman padi yang masih muda, pati difungsikan sebagai cadangan makanan. Dan untuk manusia, pati dimanfaatkan sebagai sumber gizi dan karbohidrat (Suriadi, 2008).
C. Alat , Bahan dan Cara Kerja
1. Alat
Polybag
Cetok
2. Bahan
Tanah Dua varietas padi
Pupuk urea Pupuk KCL
Pupuk SP-36
3. Cara Kerja
a. Menyiapkan bibit padi dengan beberapa varietas yang berbeda.
b. Menyiapkan polybag dengan ukuran 30 x 20 cm, kemudian diisi dengan media tanam yang terdiri atas tanah dan kompos dengan perbandingan 2 : 1
c. Menyiram hingga lewat jenuh, tinggi air kira-kira 5 cm.
d. Menanam bibit padi dengan polybag.
e. Memupuk tanaman sesuai perlakuan.
f. Melakukan penyiraman setiap hari.
g. Memilih salah satu tanaman terbaik per lubang tanam setelah 1 minggu (penyulaman).
h. Melakukan pengamatan : tinggi tanaman, jumlah anakan, saat berbunga, panjang malai, jumlah biji per malai, berat biji per tanaman, berat 100 biji, hasil biji kering per rumpun.
D. Hasil dan Pembahasan
1. Hasil
Tabel 4. 1 Data Rekapan Padi
Varietas Dosis pupuk Replik Tinggi Jumlah anakan
1 0 1 64,5 5
1 0 2 64 2
1 0 3 52 3
1 100 1 93 10
1 100 2 85 14
1 100 3 89 12
1 150 1 78 12
1 150 2 85 8
1 150 3 78 13
1 200 1 83 13
1 200 2 90 13
1 200 3 92 24
1 250 1 91 19
1 250 2 93 10
1 250 3 115 7
2 0 1 72,5 2
2 0 2 66 0
2 0 3 74 2
2 100 1 87 28
2 100 2 87,5 14
2 100 3 86 12
2 150 1 100,5 13
2 150 2 85,5 7
2 150 3 93 10
2 200 1 90,5 14
2 200 2 75 12
2 200 3 91 8
2 250 1 87 8
2 250 2 96,5 10
2 250 3 83 18
Sumber : data rekapan
2. Pembahasan
Padi (Oryza sativa L.) merupakan salah satu jenis tanaman semusim dan tanaman pangan utama di Indonesia. Taksonomi dari tanaman padi, antara lain sebagai berikut :
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Gramineales
Famili : Gramineae
Genus : Oryza
Spesies : Oryza sativa L.
Varietas tanaman padi yang digunakan adalah varietas IR.64 dan varietas menthik dengan perlakuan N0 (tanpa pupuk urea), N1 (dengan 100 kg urea/ ha = 0,4 gram/ polybag) N2 (dengan 150 kg urea/ ha = 0,5 gram/ polybag) dan seterusnya. Jadi dari beberapa perlakuan tersebut dapat diakatakan bahwa, urea 1 gram/m2 = 0,04 gram/polybag.
Dari perlakuan V2N0 dapat diartikan bahwa varietas yang digunakan adalah varietas 2 (IR-64) dengan perlakuan tanpa pupuk urea (N0). Tinggi tanaman dari perlakuan V2N0 tersebut didapatkan tinggi tanaman padi berturut-turut dari 1 HST adalah 18,5 cm ; 35,75 cm; 47,5 cm; 57 cm; 64,4 cm; 66,8 cm; 74 cm; 74 cm; dan 74 cm. Hal ini berarti setiap minggunya tanaman padi mengalami pertambahan tinggi. Dengan total anakan untuk perlakuan V2N0 adalah 2 buah.
Apabila dibandingkan dengan perlakuan lain, seperti N1, N2, N3 dan N4, maka tinggi tanaman perlakuan N0 lebih rendah dari perlakuan lainnya tersebut. Hal ini disebabkan karena perlakuan N0 tanpa menggunakan pupuk urea (pupuk N), sedangkan untuk untuk perlakuan lainnya menggunakan pupuk urea pada berbagai dosis. Pupuk urea atau pupuk N merupakan salah satu pupuk yang berperan aktif dalam perkembangan vegetatif tumbuhan, seperti tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah daun, pembentukan tunas dan lain sebagainya.
Rusdi (2001), menjelaskan bahwa semakin tinggi pupuk urea yang diberikan ke tanaman, maka semakin tinggi suatu tanaman. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan data tinggi tanaman padi. Pada N0 rata-rata tingginya adalah 64,5 cm ; 64 cm dan; 52 cm. Pada N1 rata-rata tingginya adalah 93 cm; 85 cm; 89 cm, N2 rata-rata tingginya adalah 78 cm; 85 cm; 78,5 cm. Serta pada N4 rata-rata tingginya adalah 91 cm; 93 cm; 115 cm. Tinggi tanaman dengan perlakuan N0 lebih rendah dari perlakuan lainnya, yaitu perlakuan dengan dosis urea yang lebih tinggi.
Pada perlakuan N1 ternyata diperoleh data bahwa tinggi tanaman pada perlakuan tersebut lebih tinggi dari perlakuan N2, hal tersebut dimungkinkan karena kekurang-teraruran dalam hal penyiraman. Perlakuan N1 lebih sering disiram dari perlakuan N2, sehingga kebutuhan akan air terpenuhi.
Pada berbagai varietas, baik varietas 1 maupun varietas 2 ternyata tinggi tanaman dengan perlakuan N0 lebih rendah dari perlakuan lainnya. Tetapi, dilihat dari data rekapan, ternyata untuk tinggi tanaman varietas 1 (menthik) dengan varietas 2 (IR-64) berbeda. Tinggi tanaman varietas 1 rata-ratanya 83,53 cm, sedangkan untuk varietas 2 rata-rata tingginya adalah 85 cm. Tetapi, sesuai anova varietas padi tidak berbeda nyata terhadap tinggi tanaman padi.. Jadi dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi tinggi tanaman padi adalah dosis pupuk urea dan kebutuhan akan air.
Anakan pada tanaman padi, dibedakan menjadi anakan primer, sekunder, tersier dan sebagainya. Anakan primer merupakan anakan yang muncul pertama kali, kemudian disusul anakan kedua yang disebut anakan sekunder, kemudian tersier dan seterusnya (Anonimb, 2009).
Jumlah anakan pada perlakuan V2N0 adalah 2 buah, yang terdiri dari anakan primer. Sedikitnya jumlah anakan primer pada perlakuan V2N0 disebabkan karena tidak ditambahkannya urea pada perlakuan tersebut, sehingga pertumbuhan anakan juga tidak maksimal. Berbeda dengan perlakuan V2N1, V2N2 dan seterusnya, serta pada varietas 1 (V1). Semakin tinggi dosis pupuk urea yang diberikan maka semakin banyak pula anakan tanaman padi yang muncul. Untuk varietas dari tanaman padi, tidak berpengaruh nyata terhadap munculnya aknakan padi. (Sesuai dengan anova, didapat P = 0,843). Walaupun, pada hasil pengamatan, varietas 1 jumlah rata-rata anakan adalah 11, sedang pada varietas 2 adalah 10,53.
Anova hubungan antara tinggi tanaman padi dengan varietas, diperoleh P = 0,752. hal ini menunjukkan tidak berbeda nyata antara varietas dengan tinggi tanaman padi. Varietas tanaman tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman padi. Anova tinggi tanaman padi dengan dosis pupuk urea, menunjukkan bahwa dosis berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman (nilai P=0,000). Selain berpengaruh nyata pada tinggi tanaman, dosis pupuk urea juga berpengaruh nyata pada jumlah anakan padi (diperoleh P=0,0001). Untuk anova jumlah anakan padi terhadap varietas, tidak berbeda nyata, jadi varietas tidak mempengaruhi jumlah anakan padi yang muncul (diperoleh P=0,843)
Fase pertumbuhan padi diantaranya periode vegetatif (60-70hari), meliputi fase perkecambahan dan pembentukan anakan. Sedangkan periode reproduktif (30 hari), meliputi fase berbunga; Terakhir fase pemasakan (masak susu, masak gabah/ kuning dan kelewat masak). Bagian tanaman padi secara morfologi, terdiri atas : akar, batang, pelepah, helaian daun, lidah daun/ ligula auricula/ telinga daun, bendera, buah dan bunga (Suardi, 2000).
PENGARUH PUPUK NITROGEN DAN VARIETAS TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PADI (Oryza sativa L.)
A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Padi yang memiliki nama latin Oryza sativa, merupakan tanaman pangan nomor satu di Indonesia. Namun padi juga banyak dikonsumsi selain di Indonesia. Seperti negara Thailand yang merupakan lumbung padi Asia. Padi merupakan salah satu tanaman monokotil dan memiliki akar serabut, batang beruas, pertulangan daun sejajar dan biji berkeping satu.
Indonesia dengan rata-rata pertumbuhan penduduk 1,7 persen per tahun dan luas areal panen 11,8 juta hektar dihadapkan pada ancaman rawan pangan pada tahun 2030. Ketahanan pangan merupakan program utama pemerintah untuk mencukupi kebutuhan pangan seluruh penduduk yang menyangkut ketersediaaan dan keterjangkauan pangan dalam jumlah cukup serta bermutu. Program ini meliputi aspek pasokan yang mencakup produksi dan distribusi, aspek daya beli, dan keterjangkauan setiap penduduk terhadap pangan. Target dari program ketahanan pangan adalah meningkatkan produksi padi nasional agar seluruh kebutuhan beras dapat dipenuhi dari dalam negeri.
Krisnamurthi (2006), menjelaskan bahwa usaha peningkatan produksi padi dilakukan dengan peningkatan produktivitas padi di daerah yang belum optimal. Kendala yang ditemui dalam usaha peningkatan produktivitas padi tersebut adalah terbatasnya terobosan teknologi baru khususnya varietas unggul serta alih fungsi lahan subur untuk kepentingan industri, perumahan dan penggunaan lahan non pertanian lainnya.
Peningkatan luasan lahan pertanian dari tahun ke tahun mengalami penurunan, dengan prosentase 0,17% per tahun. Alih fungsi lahan mengakibatkan penurunan areal panen sebesar 0,9 persen di Indonesia (Wiganda, 2006).
2. Tujuan Praktikum
Praktikum acara pengamatan pertumbuhan tanaman padi (oryza sativa L), bertujuan untuk :
a. Mengenal dan mengetahui morfologi dan taksonomi tanaman padi.
b. Mengenal dan mengetahui fase-fase tanaman padi.
c. Menghitung anakan tanaman padi
3. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum acara pengamatan pertumbuhan tanaman padi (oryza sativa l), dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2009 di lahan Fakultas Pertanian Kecamatan Jumantono, Kabupaten Karanganyar.
B. Tinjauan Pustaka
Pangan merupakan kebutuhan manusia yang paling azasi, sehingga ketersediaan pangan bagi masyarakat harus selalu terjamin. Beras sebagai pangan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia dituntut tersedia dalam jumlah yang cukup, berkualitas, serta terjangkau. Kebutuhan beras nasional meningkat setiap tahunnya seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Kebutuhan beras nasional pada tahun 2007 mencapai 30,91 juta ton dengan asumsi konsumsi per kapita rata-rata 139 kg per tahun (Anonima, 2009).
Komoditas Padi di Indonesia, diantaranya ada padi pera, yaitu padi dengan kadar amilosa pada pati lebih dari 20% pada berasnya. Butiran nasinya jika ditanak tidak saling melekat. Lawan dari padi pera adalah padi pulen. Sebagian besar orang Indonesia menyukai nasi jenis ini dan berbagai jenis beras yang dijual di pasar Indonesia tergolong padi pulen. Penggolongan ini terutama dilihat dari konsistensi nasinya. Kedua yaitu Ketan (sticky rice), baik yang putih maupun merah/hitam, sudah dikenal sejak dulu. Padi ketan memiliki kadar amilosa di bawah 1% pada pati berasnya. Patinya didominasi oleh amilopektin, sehingga jika ditanak sangat lekat (Anonimb, 2009).
Fase pertumbuhan tanaman padi diantaranya periode vegetatif dan periode generatif. Periode vegetatif meliputi fase perkecambahan dan pembentukan anakan. Sedangkan periode generatif, meliputi fase masak susu, masak gabah/ kuning dan kelewat masak. Bagian tanaman padi secara morfologi, terdiri atas : akar, batang, pelepah, helaian daun, lidah daun/ ligula auricula/ telinga daun, bendera, buah dan bunga (Suardi, 2000).
Setiap bunga padi memiliki enam kepala sari. Kepala putik bercabang dua berbentuk seperti sikat botol. Kedua organ ini umumnya siap reproduksi dalam waktu yang bersamaan. Beberapa genotip padi yang ditanam di lahan pasang surut menghasilkan hasil yang berada di bawah rata-rata hasil pada lahan yang tidak tercekam. Tidak semua genotip tanaman padi cocok dengan lingkungannya (Hidayat, 2002).
Dari segi produksi, padi merupakan tanaman yang mempu melakukan penyerbukan sendiri, karena 95% atau lebih serbuk sari yang membuahi sel telur tanaman yang sama. Setelah terjadi pembuahan, zigot dan anti polar yang telah dibuahi segera membelah diri (Bucle et al, 2000).
Zigot akan berkembang membentuk embrio dan inti polar menjadi endospermia. Pada akhir perkembangan, sebagian besar bulir mengandung pati, yaitu di bagian endospermia. Tanaman padi yang masih muda, pati difungsikan sebagai cadangan makanan. Dan untuk manusia, pati dimanfaatkan sebagai sumber gizi dan karbohidrat (Suriadi, 2008).
C. Alat , Bahan dan Cara Kerja
1. Alat
Polybag
Cetok
2. Bahan
Tanah Dua varietas padi
Pupuk urea Pupuk KCL
Pupuk SP-36
3. Cara Kerja
a. Menyiapkan bibit padi dengan beberapa varietas yang berbeda.
b. Menyiapkan polybag dengan ukuran 30 x 20 cm, kemudian diisi dengan media tanam yang terdiri atas tanah dan kompos dengan perbandingan 2 : 1
c. Menyiram hingga lewat jenuh, tinggi air kira-kira 5 cm.
d. Menanam bibit padi dengan polybag.
e. Memupuk tanaman sesuai perlakuan.
f. Melakukan penyiraman setiap hari.
g. Memilih salah satu tanaman terbaik per lubang tanam setelah 1 minggu (penyulaman).
h. Melakukan pengamatan : tinggi tanaman, jumlah anakan, saat berbunga, panjang malai, jumlah biji per malai, berat biji per tanaman, berat 100 biji, hasil biji kering per rumpun.
D. Hasil dan Pembahasan
1. Hasil
Tabel 4. 1 Data Rekapan Padi
Varietas Dosis pupuk Replik Tinggi Jumlah anakan
1 0 1 64,5 5
1 0 2 64 2
1 0 3 52 3
1 100 1 93 10
1 100 2 85 14
1 100 3 89 12
1 150 1 78 12
1 150 2 85 8
1 150 3 78 13
1 200 1 83 13
1 200 2 90 13
1 200 3 92 24
1 250 1 91 19
1 250 2 93 10
1 250 3 115 7
2 0 1 72,5 2
2 0 2 66 0
2 0 3 74 2
2 100 1 87 28
2 100 2 87,5 14
2 100 3 86 12
2 150 1 100,5 13
2 150 2 85,5 7
2 150 3 93 10
2 200 1 90,5 14
2 200 2 75 12
2 200 3 91 8
2 250 1 87 8
2 250 2 96,5 10
2 250 3 83 18
Sumber : data rekapan
2. Pembahasan
Padi (Oryza sativa L.) merupakan salah satu jenis tanaman semusim dan tanaman pangan utama di Indonesia. Taksonomi dari tanaman padi, antara lain sebagai berikut :
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Gramineales
Famili : Gramineae
Genus : Oryza
Spesies : Oryza sativa L.
Varietas tanaman padi yang digunakan adalah varietas IR.64 dan varietas menthik dengan perlakuan N0 (tanpa pupuk urea), N1 (dengan 100 kg urea/ ha = 0,4 gram/ polybag) N2 (dengan 150 kg urea/ ha = 0,5 gram/ polybag) dan seterusnya. Jadi dari beberapa perlakuan tersebut dapat diakatakan bahwa, urea 1 gram/m2 = 0,04 gram/polybag.
Dari perlakuan V2N0 dapat diartikan bahwa varietas yang digunakan adalah varietas 2 (IR-64) dengan perlakuan tanpa pupuk urea (N0). Tinggi tanaman dari perlakuan V2N0 tersebut didapatkan tinggi tanaman padi berturut-turut dari 1 HST adalah 18,5 cm ; 35,75 cm; 47,5 cm; 57 cm; 64,4 cm; 66,8 cm; 74 cm; 74 cm; dan 74 cm. Hal ini berarti setiap minggunya tanaman padi mengalami pertambahan tinggi. Dengan total anakan untuk perlakuan V2N0 adalah 2 buah.
Apabila dibandingkan dengan perlakuan lain, seperti N1, N2, N3 dan N4, maka tinggi tanaman perlakuan N0 lebih rendah dari perlakuan lainnya tersebut. Hal ini disebabkan karena perlakuan N0 tanpa menggunakan pupuk urea (pupuk N), sedangkan untuk untuk perlakuan lainnya menggunakan pupuk urea pada berbagai dosis. Pupuk urea atau pupuk N merupakan salah satu pupuk yang berperan aktif dalam perkembangan vegetatif tumbuhan, seperti tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah daun, pembentukan tunas dan lain sebagainya.
Rusdi (2001), menjelaskan bahwa semakin tinggi pupuk urea yang diberikan ke tanaman, maka semakin tinggi suatu tanaman. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan data tinggi tanaman padi. Pada N0 rata-rata tingginya adalah 64,5 cm ; 64 cm dan; 52 cm. Pada N1 rata-rata tingginya adalah 93 cm; 85 cm; 89 cm, N2 rata-rata tingginya adalah 78 cm; 85 cm; 78,5 cm. Serta pada N4 rata-rata tingginya adalah 91 cm; 93 cm; 115 cm. Tinggi tanaman dengan perlakuan N0 lebih rendah dari perlakuan lainnya, yaitu perlakuan dengan dosis urea yang lebih tinggi.
Pada perlakuan N1 ternyata diperoleh data bahwa tinggi tanaman pada perlakuan tersebut lebih tinggi dari perlakuan N2, hal tersebut dimungkinkan karena kekurang-teraruran dalam hal penyiraman. Perlakuan N1 lebih sering disiram dari perlakuan N2, sehingga kebutuhan akan air terpenuhi.
Pada berbagai varietas, baik varietas 1 maupun varietas 2 ternyata tinggi tanaman dengan perlakuan N0 lebih rendah dari perlakuan lainnya. Tetapi, dilihat dari data rekapan, ternyata untuk tinggi tanaman varietas 1 (menthik) dengan varietas 2 (IR-64) berbeda. Tinggi tanaman varietas 1 rata-ratanya 83,53 cm, sedangkan untuk varietas 2 rata-rata tingginya adalah 85 cm. Tetapi, sesuai anova varietas padi tidak berbeda nyata terhadap tinggi tanaman padi.. Jadi dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi tinggi tanaman padi adalah dosis pupuk urea dan kebutuhan akan air.
Anakan pada tanaman padi, dibedakan menjadi anakan primer, sekunder, tersier dan sebagainya. Anakan primer merupakan anakan yang muncul pertama kali, kemudian disusul anakan kedua yang disebut anakan sekunder, kemudian tersier dan seterusnya (Anonimb, 2009).
Jumlah anakan pada perlakuan V2N0 adalah 2 buah, yang terdiri dari anakan primer. Sedikitnya jumlah anakan primer pada perlakuan V2N0 disebabkan karena tidak ditambahkannya urea pada perlakuan tersebut, sehingga pertumbuhan anakan juga tidak maksimal. Berbeda dengan perlakuan V2N1, V2N2 dan seterusnya, serta pada varietas 1 (V1). Semakin tinggi dosis pupuk urea yang diberikan maka semakin banyak pula anakan tanaman padi yang muncul. Untuk varietas dari tanaman padi, tidak berpengaruh nyata terhadap munculnya aknakan padi. (Sesuai dengan anova, didapat P = 0,843). Walaupun, pada hasil pengamatan, varietas 1 jumlah rata-rata anakan adalah 11, sedang pada varietas 2 adalah 10,53.
Anova hubungan antara tinggi tanaman padi dengan varietas, diperoleh P = 0,752. hal ini menunjukkan tidak berbeda nyata antara varietas dengan tinggi tanaman padi. Varietas tanaman tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman padi. Anova tinggi tanaman padi dengan dosis pupuk urea, menunjukkan bahwa dosis berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman (nilai P=0,000). Selain berpengaruh nyata pada tinggi tanaman, dosis pupuk urea juga berpengaruh nyata pada jumlah anakan padi (diperoleh P=0,0001). Untuk anova jumlah anakan padi terhadap varietas, tidak berbeda nyata, jadi varietas tidak mempengaruhi jumlah anakan padi yang muncul (diperoleh P=0,843)
Fase pertumbuhan padi diantaranya periode vegetatif (60-70hari), meliputi fase perkecambahan dan pembentukan anakan. Sedangkan periode reproduktif (30 hari), meliputi fase berbunga; Terakhir fase pemasakan (masak susu, masak gabah/ kuning dan kelewat masak). Bagian tanaman padi secara morfologi, terdiri atas : akar, batang, pelepah, helaian daun, lidah daun/ ligula auricula/ telinga daun, bendera, buah dan bunga (Suardi, 2000).
Langganan:
Postingan (Atom)